Add to Favorite
0
Login and hide ads.
Juventhy M Siahaan @advokatprubahan
Beberapa hari lalu saya sudah membahas mengenai apa itu Fintech dan bagaimana resiko Fintech pinjaman Online. Sekarang saya akan mengulas contoh kasus Fintech pinjaman online berdasarkan kasus riil yang ditangani oleh LBH AMIN. Contoh kasus FINTECH pinjaman Online -A Thread-
Juventhy M Siahaan @advokatprubahan
Kasus Fintech Pinjaman Online yg akan saya bahas ini, sebelumnya telah terlebih dahulu mendapat persetujuan dari si debitur (penerima bantuan hukum) untuk dipublikasikan sebagai contoh kasus Fintech Pinjaman Online sehingga ke depannya tidak ada lagi masyarakat yg menjadi korban.
Juventhy M Siahaan @advokatprubahan
Debitur bernama Ria (nama lengkap sy samarkan), karyawan sebuah salon yang berlokasi di Depok. Karena suatu keperluan, dia meminjam uang di Fintech Pinjaman Online R****i* *l**. Perusahan Fintech ini adalah perusahaan Fintech yang telah terdaftar di OJK. pic.twitter.com/b2YRfvf1vU
 Expand pic
Juventhy M Siahaan @advokatprubahan
Cara pengajuan pinjaman online ke perusahaan fintech pertama-tama adalah dengan menginstall aplikasi fintech pinjaman online tersebut, kemudian mengisi kolom data diri dan persyaratan, foto KTP dan memasukkan foto selfie kedalam aplikasi fintech pinjaman online tersebut.
Juventhy M Siahaan @advokatprubahan
Setelah semua kolom data yang ada di aplikasi dilengkapi, selanjutnya dalam beberapa jam pinjaman online tersebut cair dan ditransfer ke rekening Ria selaku debitur oleh perusahaan fintech pinjaman online tersebut.
Juventhy M Siahaan @advokatprubahan
Pinjaman yg diberikan adalah Rp. 1 juta rupiah, namun Ria hanya menerima 930 ribu karena alasan dipotong biaya administrasi. Pinjaman tersebut harus dikembalikan dalam tempo 1 bulan dengan besar Rp. 1,3 juta. Sehingga hanya dalam tempo 1 bulan, bunga pinjaman mencapai 30 persen.
Juventhy M Siahaan @advokatprubahan
Satu bulan kemudian, karena belum ada kemampuan untuk membayar pinjaman online tersebut, Ria tidak bisa langsung melakukan pembayaran sesuai perjanjian yaitu pada awal bulan Mei 2017. Adapun Ria baru bisa mulai mencicil utang yaitu pada bulan Juli 2017 sebesar Rp.500 ribu rupiah.
Juventhy M Siahaan @advokatprubahan
Dengan pencicilan 500 ribu tersebut, Ria berasumsi kalau sisa hutangnya tinggal 800 ribu ditambah bunga yg jumlahnya tidak signifikan. Pihak perusahaan Fintech sendiri juga tidak pernah menelpon dan mengingatkan Ria untuk segera melunasi sisa tagihan pinjaman online Ria tersebut.
Juventhy M Siahaan @advokatprubahan
Berselang 4 bulan kemudian, pihak perusahaan fintech menelpon Ria dan menyampaikan kalau tagihan Ria yg awalnya sisa 800 ribu membengkak menjadi Rp. 2,8 jt. Setelah pemberitahuan tsb, Ria melakukan beberapa kali pencicilan, hingga total yang sudah dibayarkan sebesar Rp. 1,4 juta.
Juventhy M Siahaan @advokatprubahan
Dengan anggapan bahwa jumlah yang sudah dia bayarkan telah melebihi ketentuan awal yang diperjanjikan yaitu Rp.1,3 juta rupiah, maka Ria keberatan dan tidak bersedia membayar sesuai jumlah yang diminta oleh perusahaan fintech pinjaman online tersebut yaitu Rp. 2,8 juta rupiah.
Juventhy M Siahaan @advokatprubahan
Selang beberapa hari bulan kemudian, tepatnya bulan Juli 2018, pihak Fintech kembali menelpon Ria dan menyampaikan bahwa hutang Ria telah membengkak menjadi 5 juta rupiah. Karena tidak sanggup dan keberatan dengan angka tersebut, Ria kembali menolak untuk membayar angka tersebut.
Juventhy M Siahaan @advokatprubahan
Ria kemudian menyampaikan kalau dia sudah beberapa mencicil utangnya dan total jumlah yang telah dia bayarkan bahkan sudah melebihi perjanjian awal. Selain itu Ria meminta agar diberikan kebijakan karena dia tidak punya kesanggupan untuk membayar dengan jumlah 5 juta rupiah.
Juventhy M Siahaan @advokatprubahan
Pihak debt collector menolak memberikan kebijakan yang dimohonkan oleh Ria. Debt collector perusahaan fintech justru malah mengancam Ria bahwa kalau dia tidak mau membayar maka mereka akan mendatangi salon tempat Ria bekerja dan akan membuat keributan agar costumer salon kabur.
Juventhy M Siahaan @advokatprubahan
Karena memang belum bisa membayar, pihak debt collector hampir setiap hari menelpon handphone Ria, juga ke salon tempat Ria bekerja, serta ke nomor kontak yang ada di handphone Ria dengan menjelek-jelekkan dengan mengatakan bahwa Ria penipu, tukang hutang yang mau kabur, dsb-dsb.
Juventhy M Siahaan @advokatprubahan
Ria juga bahkan pernah ditelepon oleh debt collector perusahaan fintech dan diancam akan dibunuh jika tidak segera melunasi tagihan 5 juta rupiah tersebut! Atas ancaman tersebut Ria ketakutan untuk pergi bekerja karena khawatir akan ancaman yang disampaikan debt collector tsb.
Juventhy M Siahaan @advokatprubahan
Saat ini Ria sudah meminta bantuan hukum kepada LBH AMIN dan dalam waktu dekat kami akan membuat pelaporan dan pengaduan kepada @ojkindonesia agar menertibkan perusahaan fintech pinjaman online tsb yang telah merugikan dan melakukan penagihan dgn cara-cara yang melanggar hukum.
Juventhy M Siahaan @advokatprubahan
Semoga kasus fintech pinjaman online yang dialami oleh Ria tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi masyarakat luas untuk semakin berhati-hati dan mempertimbangkan dengan lebih seksama sebelum memutuskan untuk mengajukan pinjaman online ke perusahaan fintech. 🙏
Tince Ana @t_anna
@advokatprubahan @ko2w Ini judulnya rentenir berkedok startup ya? Masalah terbesarnya mungkin literasi ya. Pas awal pinjam ga baca detail t&c nya 🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️
Cheerful Mama @juliana_admaja
@advokatprubahan YA AMPUUNN SEDIIHHHHHH BANGETT INI 😭😭😭😭😭😭😭
Juventhy M Siahaan @advokatprubahan
@t_anna @ko2w Kurang lebih demikian. Pinjaman online itu layaknya rentenir yang terorganisir, yang parahnya lagi, dalam penagihannya ternyata kerap tidak mengikuti aturan dan ketentuan hukum yang berlaku.
Login and hide ads.