0
Yusril Ihza Mahendra @Yusrilihza_Mhd
Soal Kasus Oesman Sapta, KPU Bingung Harus Ikuti MK atau MA kom.ps/AFyjq2
URL KOMPAS.com 148 Soal Kasus Oesman Sapta, KPU Bingung Harus Ikuti MK atau MA - Kompas.com MA mengabulkan gugatan Oesman Sapta soal pencoretan namanya sebagai calon anggota DPD oleh KPU. Sementara MK melarang politisi maju sebagai caleg DPD.
Yusril Ihza Mahendra @Yusrilihza_Mhd
1. Putusan MK melarang pengurus parpol nyaleg DPD. KPU terbitkan PKPU 26 Tahun 2018 yang berlakukan putusan MK itu retroaktif (surut). OSO sudah mendaftar dan memenuhi syarat. Namanya ada dalam DCS.
Yusril Ihza Mahendra @Yusrilihza_Mhd
2. MA batalkan PKPU 26 sejauh pemberlakuan surut Putusan MK. Jadi putusan MK pengurus Parpol tdk boleh nyaleg DPD tetap berlaku sebagaimana dituangkan lagi dalam PKPU, tetapi MA nyatakan berlakunya untuk Pemilu 2024, bukan untuk Pemilu 2019. Gitu aja kok bingung..
Yusril Ihza Mahendra @Yusrilihza_Mhd
3. Putusan MA tidaklah membatalkan Putusan MK. Yang diuji MA adalah PKPU No 26 Tahun 2018. MA bukan menguji Putusan MK. Pemberlakuan surut Putusan MK itu bertentangan dengan Pasal 28 UUD 1945. Juga bertentangan dengan Pasal 47 UU MK yang menyatakan Putusan MK berlaku ke depan
Yusril Ihza Mahendra @Yusrilihza_Mhd
4. Bahwa hukum tidak boleh berlaku surut itu dirumuskan dari asas2 hukum di dalam al Qur’an. Allah tidak akan menghukum suatu kaum sebelum Dia mengutus seorang Rasul kepada mereka dan mengajari mereka mana yg benar dan mana yg salah. Allah tidak ingin berlaku zallm kpd kaum itu.
Yusril Ihza Mahendra @Yusrilihza_Mhd
6. Itu ayat2 al Qur’an yang menegaskan bahwa hukum tidak berlaku surut. Pemberlakuan surut adalah kezaliman. Asas “tidak ada suatu perbuatan dapat dihukum kecuali dinyatakan dalam UU sebelum perbuatan itu terjadi” dlm hukum Romawi adalah paralel dengan dalil Al Qur’an

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.