1
Handoko Gani MBA BAII LVA @LieDetectorID
Saya ingin menjelaskan sebuah trik neuro-marketing yg masih terkait dengan analisis perilaku, khususnya dalam konteks Politik. Anda perhatikan: 1) Mata manusia selalu terfokus melihat titik tengah sebuah benda. 2) Indonesia membaca selalu dari kiri ke kanan. Depan ke Belakang
Handoko Gani MBA BAII LVA @LieDetectorID
2) Nah sekarang perhatikan kiriman gambar sosmed, meme, spanduk atau banner di jalan yang memuat Pernyataan Ke-Netralan dalam Paslon. Kita berbicara dalam konteks "tidak curiga" bahwa Konseptor Spanduk atau Banner memang tidak paham trik di atas
Handoko Gani MBA BAII LVA @LieDetectorID
3) Namun, kita berbicara dari sisi ketidaksadaran Konseptor saat membuat spanduk tersebut. Bila ada gambar 2 paslon, Tokoh yg sebetulnya ia dukung ada di tengah atau dibuat lebih menonjol atau bila tidak ada gambar kedua paslon di tengah, maka tanpa sadar ada di kiri gambar
Handoko Gani MBA BAII LVA @LieDetectorID
4) Itu sebabnya kalo Anda perhatikan spanduk atau BillBoard seorang Caleg yang juga mendukung sang Paslon. Yang benar adalah sang Caleg akan meletakkan foto Paslon di sebelah kirinya, di atasnya, atau lebih besar ukuran fotonya dari foto dirinya.
Handoko Gani MBA BAII LVA @LieDetectorID
5) Bisa juga, gambar 2 paslon dibuat "adil" tetapi ada kutipan kata yang identik dengan salah satu paslon. Misalnya: tempe, tipis, atau ATM. Maka yg muncul di benak adalah: Sandiaga Uno, paslon 2 (tempe setipis kartu ATM)
Handoko Gani MBA BAII LVA @LieDetectorID
6) Bisa juga sebuah nada yang juga identik dengan salah satu paslon yang didukungnya. Misalnya: kalo Anda dengar lagu "Asian Games" kemarin, itu identik dengan Paslon 1.
Handoko Gani MBA BAII LVA @LieDetectorID
7) Itulah dunia neuro-marketing atau neuro-advertising yang sekarang merambah dunia kampanye politik caleg dan pilres juga. Hal itu bukanlah sebuah tabu, atau tipu-tipu. Itu sebuah strategi normal dalam beriklan.
Handoko Gani MBA BAII LVA @LieDetectorID
8) Dan itu selaras dengan prinsip Branding bahwa: brand bukan hanya nama pada sebuah produk. Brand adalah semua elemen yang terikat dengan persepsi konsumen tentang sang produk. Bisa "baju hitam putih". Bisa "motor" atau "kuda". Bisa "emak-emak". Bisa "jaket UKM". dsbnya.
Handoko Gani MBA BAII LVA @LieDetectorID
9) Nah sekarang perhatikan baik-baik. Paslon 2: Tempe sekarang setipis kartu ATM Paslon 1: Tempe sekarang masih tebel-tebel (Paslon 1 menggunakan elemen Paslon 2. Tiap kali ngomong soal Tempe, maka Paslon 2 ada di benak Audience)
Handoko Gani MBA BAII LVA @LieDetectorID
10) Paslon 2: Belanja 100 ribu sekarang cuma dapat .... Paslon 1: Belanja 100 ribu masih dapat .... (Paslon 1 lagi-lagi menggunakan elemen Paslon 2)
Handoko Gani MBA BAII LVA @LieDetectorID
11) Paslon 2: Harga barang pokok tidak stabil dan mahal. Paslon 1: Harga barang pokok stabil. Murah. (Paslon 1 lagi-lagi menggunakan elemen Paslon 2)
Handoko Gani MBA BAII LVA @LieDetectorID
12) Jadi, artinya dalam komunikasi pilpres ini, Paslon 1 dan timses nya ataupun pendukungnya sebetulnya mengkomunikasikan elemen branding Paslon 2. Sibuk mengklarifikasi tanpa mengkreasi = ter"setir" permainan branding. Sahut2an yang ter"setir" oleh Pelempar Isu duluan.
Handoko Gani MBA BAII LVA @LieDetectorID
13) Contoh naratif "seharusnya" ... Paslon 2: Tempe sekarang setipis kartu ATM. Belanja 100 ribu sekarang cuma dapat .... Harga barang pokok tidak stabil dan mahal Paslon 1: Kami mendorong "Ibu Cerdas Kreatif". (mengelola pengeluaran sesuai pemasukan dan kebutuhan keluarga)
Handoko Gani MBA BAII LVA @LieDetectorID
14) Saya bukan jubir. Saya hanya masyarakat biasa yang pingin lihat kampanye pilres yang sesuai ciri khas keunikan masing2 Paslon. Kenapa berat sebelah ? Kok cuma Paslon 1 yg dikasi saran ? Lho, Paslon 2 uda bener kok. Udah ngatur irama. Ya dilanjutkan saja, kalo yakin menang
Handoko Gani MBA BAII LVA @LieDetectorID
15) Jangan bangga dulu lho kalo sudah 55%+ ... Pemupukan pesan-pesan branding itu berbahaya lho bagi Petahana Brand. Bahkan, sekalipun kalah misalnya. Itu modal masa depan bagi Tokoh / Partai terkait. Orang-orang dunia branding pasti ngerti.
Handoko Gani MBA BAII LVA @LieDetectorID
16) Demikian unek-unek saya. Uda 3 tahun saya meninggalkan dunia marketing dan brand yg saya tekuni selama 13 tahun. Jadi, maafkan saya kalo ndak berkenan. Tenang...saya masih "bener". Wkakaka...

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.