1
GEOTIMES @the_geotimes
Perda Diskriminatif yang Mengorbankan Perempuan - geotimes.co.id/?p=534610
Iman Brotoseno @imanbr

Writer & Film Maker | founder @bicarafilm | Sukarnoism | Gooners | My blog https://t.co/R49OPB5pKT | contact : ibrotoseno@gmail.com

https://t.co/fLKblPQGrh
Iman Brotoseno @imanbr
Lilis Lindawati, ditangkap atas tuduhan melacur padahal sedang menunggu angkot. Secara tragis meninggal dunia karena depresi, malu. twitter.com/the_geotimes/s… pic.twitter.com/Sj2DYObyxB
Expand pic
Iman Brotoseno @imanbr
Kenangan Johermansyah Johan ( mantan Dirjen Otonomi Daerah ) ketika menyusun UU Otda. Perda syariat tak sesuai konstitusi, tapi marak, karena secara legal diajukan kepala daerah dan disetujui DRPD. Salah satu catatannya “ Oh Dunia, Semoga Indonesia tetap ada sampai akhir jaman “ pic.twitter.com/Vm8IBMB0so
Expand pic
Katia Wujis @katiawujis
@imanbr sepertinya pemerintah Indonesia perlu regulasi tentang pekerja seks komersial.
tunggal @tunggalp
@imanbr Lalu ada Putri dari Langsa yang bunuh diri karena malu ditangkap WH aceh.tribunnews.com/2012/09/11/seb…
arya gusti permana @aryagp42
@imanbr @AntoniRaja truuus mo legalin pelacuran dngn alasan menolak perda syariah geto???? udah ratingnya nyungsep tambah nyungsep aje lo @psi_id @grace_nat
Ameris Consultant @AmerisHR
Salah seorang korban "salah tangkap" bernama Lilis Lindawati, karyawan sebuah restoran di Cengkareng yang sedang... fb.me/2D27zxDh9

Meskipun telah disahkan pada 23 November 2005, Perda Anti Pelacuran baru diterapkan 27 Februari 2006 melalui sebuah operasi atau razia di malam hari. Mereka yang tertangkap disidangkan secara terbuka hari berikutnya, bertepatan dengan Hari Jadi Kota Tangerang. Dalam persidangan tindak pidana ringan itu terungkap bahwa aparat tramtib dan polisi telah salah menangkap perempuan "baik-baik" yang dicurigai sebagai pelacur.

Salah seorang korban "salah tangkap" bernama Lilis Lindawati, karyawan sebuah restoran di Cengkareng yang sedang hamil dua bulan. Ia ditangkap ketika sedang menunggu angkutan untuk pulang ke rumahnya. Lilis dijatuhi hukuman dengan tuduhan pelacur dan didenda Rp 300.000. Ia tak mampu membayar denda dan menghadirkan suaminya yang berprofesi sebagai guru SD sebagai saksi yang dapat menyangkal dakwaan itu sehingga ia dikenai hukuman kurungan selama tiga hari. Dalam kenyataannya, hukuman diperpanjang sehari dan Lilis baru dibebaskan pada hari keempat. Selain Lilis, tiga perempuan lain juga jadi korban salah tangkap.

Meski mereka kemudian dibebaskan sebelum disidangkan karena tak terbukti sebagai pelacur, penangkapan tersebut telah membuat ketiganya mengalami trauma. Lilis Lindawati kemudian menggugat Wali Kota Tangerang sebesar Rp 500 juta karena telah mencemarkan nama baiknya. Lilis juga melaporkan hakim yang mengadilinya ke Komisi Yudisial dan melaporkan aparat Dinas Keamanan dan Ketertiban yang menangkapnya. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, Lilis akhirnya meninggal dalam kondisi sakit-sakitan akibat peristiwa salah tangkap tersebut.

Comment

Mang Inoy @Mang_Inoy 19/11/2018 05:11:43 WIB
Trus kenapa salahin perda syariat, emang hukum selain syariat lebih baik ? Apakah ga pernah juga ada korban salah tangkap ? Seorang nenek yang di dakwa mencuri kayu di lahan perhutani, dll. Mikir..
Login and hide ads.