2
Snap @sintaSnap
Siapa sih cewek di dunia ini yang ga pingin cantik? Aku juga pingin. Sayangnya, aku ga bisa memenuhi standar kecantikan kebanyakan orang. Ini kisah tentang psoriasis dan aku -A Thread-
Snap @sintaSnap
Kalian pernah dengar ga penyakit bernama psoriasis? Penyakit autoimun di mana sel kulit berkembang lebih cepat dari seharusnya. Jadi kalau orang normal, sel kulit berganti dalam hitungan minggu, orang yang terkena psoriasis cuma beberapa hari sel kulitnya ganti.
Snap @sintaSnap
Gejalanya berupa ruam kemerahan di tubuh, di mana ruamnya tuh kayak bersisik gitu, dan rasanya gatal. Silakan googling gambarnya kalau penasaran. Huhu
Snap @sintaSnap
Sekitar 3.5 tahun yang lalu, aku didiagnosis mengidap Psoriasis. Rasanya gimana? Sedih. Bingung. Sebel. Marah. Sampai akhirnya ya udah 😅😅 Dan ini cerita tentang aku yang awalnya sedih, sampai akhirnya menerima semuanya lalu dengan ikhlas bilang ya udah.
Snap @sintaSnap
Oh iya, bagi yang belum tahu, aku mahasiswa kedokteran gigi. Anak FKG yang lain pasti tahu beratnya kuliah di FKG. Tiap hari ga pernah tenang, banyak beban, banyak tekanan. Beban berat itu mulai aku rasakan waktu masuk semester 4 di mana aku mulai praktikum Konservasi gigi/OD.
Snap @sintaSnap
Waktu mulai praktikun OD, rasanya semua serba berat. Kerjannya, biaya buat beli alatnya, dosennya, bahkan suasana di labnya tuh bikin aku super ga nyaman. Tertekan banget. Capek. Stress.
Snap @sintaSnap
Waktu itu suatu pagi pas aku lagi mandi, aku nemuin bintik-bintik merah gitu di tubuh aku. Di dada, perut, dan paha aku. Aku berusaha untuk ga panik. Oh ini mungkin digigit semut atau nyamuk. Bodoh sekali ya masak digigit semut/nyamuk, bintik merahnya banyak banget. HHHH
Snap @sintaSnap
Ga aku apa-apain tuh si bintik merah. Cuma aku pakain bedak bayi yang biasa aku pakai, udah aja. Sama sekali ga curiga. Sampai aku sadar si bintiknya makin gede dan udah ga layak dibilang bintik. Itu udah pada segede tompel. Barulah dari situ aku panik. Hehehe
Snap @sintaSnap
Akhirnya aku pun pergi ke dokter spesialis kulit kelamin. Ditanya-tanya, diperiksa. Dokternya bilang: oh ini karena bakteri. Saya kasih antibiotik ya. Sama saya kasih suplemen supaya ga gampang capek. Minggu depan, datang kontrol ya.
Snap @sintaSnap
Aku makan tuh obat dari dokternya. Ga bandel. Antibiotik 3 kali sehari. Suplemen 1 kali sehari. Dan emang berkhasiat. Si tompel merah itu perlahan hilang, dan balik lagi jadi bintik kecil. Sampai seminggu kemudian aku balik lagi ke dokter buat kontrol.
Snap @sintaSnap
Pas aku kontrol, dokter bilang "ini bentar lagi sembuh. Saya berhentiin obatnya ya. Suplemennya saya kasih lagi." Akhirnya aku berhenti minum antibiotik dan cuma minum suplemen aja.
Snap @sintaSnap
Tapi ternyata, dua minggu kemudian, si merah datang lagi dong 😭😭 bahkan lebih banyak. Di tangan, di kaki, leher. Aku jadi makin pusing. Buru-burulah aku balik lagi ke dokter yang sama.
Snap @sintaSnap
Dokter yang sama, diagnosis yang sama, obat yang sama, cuma dosisnya naik. Huhu. Baik. Akan kulakukan demi kesembuhan.
Snap @sintaSnap
Efeknya sama. Merahnya berkurang. Seminggu kemudian kontrol. Dokternya berhentiin obat. Minum suplemen aja. Pulang. Dan dua minggu kemudian si merah balik lagi. Semakin banyak, dan tambah jadi gatel. Aku jadi sebel. Ini apaan sih masak iya dua minggu sekali harus ke dokter 😥😥
Snap @sintaSnap
Aku bingung kan harus gimana. Aku cerita sama orangtuaku. Mereka bilang, aku ganti dokter aja. Yaudah aku akhirnya ganti dokter. Begonya, aku ke dokter umum. Bukan ke dokter spesialis. Abis ke dr spesialis udah, tapi malah kambuh lagi, kambuh lagi. Jadi yaudah aku cobain dr umum
Snap @sintaSnap
Dokternya udah tua, judes. Dia periksa aku. Suruh aku nunjukin ruamnya, tapi dia sama sekali ga nyentuh aku. Padahal kan kalau dia takut, dia bisa pakai sarung tangan. Dia cuma lihatin ruam aku pakai senter. Udah. Anamnesis secukupnya yg kupikir ga cukup, dia tentuin diagnosisnya
Snap @sintaSnap
Tiba-tiba dia kasih aku resep aja. Dan kalian tahu resepnya isinya apa? Antibiotik, antijamur, antivirus. Gila ga sih busettttt. Jadi maksudnya ini sakitku karena infeksi bakteri, jamur dan virus sekaligus? 😭
Snap @sintaSnap
Tapi kan aku ga mau sotoy ya. Lagian ilmu si dokternya jauh lebih banyak dari ilmuku yang masih semester 4. Yaudah, aku tebus obatnya. Aku minum sesuai anjuran pakai.
Snap @sintaSnap
Tapi ternyata sama sekali ga ada efeknya. Bahkan ruam di kulitku makin parah, makin banyak. Waktu preklinik dulu, setelan kuliahku kemeja dan rok. Karena malu dengan banyak ruam di tubuhku, aku lapisin kemeja pendekku pakai cardigan. Aku juga pakai kaos kaki yg agak panjang.
Snap @sintaSnap
Tahu ga, aku tuh malu banget :( kebanyakan orang selalu beranggapan bahwa segala penyakit kulit itu menular. Tapi meskipun aku belum tahu aku sakit apa, aku yakin sakitku ini ga nular, karena orangtuaku (terlebih mamaku yg kalau aku di rumah selalu tidur sama aku) ga kenapa-napa.
Snap @sintaSnap
Tapi semua orang yang ketemu sama aku selalu menatap aku jijik. Kayak ketemu sama monster atau alien :( apalagi waktu itu ruamnya udah merambat ke muka yang ga bisa aku tutupin. 😥 Sejak saat itu, aku jadi ga mau keluar kosan/rumah. Pokoknya aku keluar cuma buat kuliah aja.
Snap @sintaSnap
Aku yang sebelumnya ceria dan super PD, berubah jadi manusia pemurung dan benci sama diri sendiri. Aku stress dan lalu jatuh sakit. Suatu malam aku demam tinggi, dan besoknya aku bolos kuliah.
Snap @sintaSnap
Mama ngajak aku ke dokter lagi. Tapi aku ga mau. Aku kayak udah ga percaya lagi sama dokter. Huhu terlanjur kecewa dan bingung. Dua dokter tuh ga pernah ngasih tahu aku sakit apa. Cuma bilang, oh karena bakteri, oh jamur, oh virus. Kasih obat aja. Aku ga tahu nama pastinya apa.
Snap @sintaSnap
Akhirnya Mama dan aku menempuh jalur pengobatan alternatif. Pakai daun apa gitu lupa, sama kunyit. Jadi si daun dan kunyitnya ditumbuk, terus diolesin ke tubuh aku. Hadehhhh, seketika aku berubah jadi ranger kuning.
Load Remaining (79)

Comment

Login and hide ads.
Login and hide ads.