3
DarkAgesBegin @wandi_wi
@istiyantomr @haikal_hassan Ga usah melebar Itu bendera Yg buat Rosulullah bersama sahabat, lalu umat mencontoh, memuliakan dan mengamalkan Jagan dibuat Pilihan, keduanya Beda konteks Dan Kebetulan sekarang diapakai HTI tp bukan berarti itu bendera HTI The End
Nadirsyah Hosen @na_dirs
Saya sudah jelaskan sejak lama masalah kualitas Hadits seputar bendera Rasulullah seperti ada di tautan ini: A. duta.co/soal-bendera-r… B. nadirhosen.net/kehidupan/nega… Ada kajian lain yg lebih detil yg kesimpulannya pun sama dg tulisan saya di atas

Soal Bendera Rasulullah, Gus Nadir: Jangan Mau Dibohongi ISIS dan HTI

SURABAYA | duta.co – Tidak semua orang memperhatikan Panji Rasulullah yang dikibarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) akhir-akhir ini. Tetapi tidak bagi Dr H Nadirsyah Hosen, LLM, MA (Hons), PhD, alias Gus Nadir. Rois Syuriuah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand serta Dosen Senior Monash Law School ini memberikan catatan menarik tentang panji yang diklaim HTI sebagai bendera Nabi tersebut.

Seperti disampaikan Ketua HTI Kabupaten Trenggalek, dr Fahrul Ulum, bahwa, kegiatan yang digelar HTI sebenarnya hanyalah edukasi ketauhidan dengan mengingatkan sejarah keislaman di zaman Nabi Muhammad saw.

“Melalui kegiatan itu HTI melakukan kirab Panji Rasulullah, yakni Panji Al-Liwa’ yang berwarna putih dan Ar-Royah yang berwarna hitam. Dua panji ini selalu dibawa Rasulullah ke mana pun pergi sebagai simbol perjuangan dan syiar yang dilakukan kala itu,” kata Fahrul menjelaskan kepada antara melalui sambungan telepon.

Tentang konsep khilafah, HTI sifatnya memberikan tawaran. Logikanya sama seperti tawaran menggunakan listrik, berhemat dalam pemaikaiannya dan sebagainya. Artinya dalam dinamikanya tawaran itu bisa saja diterima atau ditolak, sehingga kami (HTI) mengedepankan dialog, katanya.

sumber:
https://duta.co/soal-bendera-rasulullah-gus-nadir-jangan-mau-dibohongi-isis-dan-hti/

Penjelasan Soal Hadits Nabi dan Bendera Khilafah HTI – ISIS

16 Sep 2018 3540 views 13 Comments
ISIS dan HTI sama-sama mengklaim bendera dan panji yg mereka miliki adalah sesuai dg Liwa dan rayah-nya Rasulullah. Benarkah? enggak! Kalau klaim mereka benar, kenapa bendera ISIS dan HTI berbeda design dan khat tulisan arabnya? Ayoooo

Secara umum hadits-hadits yg menjelaskan warna bendera Rasul dan isi tulisannya itu tidak berkualitas shahih. Riwayatnya pun berbeda-beda: ada yg bilang hitam saja, ada yg bilang putih saja, ada riwayat yg bilang hitam dan putih, malah ada yang bilang merah dan juga kuning. Riwayat lain bendera itu gak ada tulisan apa-apa. Jadi gak ada tulisan tauhidnya, cuma kosong saja. Riwayat lain bilang ada tulisan tauhidnya. Riwayat seputar ini banyak sekali, dan para ulama sudah memberikan penilaian. Secara umum tidak berkualitas sahih.

Dalam sejarah Islam juga kita temukan fakta yang berbeda lagi. Ada yg bilang Dinasti Umayyah pakai bendera hijau, Dinasti Abbasiyah pakai hitam, dan pernah juga berwarna putih. Apa mau bilang para Khalifah ini tidak mengikuti bendera Rasul? Ribet kan!

Jadi yang mana bendera khilafah? Yah tergantung anda mau merujuk ke Khilafah Umayyah atau Abbasiyah? Gak ada hal yang baku soal bendera ini. Coba saja buka kitab Ahkamus Sulthaniyah karya Imam Mawardi: apa ada pembahasan soal bendera negara Khilafah? Enggak ada! Kenapa yang gak ada terus mau diada-adakan seolah menjadi urusan syariat? Mau bilang Imam al-Mawardi gak paham soal ini? Nah, tambah ribet kan!

Konteks bendera dan panji dipakai Rasul itu sewaktu perang untuk membedakan pasukan Rasul dengan musuh. Bukan dipakai sebagai bendera negara. Jadi kalau ISIS dan HTI tiap saat mengibarkan liwa dan rayah, emangnya kalian mau perang terus? Kok kemana-mana mengibarkan bendera perang?

Kalau dianggap sebagai bendera negara khilafah, kita ini NKRI, sudah punya bendera merah putih. Masak ada negara dalam negara?! Ini namanya makar! Bahkan ada tokoh HTI yang mempertanyakan apa ada haditsnya bendera RI yang berwarna merah-putih? Nah kan, kelihatan makarnya, sudah mereka tidak mau menerima Pancasila dan UID 1945, sekarang mereka juga menolak bendera merah-putih. Jadi, yang syar’i itu bendera HTI, begitu maunya mereka, padahal urusan bendera ini bukan urusan syari’at.

Sekarang bagaimana status hadits soal bendera ini? Kita bahas singkat saja biar gak makin ribet membacanya.

Hadits riwayat Thabrani dan Abu Syeikh yg bilang bendera Rasul hitam dan panjinya putih itu dhaif. Mengapa demikian? Riwayat Thabrani ini dhaif karena ada rawi yg dianggap pembohong yaitu Ahmad bin Risydin. Bahkan kata Imam Dzahabi, dia pemalsu hadits.

Riwayat Abu Syeikh dari Abu Hurairah itu dhaif karena kata Imam Bukhari rawi yg namanya Muhammad bin Abi Humaid itu munkar.

Riwayat Abu Syeikh dari Ibn Abbas menurut Ibn Hajar dalam kitabnya Fathul Bari, sanadnya lemah sekali.

‎وجنح الترمذي إلى التفرقة فترجم بالألوية وأورد حديث جابر ” أن رسول الله صلى الله عليه وسلم دخل مكة ولواؤه أبيض ” ثم ترجم للرايات وأورد حديث البراء ” أن راية رسول الله صلى الله عليه وسلم كانت سوداء مربعة من نمرة ” وحديث ابن عباس ” كانت رايته سوداء ولواؤه أبيض ” أخرجه الترمذي وابن ماجه ، وأخرج الحديث أبو داود ، والنسائي أيضا ، ومثله لابن عدي من حديث أبي هريرة ، ولأبي يعلى من حديث بريدة ، وروى أبو داود من طريق سماك عن رجل من قومه عن آخر منهم ” رأيت راية رسول الله صلى الله عليه وسلم صفراء ” ويجمع بينها باختلاف الأوقات ، وروى أبو يعلى عن أنس رفعه ” أن الله أكرم أمتي بالألوية ” إسناده ضعيف ، ولأبي الشيخ من حديث ابن عباس ” كان مكتوبا على رايته : لا إله إلا الله محمد رسول الله ” وسنده واه

Kalau sudah Ibn Hajar yang komentar soal hadits, HTI dan ISIS mau ngeles apa lagi? Jangan marah sama saya, saya hanya mengutip pendapat Ibn Hajar yang otoritasnya dalam ilmu Hadits sangat diakui dalam dunia Islam. Kalau ada ulama yg menyatakan hadits Abu Syeikh ini sahih, ya silakan saja. Saya lebih percaya dengan Ibn Hajar daripada dengan ulama HTI.

Komentar Ibn Hajar di atas itu telak sekali. Semoga ini membuka mata para kader HTI, yang sudah dibubarkan pemerintah itu. Bendera HTI dan juga ISIS tidak memliki landasan yang kuat. Tidak ada perintah Rasulullah untuk kita mengangkat bendera semacam itu; tidak ada kesepakatan mengenai warnanya, dan apa ada tulisan atau kosong saja, dan tidak ada kesepakatan dalam praktek khilafah jaman dulu, serta para ahli Hadits seperti Ibn Hajar menganggap riwayatnya tidak sahih.

Katakanlah ada tulisannya, maka tulisan khat jaman Rasul dulu berbeda dengan di bendera ISIS dan HTI. Jaman Rasul, tulisan al-Qur’an belum ada titik, dan khatnya masih pra Islam yaitu khat kufi. Makanya meski mirip, bendera ISIS dan HTI itu beda khatnya. Kenapa ayo? Kan sama2 mengklaim bendera Islam? Itu karena tulisan khat-nya rekaan mereka saja. Gak ada contoh yg otentik dan sahih bendera Rasul itu seperti apa. Itu rekaan alias imajinasi orang-orang ISIS dan HTI berdasarkan hadits-hadits yg tidak sahih

Jadi jangan mau dibohongin yah sama bendera Islam-nya HTI dan ISIS.

Perkara ini bukan masuk kategori syari’ah yg harus ditaati. Gak usah ragu menurunkan bendera HTI dan ISIS. Itu bukan bendera Islam, bukan bendera Tauhid.

Tapi ada tulisan tauhidnya? Masak kita alergi dengan kalimat tauhid? Itu hanya akal-akalan mereka saja. Untuk mengujinya gampang saja, kenapa HTI gak mau mengangkat bendera ISIS dan kenapa orang ISIS tidak mau mengibarkan bendera HTI padahal sama-sama ada kalimat Tauhid-nya? Itu karena sifat sebuah bendera di masa modern ini sudah merupakan ciri khas perangkat dan simbol negara. Misalnya warga Indonesia tidak mau mengangkat bendera Belanda atau lainnya. Bukan karena benci dengan pilihan warna bendera mereka, tapi karena itu bukan bendera negara kita.

Bendera itu merupakan ciri khas sebuah negara. Apa HTI dan ISIS mau mengangkat bendera berisikan kalimat Tauhid yang khat dan layout-nya berbeda dengan ciri khas milik mereka? Atau angkat saja deh bendera Arab Saudi yang juga ada kalimat Tauhidnya. Gimana? Gak bakalan mau kan. Karena bendera sudah menjadi bagian dari gerakan mereka. Maka jelas bendera ISIS dan HTI bukan bendera Islam, bukan bendera Rasul, tapi bendera ISIS dan HTI.

Itu sebabnya Habib Luthfi bin Yahya dengan tegas meminta bendera HTI diturunkan dalam sebuah acara. Mursyid yang juga keturunan Rasulullah ini paham benar dengan sejarah dan status hadits soal bendera ini.

Saya ikut pendapatnya Imam Ibn Hajar dan ikut sikap Habib Luthfi.

Tabik,

Nadirsyah Hosen

sumber:
http://nadirhosen.net/kehidupan/negara/penjelasan-soal-hadits-nabi-dan-bendera-khilafah-hti-isis

Nadirsyah Hosen @na_dirs
Kajian dari PERSIS: abu-quthbie.blogspot.com/2017/12/kritik… Kesimpulannya: “tidak ada satu haditspun yang shahih yang menerangkan tentang warna bendera rasul dan bertuliskan kalimat TAUHID”

ABSTRAK

Beredar beberapa hadits dengan redaksi yang beragam terkait panji atau liwa Rasulullah Saw. Berawal dari sebuah hadits yang menerangkan awal penggunaan bendera pada masa Islam, yaitu ketika Rasulullah pertama kali masuk ke kota Yatsrib. Dimana golongan Anshar meminta agar Rasulullah Saw membawa sesuatu yang mampu menunjukkan bahwa itu Rasulullah Saw ketika masuk ke kota tersebut. Rasulullah kemudian menggunakan imamahnya yang diletakkan di sebuah kayu sebagai simbol bahwa itu adalah Rasul Saw. kemudian dalam redaksi lain bahwa Rasulullah Saw menjadikan sorbannya yang berwarna hitam ketika Futuh Makkah. Terdapat pula hadits dengan redaksi lain yang diterima dari Jabir yang menerangkan bahwa bendera Rasul saat masuk Makkah berwarna putih. Dalam haditsnya Ibn Abbas diterangkan warnanya hitam. Terdapat pula dengan redaksi bahwa bendera Rasulullah Saw itu bertuliskan kalimat Laa ilaaha illallaah Muhammadu ar-rasuulullaah. Dari sekian banyaknya hadits yang beredar terkait bendera Rasul, apakah derajatnya shahih sehingga bisa dikompromikan satu sama lainnya atau hadits-haditsnya berderajat dhaif dan bagaimana pandangan para ulama muhadditsin terkait derajat hadits bendera rasul.

A. PENDAHULUAN
Al-Royah dan Al-Liwa bahasa berarti bendera. Secara istilah bendera adalah sepotong kain atau kertas segi empat atau segitiga yang diikatkan pada ujung tongkat, tiang, dan sebagainya, dan dipergunakan sebagai lambang negara, perkumpulan, badan, dan sebagainya, atau sebagai tanda, panji-panji, tunggul. Dalam beberapa kamus Arab-Indonesia disebutkan bahwa antara al-’Alam, al-Royah, dan al-Liwa’bermakna sama yaitu bendera, padahal ketiga kata tersebut mempunyai makna yang berbeda. Menurut Ibnu al-Manzhur dalam Lisan al-’Arab, al-Fairuz Abadi dalam Qamus al-Muhith, Ibnu al-’Atsir dalam kitabnya al-Nihayah fi Gharib al-’Atsar, dan juga Ibnu Hajar dalam kitab Fath al-Bari-nya mengatakan bahwa antara al-Royah dan al-Liwa’ itu sama dari segi makna, yang mana ia adalah panji yang dipegang oleh pemimpin pasukan.
Menurut al-Mubarakfuri dalam kitab Tuhfat-nya mengatakan bahwa al-Liwa’ adalah bendera perang yang terbuat sepotong kain yang terikat di tengah-tengah tombak, sedangkan al-Rayah adalah bendera perang yang berada di atas al-Liwa’. Menurut al-Turbusi, sebagaimana dikutip oleh al-Mubarakfuri, al-Rayat adalah bendera perang yang mana para tentara berperang di bawah naungannya dan condong kepadanya sebagai kode pertempuran dan kode kemenangan. Sedangkan al-Liwa’ adalah bendera yang digunakan pemimpin untuk mengumpulkan pasukan perang. Imam al-Nawawi dalam kitab Syarh Muslimmengatakan bahwa al-Rayat itu bendera yang berukuran kecil, sedangkan al-Liwa’ itu bendera yang berukuran besar.
Dari beberapa pengertian di atas kita dapat simpulkan bahwa al-Royah dan al-Liwa’ itu adalah sebuah bendera yang dipakai oleh pemimpin perang dan mempunyai ukuran, fungsi serta peletakan yang berbeda. Jika berukuran kecil maka disebut al-Royah dan jika berukuran besar maka disebut al-Liwa’. Al-Royah diletakkan di ujung tombak sedang al-Liwa’ di bawah al-Royah, dan juga al-Liwa’ digunakan untuk mengumpulkan pasukan perang sedang al-Royah untuk mengkomandoi pasukan ketika perang.

B. TAKHRIJ DAN KRITIK HADITS BENDERA RASUL

  1.  Hadits panji Rasulullah berwarna hitam dan benderanya berwarna putih

عن ابن عباس قال: كانت راية رسول الله صلى الله عليه وسلم سوداء، ولواؤه أبيض

Dari Ibnu Abbas, beliau berkata: “Panji Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berwarna hitam dan benderanya berwarna putih”. (HR. Tirmidzi no. 1651, Ibnu Majah no. 2818, Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra no. 13061, dll)

TAKHRIJ HADITS
Musnad Abi Ya’la no. 2370
2370 - حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْحَجَّاجِ، حَدَّثَنَا حَيَّانُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ حَيَّانَ أَبُو زُهَيْرٍ الْعَدَوِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو مِجْلَزٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: وَحَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ: «أَنَّ رَايَةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَتْ سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضَ»

Sunan Ibn Majah no. 2818
2818 - حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِسْحَاق الْوَاسِطِيُّ النَّاقِدُ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ إِسْحَاق، عَنْ يَزِيدَ بْنِ حَيَّانَ، سَمِعْتُ أَبَا مِجْلَزٍ يُحَدِّثُ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ: أَنَّ رَايَةَ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - كَانَتْ سَوْدَاءَ، وَلِوَاؤُهُ أَبْيَض

Sunan Shogir Al-baihaqi no. 2989
2989 - رُوِّينَا، عَنْ قَيْسِ بْنِ سَعْدٍ الْأَنْصَارِيِّ، أَنَّهُ كَانَ صَاحِبَ لِوَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَأَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ، أنا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، أنا الْعَبَّاسِ الدُّورِيُّ، أنا أَبُو زَكَرِيَّا السَّالِحَانِيُّ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ حَيَّانَ قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا مِجْلَزٍ، يُحَدِّثُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ: «كَانَتْ رَايَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضَ»

Sunan At-Tirmidzi no. 1681
1681 - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ إِسْحَاقَ وَهُوَ السَّالِحَانِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ حَيَّانَ، قَال: سَمِعْتُ أَبَا مِجْلَزٍ لاَحِقَ بْنَ حُمَيْدٍ يُحَدِّثُ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَتْ رَايَةُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْدَاءَ، وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضَ.

Mu’jam Al-Kabir Ath-thobaroni no. 1161
1161 - حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ، ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْحَجَّاجِ السَّامِيُّ، ثنا حَيَّانُ بْنُ عُبَيْدِ اللهِ أَبُو زُهَيْرٍ الْعَدَوِيُّ، ثنا أَبُو مِجْلَزٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ حَيَّانُ:، وَحَدَّثَنَا ابْنُ بُرَيْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ: «أَنَّ رَايَةَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَتْ سَوْدَاءَ ولِوَاؤُهُ أَبْيَضُ»

Mu’jam Al-Kabir Ath-Thobaroni no. 12909
12909 - حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ أَحْمَدَ، وَمُوسَى بْنُ هَارُونَ، قَالَا: ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْحَجَّاجِ، ثنا حِبَّانُ بْنُ عُبَيْدِ اللهِ أَبُو زُهَيْرٍ، ثنا عَبْدُ اللهِ بْنُ بُرَيْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ، وَحَدَّثَنَا أَبُو مِجْلَزٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: «أَنَّ رَايَةَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَتْ سَوْدَاءَ، وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ»

Analisis Sanad Jarh Ta’dil
Dari susunan sanad, bisa kita fahami sebagai berikut:

  •      Ibn Abbas > Abu Mijlaj
  • Aba Mijlaj sebagai madar, bercabang meriwayatkan kepada Yazid bin Hayyan, Buraidah dan Hayyan bin Ubaidillaah bin Zuhair
  1.  Ibn Abbas > Abu Mijlaj > Yazid bin Hayyan
  •      Abu Hurairoh : Shahabi
  • Abu Mijlaj : Tabi’in thabaqoh ke-3, Tsiqoh. Yahya bin Main berkata: Mudhtaribul Hadits dan tidak sama’i kepada Khudzaifah
  • Yazid bin Hayyan:
    a. Al-Haafizh Ibn Hajar berkata dalam At-Taqriib: Shaduuq Yukhthi
    b. Imam Al-Bukhari berkata :
    عنده غلط كثير
    Padanya terdapat kesalahan yang amat banyak [Tarikh al-kabiir 325:8]
    c. Ibn Hibban berkata dalam Ats-Tsiqat: Dia rawi yang keliru dan mukholafah [Ats-Tsiqoot 619:7]
    Rawi selanjutnya tidak ada permasalahan. Pada sanad ini dapat kita perhatikan bahwa titik masalahnya adalah pada rawi bernama Yazid bin Hayyan, dimana beliau memiliki jarh yang sangat berat hingga periwayatannya terindikasi nakaroh. Dengan demikian, jalur dari Yazid adalah Dhaif Munkar.
  1.  Abu Hurairah > Abu Mijlaj > Hibban bin Ubaidillah

    Analisis sanad kedua adalah jalur dari hibban bin Ubaidillah. Terdapat beberapa kekeliruan pada rowi Hibban, dimana namanya terdapat perbedaan, yaitu dengan sebutan Hayyan bin Ubaidillah. Antara Hibban bin Ubaidillah Abu Zuhair dan Hayyan bin Ubaidillah Abu Zuhair adalah orang yang sama.

Berikut Jarh Ta’dil Hayyan bin Ubaidillah: [Lisaanul miizan II:370]
Dia rawi yang suka membawa riwayat munkar, riwayat gharib dan tidak pernah melihat rawi yang banyak kelirunya selian dia [Tarikh Al-Islam IV : 374]
Abu Hatim Ar-Raazi berkatata: Shaduq [Al-Jarh III:246]
Adz-Dzahabi berkata : Tidak bisa dijadikan hujjah [Al-Mughnii fii Adh-Du’afaa I : 198]
Ad-Daraquthni berkata : Tidak kuat
Ibn Hazm berkata : Majhul
Al-Bukhari berkata : MukhtalITH
Al-Bukhori berkata: hayyan bin Ubaidillah Abu Zuhair tergolong Bani ‘Adi Bishri beliau mendengar Abu Majla Lahiq bin Humaid dan Ad-Dhahak [Al-kaamil fii dhu’afaa Ar-Rijaal_Tahqiiq Suhail Zikaar hal.425]

Dengan demikian, Hayyan atau Hibban bin Ubaidillah ini rawi maqbul yang bisa diterima jika ada mutaba’ah dan tidak syadz, namun dia lemah jika bersifat tafarrud. Dalam hal ini, terdapat keidhtiraban pada Hayyan baik dari segi sanad maupun matan;

a. Dari segi jalur sanad

Terdapat jalur lain dimanan Hayyan menerima dari Abu Mijlaj, Abu Mijlaj menerima dari Abdullah bin Buraidah, Abdullah bin Buraidah menerima dari Buraidah.
Ibn ‘Adi berkata: Tidak ada periwayatan Abu Mijlaj dengan menempuh dua thabaqah (antara Abdullah bin Buraidah dan Buraidah) ini hanya terdapat pada jalur Hayyan bin Ubaidillah. Dalam jalur ini Hayyan menyendiri dalam periwayatannya [Al-kaamil fii dhu’afaa Ar-Rijaal_Tahqiiq Suhail Zikaar hal.425]

b b. Dari segi matan

            Dalam jalur yang sama, dimana Hayyan menerima dari Abu Mijlaj terdapat tambahan 
            pada matannya dengan redaksi:

مَكْتُوْبٌ عَلَيْهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ
“(Bendera itu) bertuliskan kalimat : Laa ilaaha Illallaah muhammadurrasuulullaah”

Memperhatikan pemaparan diatas, baik jalur Yazid maupun hayyan, keduanya tidak bisa saling menguatkan dikarenakan adanya ke Idhtiraban dan kecacatan yangfatal.

  1.  Terdapat Jalur Syahid yang menyatakan Rasulallah Saw memasuki kota Makkah dengan membawa bendera putih

    عن جابر، أن النبي صلى الله عليه وسلم دخل مكة ولواؤه أبيض
    “Dari Jabir, bahwasanya nabi -shallallahu alaihi wa slalam- masuk ke Makkah (Fathu Makkah) dengan membawa bendera warna putih.” (HR. Tirmidzi no. 1679, An-Nasa’i no. 2866)

TAKHRIJ LENGKAP SANADNYA

Sunan At-Tirmidzi
1679 - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُمَرَ بْنِ الوَلِيدِ الكِنْدِيُّ الكُوفِيُّ، وَأَبُو كُرَيْبٍ، وَمُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ قَالُوا: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ، عَنْ شَرِيكٍ، عَنْ عَمَّارٍ يَعْنِي الدُّهْنِيَّ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ مَكَّةَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ.

Sunan An-Nasa-I
2866 - أَخْبَرَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، قَالَ: أَنْبَأَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ، قَالَ: حَدَّثَنَا شَرِيكٌ، عَنْ عَمَّارٍ الدُّهْنِيِّ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ «أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ مَكَّةَ، وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ»

BAGAN SANADNYA

ANALISIS SANAD

Hadits ini dhaif karena idhtirab rawi bernama Syarik.
Berikut Jarh dan Ta’dilnya:
Qodhi, salah satu imam yang kuat terhadap sunnah. Imam adz-dzahabi berkata: hasanul hadiits, Imam faqih dan muhaddits[1]
Ath-Thobari berkata: dia faqih, ‘aaliman[2]
Al-‘Ijli berkata: Tsiqoh Hasanul Hadiits[3]
Syarik bin Abdullah An-Nakhai (TW 140H), ia itu shaduq, banyak salah, hafalannya berubah ketika menjadi qadhi di Kufah.[4]
Al-Haafizh Ibn Hajar berkata dalam At-Taqriib: ‘aadilan, faadhilan, ‘aabidan, keras terhadap ahli bid’ah[5]
Ibrahim bin Sa’iid berkata: Syarik telah keliru dalam periwayatan haditsnya sebanyak 400 hadits[6]
Ad-Daraquthnie berkata: Syarik tidak kuat dalam periwayatannya jika ia menyendiri[7]
Abul Hasan bin Al-Qoth-thaan Al-Faasi berkata: Masyhud dengan tadlis, aku memandangnya sebagai rawi yang pikun, pada asalnya dia rawi yang shaduq namun ketika menjabat menjadi qadhi dia berubah hafalannya [8]
Abul fathi Al-Adzdaa-I berkata: jelek hafalannya, banyak wahm nya, mudhtharibul hadits
Abu Hatim Ar-Raazi berkata: shaduq dia banyak sekali keliruny
Abu Isa At-Tirmidzi menyebutkannya dalam ash-shahiih al-jaami’ dan ilal al-kabir : banyak sekali kesalahan dan kekeliruannya
Abu Zur’ah berkata:
قَالَ عَبْدُ الرَّحْمنِ سَأَلْتُ أَبَا زُرْعَةَ عَنْ شَرِيْكٍ يُحْتَجُّ بِحَدِيْثِهِ قَالَ كَانَ كَثِيْرَ الْحَدِيْثِ صَاحِبَ وَهْمٍ يَغْلَطُ أَحْيَانًا
Abdurrahman berkata, “Aku bertanya kepada Abu Zur’ah tentang Syarik, apakah hadisnya dapat dipakai hujjah?” Beliau menjawab, “Dia banyak hadisnya, shahiba wahm (orang yang ragu-ragu), kadang-kadang keliru.”[9]

Imam al-Mizzi, mengutip pernyataan Abu Zur’ah dengan redaksi:

كَانَ كَثِيْرَ الْخَطَأِ صَاحِبَ وَهْمٍ وَهُوَ يَغْلَطُ أَحْيَانًا
“Dia banyak salah, shahiba wahm (orang yang ragu-ragu), kadang-kadang keliru.”[10]
Abu Hatim berkata:

وَقَالَ أَبُوْ حَاتِمٍ لاَ يَقُوْمُ مَقَامَ الْحُجَّةِ فِي حَدِيْثِهِ بَعْضُ الغَلَطِ
Abu Hatim berkata, “Dia tidak dapat mencapai derajat hujjah, pada hadisnya terdapat sedikit kekeliruan.”[11]
Al-Juzajani

قَالَ إِبْرَاهِيْمُ بْنُ يَعْقُوْبَ الْجُوْزَجَانِي سَيِّءُ الْحِفْظِ مُضْطَرِّبُ الْحَدِيْثِ مَائِلٌ
Ibrahim bin Ya’qub al-Juzajani berkata, “Dia buruk hapalan, mudhtaribul hadits, maa’il.”[12]
Ya’qub bin Syaibah

وَقَالَ يَعْقُوْبُ بْنُ شَيْبَةَ شَرِيْكٌ صَدُوْقٌ ثِقَةٌ سَيِّءُ الْحِفْظِ جِدًّا
Ya’qub bin Syaibah berkata, “Syarik Shaduq, tsiqat, sangat buruk hapalan.”[13]

Memperhatikan dari beberapa penilaian ulama ahli naqd, maka Syaikh Nashiruddin Al-Albani mengambil kesimpulan sebagai berikut:
وَهُوَ سَيِّئُ الْحِفْظِ عِنْدَ جُمْهُوْرِ الأَئِمَّةِ وَبَعْضُهُمْ صَرَّحَ بِأَنَّهُ كَانَ قَدِ اخْتَلَطَ, فَلذَالِكَ لاَ يُحْتَجُّ بِهِ إِذَا تَفَرَّدَ
“Dia buruk hapalan menurut jumhur imam, dan sebagian mereka menjelaskan bahwa ia sungguh mukhtalith (berubah hapalannya). Karena itu ia tidak dapat dipakai hujjah bila meriwayatkan hadis sendirian.”[14]

Analisis Kami Terhadap Rawi Syarik

Pertama, penilaian sayyiul hifzhi, katsiral khotho, yaghlathu, dan mudhtharribul hadits terhadap Syarik dari segi dhabt (hafalan)-nya, bukan adalah-nya (akidah dan akhlak). Pentajrihan (kritikan, celaan) terhadap seorang rawi yang demikian dapat kita terima selama rawi itu tafarrud (sendirian dalam meriwayatkan hadis) atau mukhalafah (bertentangan) dengan rawi yang tsiqat (kuat), maka secara otomatis periwayatannya tidak bisa diterima. Namun bila rawi itu tidak taffarud, artinya ia meriwayatkan hadis seperti yang diriwayatkan oleh rawi-rawi lain yang tsiqah (kredibel) selain dia, maka hadisnya dapat diterima.

Dengan demikian, penilaian para ulama di atas terhadap Syarik tidak berarti menolak seluruh hadis yang diriwayatkannya, namun bergantung atas tafarrud (menyendiri) atau tidaknya Syarik dalam meriwayatkan hadis. Sepanjang penelitian kami, periwayatan Syarik tentang Rasulallah saw membawa bendera putih adalah tafarrud dan syadz atau mukholafah. Kemukholafahannya adalah menyalahi rawi-rawi tsiqoh yang akan dibahas nanti pada term selanjutnya.

Kedua, Pada tahun 155 H/771 M, ketika berusia 60 tahun, ia menjadi hakim di Wasith. Satu tahun kemudian (tahun 156 H/771 M) menjadi hakim di Kufah (Tahdzibut Tahdzib IV:336). Ketika menjadi qadhi di Kufah inilah Syarik mukhtalith (hapalannya berubah) (Lihat, Taqribut Tahdzib I:243). Hal itu sebagaimana dinyatakan oleh Shalih bin Muhammad bahwa Syarik itu Shaduq dan setelah menjadi qadi di kufah idhthirab (rusak) hapalannya (Lihat, Tarikh Bagdad IX:285). Demikian pula menurut Ibnu Hiban dan Ibnu Hajar. Ibnu Hiban menyatakan:

كَانَ فِي آخِرِ عُمْرِهِ يُخْطِىءُ فِيْمَا يَرْوِيْ تَغَيَّرَ عَلَيْهِ حِفْظُهُ
“Di akhir usianya ia keliru dalam periwayatan, hapalannya berubah.”[15]

Ibnu Hajar menyatakan:
صَدُوْقٌ يُخْطِئُ كَثِيْرًا تَغَيَّرَ حِفْظُهُ مُنْذُ وُلِّيَ القضاءَ بِالْكُوْفَةِ
“Shaduq, banyak salah, berubah hapalannya sejak diangkat jadi qodhi di Kufah.”[16]

Keadaan ini menyebabkan Syarik melakukan kekeliruan dalam meriwayatkan sebagian hadisnya ketika di Kufah. Menurut Ibrahim bin Sa’id al-Jauhari, “Syarik keliru pada 400 hadis.”[17]

Dengan demikian, apabila ada jarah (kritikan) dari sebagian ulama terhadap Syarik, maka hal itu dapat dikategorikan menjadi dua macam:

  1.  Berkaitan dengan rusaknya dhabth (hapalan) Syarik setelah menjadi qadhi (hakim) di kufah atau setelah tahun 155 H, ketika ia berusia 60 tahun, atau 22 tahun sebelum wafatnya.
  2. Berkaitan dengan hadis tertentu di antara yang 400 hadis itu.

Dengan begitu, Jarh (celaan) itu didudukan berdasarkan dua kategori di atas, maka jarhnya tidak bertentangan dengan ta’dil (pujian) para ulama yang sezaman dengan Syarik, yaitu dengan kata lain:
Pertama, Ta’dil (pujian) ditujukan terhadap Syarik sebelum menjadi hakim di Kufah atau sebelum tahun 155 H. Sedangkan jarh (celaan) ditujukan terhadap Syarik setelah berubah hapalannya atau setelah menjadi hakim di Kufah atau setelah tahun 155 H.

Kedua, Ta’dil ditujukan terhadap periwayatan 8.600 hadis. Sedangkan jarh ditujukan terhadap periwayatan 400 hadis.

Maka untuk mengetahui apakah suatu hadis yang diriwayatkan oleh Syarik itu:
a. sebelum menjadi qadhi di Kufah (sebelum tahun 155 H) atau sesudahnya (setelah tahun 155 H)?
b. Dikelompokkan pada jumlah 8.600 atau 400?
c. Sebelum mukhtalith (berubah hapalan) atau sesudahnya?

Maka dapat digunakan salah satu di antara tiga kriteria sebagai tolok ukur:
untuk mengetahui point (a) dapat dilihat dari aspek tarikhur riwayat, yaitu kapan hadis itu diterima dan diriwayatkan olehnya
untuk mengetahui point (b) harus dilihat dari aspek takhrij, yaitu ditelusuri seluruh riwayat Syarik dalam berbagai kitab-kitab hadis
untuk mengetahui point (c) dapat dilihat dari 2 aspek:

  •    Murid yang menerimanya

    Ibnu Hiban menyatakan bahwa rawi-rawi yang menerima hadis darinya di Wasith (sebelum menjadi hakim di Kufah) maka pada periwayatan mereka tidak terjadi takhlith (sahih karena mereka menerimanya sebelum Syarik berubah hapalan), seperti Yazid bin Harun dan Ishaq al-Azraq, sedangkan rawi-rawi yang menerima hadis darinya di Kufah (setelah mukhtalit) padanya terdapat keragu-raguan.[18]

  • Mutabi’
    Yaitu adanya periwayatan rawi-rawi lain yang tsiqah (kredibel) yang mendukung periwayatannya. Dan inilah yang dijadikan landasan oleh Imam Muslim ketika beliau meriwayatkan hadis Syarik dalam kitab Shahihnya, antara lain dalam Shahih Muslim, II:510

كِتَابُ الْبِرِّ وَالصِّلَةِ وَالأَدَبِ بَابُ بِرِّ الْوَالِدَيْنِ وَأَنَّهُمَا أَحَقُّ بِهِ
diterangkan oleh Abu Hurairah:

قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ الصُّحْبَةِ قَالَ أُمُّكَ ثُمَّ أُمُّكَ ثُمَّ أُمُّكَ ثُمَّ أَبُوكَ ثُمَّ أَدْنَاكَ أَدْنَاكَ
karena menurut penelitian Muslim, hapalan dan kredibilitas Syarik dapat dibuktikan dengan adanya periwayatan rawi yang lainnya.

Berdasarkan standar kritik rawi di atas, kami akan menganalisis tahap akhir hadits dari sahabat Jabir terkait bendera putih, dengan sebuah pertanyaan, apakah hadits Jabir ini diriwayatkan Syarik sebelum menjadi qodhi atau sesudah menjadi qodhi? Dengan kata lain, sebelum taghoyyur khifzhihi (berubah hafalannya) atau sesudah berubah hafalannya?

Berdasarkan standar ketiga di atas, maka hadis Jabir ini diriwayatkan oleh Syarik setelah berubah hapalannya. Hal itu diketahui dengan melihat orang yang meriwayatkan darinya, yaitu Yahya bin Adam.

Dimama Yahya bin Adam lahir pada tahun 177H dan pada saat itu usia Syarik 56 tahun, berarti Yahya bin Adam berusia 4 tahun ketika Syarik berusia 60 tahun. Artinya, Yahya bin Adam menerima hadits dari Syarik lebih diyakini ketika Syarik telah menjadi qodhi, dalam hal ini kondisi Syarik sudah berubah hafalannya dan para ulama ahlu naqd telah sepakat bahwa periwayatannya di tolak jika tafarrud dan atau mukholafah.

BUKTI KE-IDHTIROBAN DAN KE-MUKHOLAFAHAN SYARIK

Sanad lengkapnya jalur Syarik ke Yahya bin Adam adalah sebagai berikut:

1679 - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُمَرَ بْنِ الوَلِيدِ الكِنْدِيُّ الكُوفِيُّ، وَأَبُو كُرَيْبٍ، وَمُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ قَالُوا: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ، عَنْ شَرِيكٍ، عَنْ عَمَّارٍ يَعْنِي الدُّهْنِيَّ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ
مَكَّةَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ.

Sanad lengkapnya Yahya bin Adam dari Syarik. namun jalur ini bermasalah dari arah Syarik. Syarik dari jalur ini sebenarnya bukan meriwayatkan ke Yahya bin Adam namun juga meriwayatkan ke:

  1.  Abu Nu’aim al-Fadl bin Dukain (Imam al-Baihaqy dalam kitabnya as-Sunan al-Kubra No. 5978 juga Imam an-Nasai dalam kitabnya as-Sunan al-Kubra No. 9672)
  2. Abu Salam al-Khuza’ie (Imam Ahmad dalam kitab Musnad nya. No. 15157)
  3. ‘Aly bin Hakim (Imam Muslim dalam kitab Shahih nya No. 1357 juga Imam al-Baihaqy dalam kitab Syu’abul Iman No. 5832)
  4. Muhammad bin Sa’id (Imam at-Thohawy dalam kitabnya Syarhu Ma’any No. 4152)
  5. Mu’allaa bin Mansur (Imam at-Thohawy dalam kitabnya Syarhu Ma’any No. 5468)

Ke-lima rawi tersebut juga sama-sama meriwayatkan dari Syarik namun tidak seperti berita yang dibawa oleh Yahya bin Adam. Berikut riwayatnya:

(1358) حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حَكِيمٍ الْأَوْدِيُّ، أَخْبَرَنَا شَرِيكٌ، عَنْ عَمَّارٍ الدُّهْنِيِّ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ، وَعَلَيْهِ عِمَامَةٌ سَوْدَاءُ

  Dari Jabir r.a bahwasanya Nabi saw. Telah masuk Makkah dengan memakai sorban hitam.[19]

Ke-lima rawi tsiqah diatas membawakan riwayat yang sama dan seirama dari jalur Syarik hingga ke Jabir r.a dengan berita bahwa Rasulullah saw masuk Makkah dengan memakai sorban hitam. Namun berbeda dengan apa yang di informasikan oleh Yahya bin Adam yang juga sama dari jalur Syarik bahwa Rasulullah saw memasuki Makkah dengan bendera putih. Atas dasar ini sangat telihat bahwa Yahya bin Adam menyalahi 5 rowi lain yang juga sama-sama dapat dari Syarik tentang sebuah berita.

Namun Yahya bin Adam adalah rawi tsiqah. Abu Hatim, Ya’qub bin Syaibah telah menilainnya Tsiqah begitupun Yahya bin Ma’in menilainya tsiqah. karena itu ke 6 imam mukharrij yang di dalamnya al-Bukhari dan Muslim menjadikan riwayat dari Yahya bin Adam sebagai bagian riwayat dalam kitab-kitab mereka.

karena itu lebih tepatnya ini kekeliruan Syarik yang menyampaikan ke Yahya berubah informasinya tidak seperti apa yang ia sampaikan kepada ke lima rawi yang lain.
Dengan analisis inilah bahwa jelas, Syarik meriwayatkan kepada Yahya bin Adam ketika Syarik berubah hafalannya dan periwayatannya ditolak.

karena itu pula Imam besar ahli hadits yaitu al-bukhari begitu cerdasnya mengetahui kejanggalan ini. al-Bukhari ketika ditanya oleh murid kesayangannya (murid tercintanya) imam at-Tirmidzi tentang riwayat Syarik ke Yahya dengan bendera hitamnya, al-Bukhari mengatakan:

وقَالَ: حَدَّثَنَا غَيْرُ وَاحِدٍ، عَنْ شَرِيكٍ، عَنْ عَمَّارٍ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ مَكَّةَ وَعَلَيْهِ عِمَامَةٌ سَوْدَاءُ قَالَ مُحَمَّدٌ: وَالحَدِيثُ هُوَ هَذَا

Ia mengatakan hadits yang bener ini dia.. (yaitu Rasulullah saw masuk ke mekkah dengan memakai sorban hitam). bukan membawa bendera putih.

Kemdian, Imam At-Tirmidzi mengomentari hadits yang diriwayatkan olehnya dengan ungkapan:

( هذا حديث غريب ) وأخرجه أبو داود والنسائي وابن ماجه ( قال محمد : والحديث هو هذا ) أي الحديث المحفوظ هو هذا الحديث لأنه رواه غير واحد عن شريك ، وأما حديث يحيى بن آدم عن شريك بلفظ : دخل مكة ولواؤه أبيض ، فليس بمحفوظ لتفرد يحيى بن آدم به ومخالفته لغير واحد من أصحاب شريك
Imam At-Tirmidzi berkata: hadits ini adaah gharib. Hadits gharib jelas hadits munkar menurut ulama hadits mutaqoddimin.

Kemudian di jelaskan oleh penyarah (Ibn Badurrahmaan Al-Mubarakafuri) dengan ungkapannya: banyak hadits yang mahfuzh dari riwayat Syarik, namun hadits Yahya bi Adam yang menerima dari Syarik dengan lafazh : Rasul masuk mekkah dengan membawa bendera putih, maka statusnya tidak mahfuzh karena ke-tafarrudan Yahya bin Adam dan ke-Mukholafahan dengan beberapa murid Syarik.

Dengan demikian, hadits ini derajatnya Dhaif, Munkar. Dan hadits Dhaif syadiid itu tidak bisa menjadi penguat.

  1. Bendera Rasululloh Saw bertuliskan lafazh Tauhid (Laa Ilaaha Illallah Muhammadu Ar-rasuulallah)

Terdapat hadits yang menyatakan bahwa royah Rasulullah Saw berwarna hitam dan benderanya berwarna putih terulis padanya kalimat : لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ

Hadits yang dimaksud adalah:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بن رِشْدِين قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْغَفَّارِ بْنُ دَاوُدَ أَبُوْ صَالِحٍ الْحَرَّانِي قَالَ حَدَّثَنَا حَيَّانٌ بن عُبَيْدُ اللهِ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُوْ مَجَازٍ بن حُمَيْدٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : كَانَتْ رَايَةُ رَسُوْلِ اللهِ سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ مَكْتُوْبٌ عَلَيْهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ
“Dari Ibnu Abbas mengatakan: “Bendera (pasukan) Rasulullah itu hitam dan panjinya itu putih yang bertuliskan di atasnya La Ilaha illa Allah Muhammadu Rasulullah” (HR. Thabrani)

Hadis yang menerangkan tentang bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid di atas terdapat dalam kitab Mu’jam al-’Awsath karya imam al-Thabarani.
Selain terdapat dalam Mu’jam al-Thabrani, Hadis serupa juga terdapat dalam kitab Akhlaq al-Nabi Saw wa Adabuhu karya Abu al-Syaikh al-Ashbihani.

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ زَنْجَويه المخرمي، حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ بن أَبِي السَّرِي العَسْقَلَانِي، حَدَّثَنَا عَبَّاسٌ بن طَالِبٍ، عَنْ حَيَّان بن عُبَيْدِ اللهِ، عَنْ أَبِيْ مَجَازٍ، عَنِ ابْنُ عَبَّاسٍ، قال: كَانَتْ رَايَةُ رَسُوْلِ اللهِ ﷺ سَوْدَاءَ وَلِوَاءُهُ أَبْيَضُ، مَكْتُوْبٌ فِيْهِ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ
Analisis Sanad
Secara umum Hadis-Hadis yang menerangkan tentang bendera hitam yang bertuliskan La Ilaha Illa Allah Muhammad Rasulullahsebagaimana yang tertera di atas mempunyai kualitas lemah baik yang diriwayatkan oleh al-Thabrani maupun Abu al-Syaikh. Hadis di atas termaktub dalam kitab al-Kamil fi Dhu’afa al-Rijalkarya Ibnu ‘Adi, yang mana kitab tersebut menghimpun Hadis-Hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang lemah.
Adapun kedhaifan Hadis riwayat al-Thabrani ini dikarenakan;

  1.  Hayyan bin Ubaidillah

    Jarh Ta’dilnya sudah dikemukakan pada pembahasan awal. Dan dalam hadits ini Hayyan membawa riwayat Tafarrud, gharib dan munkar dengan menambahkan kalimat lafazh tauhid.

  2. Ahmad bin Risydin.
    Oleh imam al-Nasa’i, perawi dikategorikan sebagai kadzdzab, imam al-Dzahabi memberikan status muttaham bi al-wadh’, imam Ibnu Hatim mengomentarinya dengan takallamu fihi, dan Ibnu ‘Adi mengatakan bahwa ia adalah perawi yang banyak memilki riwayat Hadis akan tetapi banyak sekali yang munkar dan palsu, dan ia termasuk orang yang riwayat Hadisnya banyak ditulis. Sedangkan Ibnu Yunus, Ibnu ‘Asakir, Ibnu al-Qaththan, dan Maslamah bin al-Qasim mengatakan bahwa Ahmad bin Risydin merupakan huffazh al-Hadis dan tsiqah. Setelah menimbang sesuai dengan kaidah al- jarh Mufassar muqoddamun ‘alaa at-ta’dil yang mengatakan “bila terdapat dua keterangan antara jarh dan ta’dil maka diutamakan jarh apabila terdapat keterangan”, maka penulis mengategorikan Ahmad bin Risydin sebagai muttaham bi al-kidzb.
  3. Sedangkan kedhaifan dalam Hadis riwayat Abu Syaikh dari Abu Hurairah di atas disebabkan oleh perawi bernama Muhammad bin Abu Humaid. Oleh kebanyakan ulama ahli Hadits seperti al-Bukhari, Ibnu Hibban, Ahmad bin Hanbal, Abu Hatim al-Razi, al-Nasa’i, Abu Zur’ah, Ibnu Ma’in, dan al-Daruquthni, semuanya mengatakan bahwa rawi tersebut lemah karena ia termasuk dalam kategori munkar al-Hadis.

Jadi, Hadits di atas tergolong Hadis yang tingkat kedaifannya parah sehingga hadis riwayat al-Thabrani termasuk dalam lingkup Hadis matruk (Hadits syibhu maudhu) dan hadis riwayat Abu Syaikh dari Abu Hurairah tergolong sebagai hadis munkar.

KESIMPULAN

  1.  Hadits dari Ibn Abbas yang menyatakan royah rasulullah saw berwarna hitam dan benderanya berwarna putih adalah MUNKAR
  2. Hadits dari Jabir yang menyatakan bahwa Rasulallah Saw masuk kota Makkah (Futh Al-Makkah) dengan membawa bendera hitam adalah MUNKAR

  3. Hadits dari Ibn Abbas yang menyatakan panji Rasulallah Saw berwarna hitam dan benderanya berwarna putih dengan bertuliskan kalimat Laa Ilaaha Illallaah adalah MATRUK (SYIBHU AL-MAUDHU)

Dengan demikian, tidak ada satu haditspun yang shahih yang menerangkan tentang warna bendera rasul dan bertuliskan kalimat TAUHID.

================
Penulis: Robi' Permana
Anggota Pusat Kajian Hadits PP PEMUDA PERSIS

Bibliography
ابن حجر , ا. (2011). تقريب التهذيب. Riyadh: Baitul Afkar Ad_Dauliyah.
Abdullah ibn 'Adii Al-Jurjani, I. (1997). Ala-Kaamil fii Dhu'afaa Ar-Rijaal. Riyadh: Maktabah Ar-Rusyd.
Abu Hatim Ar-Raazi, A. M.-T. (2009). Al-Jarh wa At-Ta'dil. Bairut-Libanon: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah.
Adz-Dzahabai, M. b.-d. (2009). Al-Mughni fii Adh-Dhu'afaa. Qatar: ihyaa At-Turaats.
Adz-dzahabi, M. b. (2009). Mizan Al-I'tidal fii An-Naqdi Ar-Rijaal. Bairut - Libanon: Tashwiir Daar Al-Ma'rifah.
Adz-Dzahabi, S. A. (1967). Tarikh Al-Islaam. Beirut - Libanon: Dar Al-Fikr.
Adz-dzahabi, S. A. (1998). Thobaqootu Al-Huffaazh Lidz-Dzahabi. Bairut - Libanon: Dar Al-Kutub Al-'Alamiyyah.
Al-Albani, M. N. (1985). Irwaa-u Al-Ghaliil Fii Takhriij Al-Ahaadiits min As-Sabiil. Bairut - Libanon: Maktab Islamii.
Al-Mizzi, J. A. (2008). Tahdzib Al-Kamal fii Asmaa'i Ar-Rijaal. Bairut - Libanon: Mu-assasah Ar-Risaalah.
Al-Mubarakafuri, A. A.-'. (2010). Tuhfah Al-Ahwadzi. Bairut - Libanon: Dar Kutub Al-'Alamiyyah.
As-Sujustani, M. b.-T. (2009). Ats-Tsiqoot. Libanon: Daar Fikr.
Bukhari, M. b.-J.-B. (2009). Tarikh Al-Kabir. Mesir: Al-Faruq Al-Haditsiyah.
Ibn 'Adii, A. a.-J. (1984). Al-Kaamil fii Adh-Dhu'afaa Ar-rijaal. Bairut - Libanon: Dar Al-Kutub Al-'Alamiyah, Dar Al-Fikr.
Ibn Hajar, A. b.-A. (2008). lisaan Al-Miizan. Beirut-Libanon: Maktab Al-Matbu'at Al-Islamiyyah.
Ibn Hajar, A. b.-A.-F. (2008). Taqriib At-Tahdziib. suriya: Dar Ar-Rasyiid.

sumber:
http://abu-quthbie.blogspot.com/2017/12/kritik-hadits-panji-dan-liwa-rasululloh.html?m=1

Nadirsyah Hosen @na_dirs
Kalau yg ini membahas 10 riwayat soal bendera tsb: google.com.au/amp/s/islam-in… Kesimpulannya: “Setelah kita kaji dari 10 hadits Rasulullah Saw di atas, maka tidak benar bendera dan panji Rasulullah Saw bertuliskan kalimat tauhid”.
Nadirsyah Hosen @na_dirs
Kajian ketiga: nu.or.id/post/read/8395… Kesimpulan: tidak ada riwayat yg shahih soal bendera Rasulullah bertuliskan kalimat tauhid

Pandangan Ulama terkait Kualitas Hadits Bendera Rasulullah
Kamis, 07 Desember 2017 04:05
nu.or.id

Bendera hitam atau putih bertuliskan kalimat tauhid selalu diidentikkan oleh sebagian kelompok sebagai bendera Islam atau bendera Rasulullah. Dengan anggapan ini, kalau ada bendera lain yang tidak serupa dengan bendera Rasulullah, dianggap bukan Islam dan tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah.

Kelompok yang mengindetikkan bendera hitam atau putih bertulis kalimat tauhid ini sebagai bendera Rasulullah merujuk pada hadits riwayat Ibnu Abbas yang terdapat dalam beberapa kitab hadits. Ibnu Abbas berkata.

كَانَتْ رَايَةُ رَسُوْلِ اللهِ سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ مَكْتُوْبٌ عَلَيْهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ

Artinya, “Bendera (pasukan) Rasulullah itu hitam dan panjinya itu putih yang bertuliskan di atasnya ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah,’”(HR At-Thabarani).

Merujuk pada penelitian yang dilakukan tim el-Bukhari Institute dalam buku Meluruskan Pemahaman Hadits Kaum Jihadis, hadits tentang bendera Rasulullah di atas terdapat dalam beberapa kitab, di antaranya, Mu’jamul Awsath karya At-Thabarani dan Akhlaqun Nabi wa Adabuhu karya Abus Syekh Al-Ashbihani.

Secara umum, kualitas hadits bendera hitam bertulis "La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah" adalah dhaif (lemah), baik riwayat At-Thabarani ataupun Abu Syekh. Hadits bendera hitam juga dikategorikan dhaif oleh Ibn ‘Adi dan termasuk salah satu dari sekian banyak hadits dhaif yang terdapat dalam kitab Al-Kamil fi Dhu’afa’ir Rijal.

Riwayat At-Thabarani dihukumi lemah karena di dalam rangkaian sanadnya terdapat rawi bermasalah, yaitu Ahmad Ibn Risydin. Menurut An-Nasa’i, Ibn Risydin adalah seorang pembohong kadzdzab (pembohong). Adz-Dzahabi menyebut Ibn Risydin sebagai pemalsu hadits (muttaham bil wadh’i). Ibn ‘Adi mengakui bahwa Ibn Risydin salah satu orang yang paling banyak meriwayatkan hadits, namun sangat disayangkan kebanyakan periwayatannya munkar dan palsu. Sementara menurut Ibnu Yunus, Ibnu ‘Asakir, dan Ibnul Qaththan, dan Ibnul Qasim, Ibn Risydin diterima haditsnya karena dia kredibel (tsiqah) dan penghafal hadits (huffazhul hadits).

Ketika dihadapkan pada dua simpulan yang bertolak-belakang ini, maka penilaian negatif (jarh) lebih diprioritaskan daripada penilaian positif (ta’dil). Simpulan ini merujuk pada kaidah umum dalam jarh wa al-ta’dil, “Apabila bertentangan antara jarh dan ta’dil, maka jarh lebih didahulukan bila dijelaskan argumentasinya secara spesifik.” Dengan demikian, riwayat Ibn Risydin tidak dapat diterima karena pembohong (muttaham bil kidzbi) dan dianggap pemalsu hadits (muttaham bil wadh’i) meskipun riwayat dan haditsnya banyak didokumentasikan.

Adapun riwayat Abu Syekh berasal ari dua jalur, yaitu Abu Hurairah dan Ibnu Abbas. Riwayat yang bersumber dari Abu Hurairah dihukumi lemah karena ada Muhammad Ibn Abu Humaid dalam silsilah sanadnya. Sebagian besar kritikus hadits berpendapat bahwa Abu Humaid adalah dhaif dan termasuk munkarul hadits. Sedangkan riwayat Abu Syekh yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas dihukumi hasan dan tidak sampai pada tingkatan shahih.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa kualitas hadits bendera hitam yang diriwayatkan oleh At-Thabarani dan riwayat Abu Syekh yang bersumber dari Abu Hurairah adalah lemah atau dapat disebut juga hadits munkar. Sementara riwayat Abu Syekh yang berasal dari Ibnu Abbas termasuk hadits hasan dan tidak mencapai derajat shahih.

Bagaimana Pengamalannya?
Setelah mengetahui kualitas hadits, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana pengamalannya, apakah hadits tersebut wajib diamalkan atau tidak. Dalam bahasa lain, apakah hadits bendera Rasulullah itu bermuatan syariat atau tidak. Kalau dipahami sebagai bagian dari syariat berarti wajib diamalkan. Sementara kalau bukan bagian dari syariat, tidak wajib diamalkan.

Menurut KH Ali Mustafa Yaqub, ada dua indikator yang dapat digunakan untuk membedakan syariat dan bukan syariat, atau budaya, di dalam memahami hadits Nabi. Pertama, apabila amalan tersebut hanya dilakukan oleh umat Islam dan tidak dilakukan agama lain berarti amalan itu bagian dari syariat. Kedua, jika sebuah perbuatan dikerjakan oleh semua orang, baik Muslim maupun non-Muslim, dan sudah ada sejak sebelum kedatangan Islam, maka perbuatan tersebut bukan syariat dan termasuk budaya.

Berdasarkan dua indikator ini dan sekaligus merujuk pada fakta sejarah, bendera bukanlah bagian dari syariat karena sudah ada sebelum kedatangan Islam dan digunakan oleh semua pasukan perang baik Muslim ataupun non-Muslim. Bahkan dalam pandangan Ibnu Khaldun, memperbanyak bendera, memberi warna dan memanjangkannya, hanya semata-mata untuk menakuti musuh dan kepentingan politik suatu pemerintahan.

Kendati Rasulullah menggunakan warna dan bentuk bendera tertentu, bukan berati model bendera Rasulullah ini mesti diikuti oleh setiap umat Islam sehingga negara yang tidak sesuai warna benderanya dengan bendera Rasulullah dianggap tidak mengikuti sunah Nabi. Karena pada hakikatnya, persoalan warna dan bentuk bendera bukan bagian dari agama yang bersifat ibadah (ta’abbudi), seperti halnya shalat, puasa, dan ibadah mahdhah lainnya, tetapi termasuk urusan muamalah yang identik dengan perubahan dan perkembangan. Wallahu a’lam. (M Khalimi-Hengki Ferdiansyah)

Nadirsyah Hosen @na_dirs
Tiga kajian detil di atas melengkapi apa yang saya sampaikan sebelumnya. Semua menyimpulkan hal yang sama melalui kajian ilmu hadits bahwa tdk ada riwayat yg shahih ttg apa yg diklaim HTI sebagai bendera Rasulullah/Tauhid. Jadi HTI berhentilah membohongi umat! Dosa tauuuu 😜
Nadirsyah Hosen @na_dirs
Buat simpatisan HTI yg sibuk mencaci saya liberal, sakit jiwa, sesat dst-nya, kalian bantahlah kajian saya dan kajian pihak lain di atas yg sdh sangat telak membongkar kelemahan riwayat2 yg kalian jadikan sandaran. Gak usah mencaci, bantah saja dg ilmu tulisan2 ilmiah di atas 😊
Firdaus Zumo @firdauszumo
@na_dirs Sy barusan di "Remove" dong dr wag Belajar Islam gara2 nanya2 ttg bendera tauhid
Panji Rastra @panjirastra
@na_dirs Percuma dijelasin disni. Di twitter cuma banyak akun anonim/bot. Yg akun asli, biasanya mayoritas lbh ber-nalar. Ga perlu dikasih penjelasan kyk bgni jg udh paham. Di FB tuh yg masih buanyaakk bgt yg ga ngerti..dan khalayak FB lbh bnyk drpd khalayak Twitter. Hhe..
areef @arifelev3n
@na_dirs HTI hormat merah putih ga mau, skr ribut bendera.. #MakarBerkedokTauhid
Rèng Madureh @fahmimaloloh
@na_dirs Jangan dimpatisannya dong Prof. Pentolannya saja. Semoga koh @felixsiauw dan konco konconya bisa tercerahkan dan dapat hidayah..
Mis. Mister @dipitodo
@na_dirs karena ngambilnya dari google, gw juga kasih link berita dari google : republika.co.id/berita/selarun…
Mis. Mister @dipitodo
@na_dirs gak usah bilang dikit2 hadist2 dhoif yah...sejatinya gak ada hadist dhoif, kecuali ada hadist yg nyuruh kemungkaran
Rudi Syach @rd_syach
@na_dirs Klo adu caci-maki, berani taruhan.Sy pegang HTI drpd Prof.@na_dirs! 😄
Panji Rastra @panjirastra
@na_dirs Siaappp Gus Prof...🙏🙏 Selamat melanjutkan nyisirnya.
ahmad hanafi @hanafismart
@dipitodo @na_dirs Dalilnya mana kalau semua hadist doif bisa dirujuk?
Mis. Mister @dipitodo
@hanafismart @na_dirs Dalil aqli rujukannya, lah sdh dikasih modal akal canggih gak dipake kan mubajir toh
Eling Lex Wespodo @LexGiran
@na_dirs Wah... berarti benderanya adalah "HOAKS BIN BID'AH". haha...
Load Remaining (38)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.