Kesaksian Letjen Soeyono Tentang Sanurip, Penembak Sniper Kopassus yang Stress dan Menembaki Rekannya di Lapangan Terbang Timika Papua

Sanurip menembaki orang-orang di lapangan terbang Timika Papua. Diduga tekanan mental karena malaria sampai tak diikutkan dalam operasi.
HISTORY sanurip kopassus Sniper Letjen Soeyono
3696 View 0 comments
Add to Favorite
0
Login and hide ads.
Iman Brotoseno @imanbr 12/10/2018 09:33:37 WIB
Kesaksian Letjen Soeyono tentang Sanurip. Penembak sniper Kopassus yang stress dan menembaki rekannya. Prabowo menutupi, dan mengganggap keluarga Sanurip tidak bersih lingkungan ( PKI ). Kelak Sanurip mati mengenaskan di sel ( Entah dibunuh atau bunuh diri ) pic.twitter.com/Zmn1R4Z0PN
 Expand pic
 Expand pic
Iman Brotoseno @imanbr 12/10/2018 09:42:25 WIB
Kesaksian lain Letjen Soeyono, bagaimana keterlibatan Prabowo dalam operasi penyelamatan sandera di Irian Jaya. Ketika ada kecelakaan yang mengakibatkan kematian satu regu, Prabowo menangis ingin berhenti dari tentara. Mayjen Syamsir Siregar menasehati agar jangan cengeng pic.twitter.com/4EnYuO05MM
 Expand pic
 Expand pic
Defrianta Sukirman @DefriantaS 12/10/2018 09:49:30 WIB
@imanbr Boleh tahu judul buku dan penulisnya, Pak ? 🙏🙏🙏
www #DiaSibukKerja @wibawacti 12/10/2018 11:04:49 WIB
@imanbr Do you see any interesting correlation here? 🤔 pic.twitter.com/5EpkkU1h79
 Expand pic
hello friends, it's me @M_Rezza_N 12/10/2018 13:45:35 WIB
@imanbr @BiLLYKHAERUDIN Kemungiinan yg paling mendekati adalah letnan dua sanurip mengidap PTSD. Banyak kasus pajurit2 Amerika yg pulang dr perang Irak banyak yg mengidap PTSD dan menembaki org2 tak bersalah
✌Khairul.. aja..✌ @Khairulansori2 12/10/2018 13:11:23 WIB
@imanbr @BiLLYKHAERUDIN sebagai rakyat tentu pengen tau kelebihan dan kekurangan calon pemimpinnya, sebagai manusia pasti ada kesalahan maupun kekurangan, jika ada manusia tanpa salah pasti ada yg disembunyikan. Kami sadar kalo prabowo bukan malaikat, semoga 2019 indonesia akan di pimpin manusia..
Benjamin Simatupang @bsimatupang 12/10/2018 12:38:42 WIB
@imanbr @habibthink Kira-kira apa aib pak Prabowo yg disimpan Sanurip? Sayang Letjen Soeyono nggak cerita dengan jelas...
robin marpaung @robindoang 12/10/2018 09:55:43 WIB
@imanbr "Penembak sniper Kopassus"... maksudnya dia menembak sniper nya Kopassus?
yogi @yogiadinugraha 12/10/2018 10:13:40 WIB
@robindoang @imanbr Dia sniper dari kopasus, menembak rekannya sendiri sesama kopasus karena setres. Gitu kayaknya
robin marpaung @robindoang 12/10/2018 11:13:26 WIB
@yogiadinugraha @imanbr Snipers ini rentan depresi. Mungkin merasa bersalah krn membunuh. Film American snipers oleh Chris Kyle, film kisah nyata, mantan sniper AS di perang Irak. Mati ditembak rekan sendiri setelah pensiun di AS.
Farikhah D. S @FarikhahJamil 12/10/2018 09:50:58 WIB
Kok serem ya, yang hubungan sama beliau selalu mati ga jelas (entah dibunuh atau bunuh diri) No offense, but we need another drama actor. Ga lagi lagi dari kalangan elite orba.

Dari historia.id

PADA 3 November 2015, Serda Y.H, anggota Divisi I Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad), menembak seorang pengendara ojek di Cibinong, Bogor, Jawa Barat. Penyebabnya, ojek yang menyerempet mobilnya tidak berhenti untuk meminta maaf. Penembakan oleh oknum tentara sering terjadi. Korbannya, bisa sipil maupun militer, seperti terjadi pada 1996.

Pada 15 April 1996, Letnan Sanurip, seorang sniper atau penembak jitu Kopassus, menembaki orang-orang di lapangan terbang Timika, Papua. Sepuluh tentara tewas, empat warga sipil dan satu orang pilot maskapai Twin Otter Airfast, berpaspor Selandia Baru. Sepuluh tentara dan tiga warga sipil luka-luka.

Brigadir Jenderal Amir Syarifudin, Kepala Pusat Penerangan ABRI, menceritakan kejadian itu bahwa Letnan Sanurip bangun pagi hari di dalam hanggar. Karena berisik (mungkin karena gangguan kejiwaan), dia ditegur oleh rekannya. Tidak terima ditegur, dia langsung memberondong rekan-rekannya dengan senapan yang dibawanya. “Setelah menembaki rekan-rekanya, dia berlari keluar dari hanggar dan menembaki siapa saja yang ada di situ,” kata Amir, dikutip Kompas, 16 April 1996.

Pihak ABRI mengindikasikan Letnan Sanurip melakukan aksi koboi itu karena mengalami gangguan kejiwaan akibat malaria yang merusak sistem saraf.

Namun, keterangan berbeda dikemukakan mantan Kepala Staf Umum (Kasum) ABRI, Letnan Jenderal Soeyono. Menurutnya, Letnan Sanurip adalah penembak jitu (sniper) dan pelatih tembak tempur yang diterjunkan di daerah operasi untuk membantu pembebasan sandera oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM). OPM menyandera selama 130 hari Tim Lorentz ’95, terdiri dari sebelas peneliti dari Indonesia dan Inggris, serta dua orang dari WWF (World Wildlife Fund) dan seorang dari Unesco (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization).

“Karena stres dan kecewa tidak diikutkan dalam beberapa gerakan operasi, pada suatu subuh dia nekat menembaki siapa saja yang dilihatnya di kawasan landasan lapangan terbang Timika. Sekitar lima belas orang menjadi korban penembak jitu pelatih tembak tempur itu. Yang menjadi korban antara lain Komandan Satgas, yakni seorang pewira menengah Kopassus yang sedang naik daun,” kata Soeyono dalam biografinya, Bukan Puntung Rokok, karya Benny S. Butarbutar.

Theo Syafei, mantan Pangdam Udayana (1993-1994) menyatakan seharusnya Sanurip bisa mengendalikan diri karena dia seorang Letnan. “Kalau memang dia seorang Letnan, benar-benar kejutan. Seharusnya dia sudah mempu menahan tekanan psikis yang dihadapinya,” kata Theo, dikutip Kompas, 16 April 1996.

Sanurip berhasil ditangkap dan dibawa ke Jakarta untuk diperiksa. Kopassus terkesan menutupi kasus tersebut. Tim dari Pusat Polisi Militer (Puspom) ABRI, tidak bisa leluasa memeriksa Sanurip. Komandan Puspom ABRI, Mayor Jenderal Syamsu Djalal, kemudian melapor ke Kasum ABRI, Soeyono. Baru setelah diperintahkan langsung oleh Soeyono, Kopassus akan menyerahkan Sanurip ke Puspom. Namun kenyataannya, Syamsu Djalal dan tim tetap mendapat hambatan dalam memerika Sanurip. Mereka dilarang masuk ke Ksatrian Kopasus untuk memeriksa Sanurip.

“Nampaknya Prabowo khawatir Sanurip akan mengungkapkan hal-hal yang dapat membuka aibnya,” kata Syamsu dalam biografi Soeyono.

Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus, Brigadir Jenderal Prabowo Subianto, mengambil kesimpulan sendiri bahwa “Sanurip merupakan personel yang keadaan mental ideologinya harus dicurigai karena berasal dari keluarga yang tidak bersih lingkungan (istilah yang diciptakan Orde Baru kepada orang-orang yang memiliki hubungan dengan komunis, red).”

Prabowo memimpin langsung pembebasan sandera. Kepada Soeyono yang mengizinkan operasi, Prabowo meyakinkan bahwa 80-90 persen operasi akan berhasil. Secara keseluruhan, operasi pembebasan sandera Mependuma ini memang berakhir dengan sukses.

Namun, pada menit-menit pertama, Soeyono memperoleh laporan bahwa sebuah helikopter mengalami kecelakaan fatal pada saat mendaratkan pasukan dengan tali dan menimpa sedikitnya satu regu pasukan. “Laporan keberhasilan 80-90 persen itu omong kosong belaka dan ini tidak lebih dari suatu kecerobohan,” tukas Soeyono.

Sementara itu, Soeyono tidak bisa mengikuti kelanjutan penyelidikan kasus Sanurip karena dinonaktifkan dari dinas. “Yang saya dengar berikutnya adalah Sanurip mengalami keadaan yang mengenaskan karena bunuh diri di selnya,” pungkas Soeyono.

URL Historia - Obrolan Perempuan Urban 386 Sniper Kopassus Stres, Menembaki Orang di Lapangan Terbang Timika Papua PADA 3 November 2015, Serda Y.H, anggota Divisi I Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad), menembak seorang pengendara ojek di Cibinong, Bogor, Jawa Barat.  Penyebabnya, ojek yang ...

Bookmarked tags

No tags
Login and hide ads.