1
tirto.id @TirtoID
Sebelumnya Tirto pernah mengeluarkan laporan mendalam tentang kasus pelecehan seksual di kampus. Berbagai tanggapan datang dan angkat bicara. Salah satunya Lara (20 thn, Bali) ia disudutkan dan pernah dipaksa bungkam. Namun kini tidak lagi. tirto.id/c9mA
tirto.id @TirtoID
Artikel ini adalah pemantik untuk Lara-lara lainnya di luar sana, kalian tak sendiri. Jika kamu/temanmu mengalami pelecehan seksual di kampus & kalian berkenan berbagi cerita, silakan kirim email ke penulis kami: adam@tirto.id atau DM @auliadam
tirto.id @TirtoID
Respons atas laporan Tirto tentang pelecehan di kampus membuktikan sebagian masyarakat Indonesia masih terjebak dalam tabiat menormalisasi kekerasan seksual atau rape culture. Kenyataannya: sanksi sosial lebih berat menekan korban ketimbang pelaku. tirto.id/c9cr
tirto.id @TirtoID
Kebanyakan guru masih lebih peduli pada masalah kesejahteraan profesi & kompetensi ketimbang isu perlindungan murid, terutama kekerasan seksual. Sampai kapan sekolah dan kampus akan menjadi tempat langganan pembawa trauma bagi anak-anakmu? tirto.id/c9mC
fahri salam @fahrisalam
.@auliadam menulis kisah pemerkosaan terhadap seorang mahasisiwi di Bali, yang dilakukan oleh dosen. Dosen merekam diam-diam foto dan video pribadi korban, diancam bakal disebarkan bila tak ingin menuruti kemauannya.
fahri salam @fahrisalam
Korban melawan rasa putus asanya dengan melaporkan kasus ini ke polisi. Ia takut setengah mati. Ia berusaha waras agar jauh dari pikiran bunuh diri. Korban mengisahkanya pada @auliadam. Ini seri kedua laporan kekerasan seksual di kampus yang kami rilis: tirto.id/kisah-kekerasa…
fahri salam @fahrisalam
Bagaimana metode @auliadam menulis kisah ini, terlampir di bagian akhir artikel: pic.twitter.com/Dql5Hma94J
Expand pic
Expand pic
Expand pic
fahri salam @fahrisalam
Mayoritas kampus di Indonesia memang masih belum memandang kekerasan seksual di lingkungannya sebagai poin penting. Banyak yang masih belum memihak korban bahkan ketika korban sudah berani menceritakan kasus yang dialaminya. Laporan ke-2: tirto.id/kampus-jadi-la…
fahri salam @fahrisalam
Sejumlah komentar di tautan medsos @TirtoID maupun surel ke @auliadam juga menceritakan pelecehan seksual tak cuma di kampus melainkan di sekolah. Bagaimana realitas di sekolah memandang kasus macam ini? Laporan ke-3: tirto.id/guru-cabul-amp…
Wan Ulfa Nur Zuhra @tabularasafa
Cerita tentang dosen yang menggunakan relasi kuasa untuk memperkosa dan mengancam mahasiswinya, lalu membungkus perkosaan itu menjadi seolah hubungan suka sama suka. Kalau di antara kalian ada yang pernah jadi korban dan mau speak up, sila hub @auliadam. tirto.id/kisah-kekerasa…

Kisah Kekerasan Seksual di Kampus: Melawan Relasi Kuasa Dosen Mesum

Sumber: https://tirto.id/kisah-kekerasan-seksual-di-kampus-melawan-relasi-kuasa-dosen-mesum-c9mA

Semula Lara, 20 tahun, mahasiswi IT, tak punya prasangka apa pun terhadap si dosen, seorang pria 26 tahun berinisial Ipes. Di mata para mahasiswa, si dosen terkenal supel dan punya cara mengajar yang asyik. Banyak mahasiswa senang bergaul dengannya, termasuk Lara. Ia pernah iseng mengajak beberapa teman sekelas dan si dosen untuk nonton di bioskop. Dari situ Lara dan Ipes menjadi teman.

Satu waktu Ipes mengajak Lara ke rumahnya, di daerah Gianyar, buat main Xbox. “Katanya ngajak temen-temennya yang waktu itu pernah nonton bareng. Aku pikir, kan, kalau main Just Dance bareng-bareng gitu okay aja. Dan itu di rumahnya dia. Dan ada emaknya, kan. Ya biasa aja sebenarnya,” cerita Lara, yang memang gemar gim dan punya hobi cosplay.

Buatnya, gim bukan cuma untuk laki-laki, “Aku punya banyak teman-teman cowok borju, yang punya banyak game di kamarnya. Dan biasa main bareng. Selama ini enggak pernah kejadian kenapa-kenapa,” katanya. “Buatku, lu sama gue main game, pegang konsol masing-masing, udah, beres. Aku selama ini ke rumah temen cowok, main game, jarang banget kontak fisik, lho.”

Namun, yang terjadi di kamar Ipes berbeda.

Teman-teman kampusnya yang kata Ipes akan datang belum ada yang tampak batang hidungnya saat Ipes pamit mandi. “Aku, kan, belum pernah nyentuh Xbox, aku anaknya Nintendo, ya udah aku kutak-katik duluan, kan,” cerita Lara, bersemangat.

Selesai Ipes mandi, teman-teman kampusnya masih belum datang. Ipes mendekatinya yang tengah main gim, dan duduk menempel. “Okay, this is weird, but still tolerable,” batin Lara. Ipes mulai menjurus mengobrol hal-hal “aneh,” ujarnya. “Ya, jorok, sih. Dan dia mulai mau meluk gitu.”

Waktu itu Lara diam saja. Tapi di kepalanya banyak hal berkelebat. Pertama, ini rumahnya dia. Kedua, dia dosen gue. Ia juga datang dengan dibonceng Ipes. Kalau aku gimana-gimana, nanti aku enggak bisa pulang. Tapi, akhirnya, ia berusaha mengalihkan perhatian. “Aku tuh kayak ... kita cuma dosen dan mahasiswa, lho, cuma mau main Xbox, doang. Terus, temen-temenmu mana? Tapi dia udah terus berusaha ngegodain ke situ,” kenang Lara.

Ia terus menolak hingga berhasil pulang. “Dengan selamat. Dianterin akhirnya. Tapi, teman-teman emang enggak jadi datang.”

Apa yang disebut "pertemanan" antara dosen dan mahasiswi ini sempat rikuh untuk beberapa saat. Tapi, si dosen meyakinkan Lara bahwa ia suka; bahwa tak apa jika perasaannya tak berbalas. “Aku bisa kok profesional ke kamu,” ujar Lara mengulang ucapan Ipes saat itu. Hubungan itu membaik. “Aku pikir, well, semua orang bisa tobat gitu, kan. Everyone deserves second chance, kan.”

Lara kembali menerima ajakan Ipes main Xbox karena “aku ketagihan main Xbox,” katanya kepada saya. Saat itu ia sudah punya pacar dan Ipes tahu. Hubungan pacarannya sudah berjalan 3,5 tahun. “Aku ingatin, jangan yang aneh-aneh lu, ya,” ujar Lara kepada si dosen.

Tapi, hari itu, tanpa banyak cakap, Ipes langsung menyerangnya. Akhirnya, mereka melakukan hubungan badan.

“Awalnya, aku mikir, ya sudah apa sih cuma dua-tiga kali doang, kan. Ya apa sih cuma ngorbanin dua-tiga kali gitu doang, daripada hidup lu enggak aman, kan, ya enggak apa-apa.” Hubungan itu sempat terjadi dua-tiga kali. Dan berlangsung di rumah Ipes. Lara sempat bingung dengan hubungan mereka tapi tahu kejadian itu bukan sesuatu yang ia inginkan.

Maka, “akhirnya aku beneran nolak. Kayak cuma dua-tiga kali mau diajak gituan. Setelah itu aku selalu cari alasan supaya enggak perlu ketemu dan enggak kayak gitu lagi.”

Masih banyak orang yang menganggap perkosaan dalam pacaran adalah bualan belaka. Alasannya, aktivitas seksual mereka dianggap “suka sama suka”. Ini ditambah belum ada aturan hukum yang mengakomodasi kasus kekerasan dalam pacaran. Apalagi seperti yang dialami Lara. Ia mengaku tak pernah punya komitmen serius dengan Ipes sebab ia sudah punya pacar saat itu.

“Enggak pernah ada komitmen. Cuman, aku sempat ingat, dia tanya tentang pacarku, 'Apa aku masih pacaran atau enggak?' Aku jawab, Iya. Terus dia bilang, 'Enggak apa-apa kok kakak jadi pacar keduamu aja.' Mungkin sejak itu ... dia mikir sendiri.”

Usaha Lara menjauhi Ipes cuma berhasil beberapa bulan. Ipes memang tak lagi mengajak Lara ke rumahnya. Tapi, Ipes pernah terus-terusan meneleponnya, lama-lama sebagai teror, yang diabaikannya.

Sampai suatu malam, ada panggilan video ke ponsel Lara. Lara mengira, Ipes dalam keadaan darurat sehingga ngotot ingin bicara. Setelah diangkat, ternyata Ipes sedang telanjang.

Saat itu Lara berada di kamar, dan ia berkata kepada Ipes bahwa ada adiknya, demi mengusir tindakan pelecehan seksual tersebut. "Ada apa?" tanya Lara.

Ipes menjawab: Kamu masih pacaran sama pacar kamu yang itu?

Masih. Kenapa?

Kayaknya aku masih sayang deh sama kamu.

Lara segera mematikan telepon. "Di situ deh kayanya dia marah,” ujarnya.

Pada awal Juni, sebuah pesan muncul ke nomor Line Lara. Dari Ipes. Si dosen mengirim foto telanjang Lara, yang diambilnya diam-diam. Ipes mengajaknya bertemu.

Percakapan terakhir mereka di kanal Line terjadi pada awal Mei. Lara kaget setengah mati. Tapi ia masih berusaha tenang menanggapi percakapan Ipes. Ia ingin tahu apa tujuan si dosen.

Si dosen secara terus terang ingin mengajaknya tidur dan mengancam akan menyebarkan foto itu kepada orang terdekat Lara. Ia juga memiliki video Lara tanpa busana.

“Aku pura-pura bego aja. Ngarahin pembicaraan ke anjing baru. Terus dia ngirim video ternyata. Dia diam-diam ngerekam. Dia punya dua HP.”

Singkat cerita, Lara akhirnya bertemu dengan Ipes di Denpasar. Ia mengingat di galeri foto salah satu ponsel Ipes memang pernah melihat ada fotonya dan minta dihapus. Pada pertemuan itu, Lara berkata, *"Ini apa? Kok ada foto gue? Udah dihapus kok elu masih punya, sih?"

  • "Ya, kan saya dosen IT, dengan gampang saya bisa nge-retrieved," ujar Lara, meniru ucapan si dosen yang mampu memulihkan kembali foto atau file di ponsel yang sudah dihapus.

Para pertemuan itu Ipes pegang-pegang tangan dan pipi Lara, juga kembali mengajak seks, serta minta nikah.

“Aku sempat mikir, apa aku baiknya datang aja, ya? Kayak dulu lagi lah. Kayak memperpanjang hidupku yang sempat tenang itu,” ujar Lara. Tapi, pikiran macam ini ditolak sendiri oleh Lara.

Ipes masih bersikeras mengajak Lara untuk jalan. Saat ditanya ke mana, si dosen menjawab: hotel. Lara menolak.

Ipes juga memaksa Lara untuk pergi satu motor, tapi Lara mengancam lebih baik ia tak jadi pergi. Mereka sempat makan sebelum akhirnya Lara berhasil kabur.

Sesampai di rumah, Ipes kembali mengontak nomor Line Lara, berisi ancaman bahwa ia akan menyebarkan foto pribadinya ke orang-orang terdekat Lara; bahwa keputusan bukan di tangan Lara; bahwa Lara harus tunduk pada kemauan Ipes.

Lara berontak, menjawab: Kamu harusnya lebih baik dari ini...

Dalam dokumen yang kami peroleh dari kasus ini, Ipes juga berkata kepada Lara bahwa ia telah menyimpan foto dan video Lara di server tertentu yang hanya bisa diakses olehnya. Sehingga, kata Ipes, dalam satu klik gampang tersebar.

Lara berkata sampai kapan ancaman itu berlaku? Ipes akan menjawabnya jika Lara mau diajak ketemu. Lara juga bertanya, bagaimana ia tahu Ipes tak akan menyebarkan video dan foto itu setelah ia menuruti permintaannya. Ipes menjawab, kembali dengan nada ancaman serupa: Keputusan bukan di tangan Lara, tapi di tangan si dosen.

“Aku sempat mikir, apa aku baiknya datang aja, ya? Kayak dulu lagi lah. Kayak memperpanjang hidupku yang tenang itu. Tapi aku mikir, harga diriku itu tempatnya bukan di kemaluan. Harga diriku itu: rela enggak aku terus-terusan diinjak-injak sama orang ini,” ujar Lara.

Lara menolak keinginan Ipes. Ia mengadu kepada ayahnya. Empat hari kemudian, mereka melaporkan ancaman Ipes ke kantor polisi.

URL tirto.id 477 Kisah Kekerasan Seksual di Kampus: Melawan Relasi Kuasa Dosen Mesum - Tirto.ID Seorang mahasiswi di Bali diajak berhubungan seks oleh dosennya dan diancam foto pribadinya bakal disebarkan.

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.