2
Brii @BriiStory
Kita lanjut cerita di #rumahteteh ya.. Sekali lagi, buat yang masih belum kenal siapa teteh, silahkan acak-acak tabs like.. Gak kenal maka gak sayang, dan gak merinding.. Yuk mulai.. #memetwit @InfoMemeTwit pic.twitter.com/OIpSiHG8KW
Expand pic
Brii @BriiStory
Teh Yanti, seorang ibu ber-anak satu yang tinggal dekat #rumahteteh. Letak rumahnya di ujung paling depan gang, tepat di pinggir jalan utama, hanya berjarak sekitar 40 meter dari #rumahteteh. Seorang perempuan yang berparas cukup cantik, waktu itu berumur sekitar 35 tahun.
Brii @BriiStory
Dia memiliki warung makan yang dikelolanya sendiri, warung yang berdiri di halaman depan rumahnya. Masakan sunda menjadi andalannya, dia memasak makanan jualannya sendiri tanpa bantuan siapun. Harus diakui, hasil masakannya cukup enak.
Brii @BriiStory
Dan iya, bisa ditebak, kalau warung makan miliknya itu menjadi langganan kami. Disamping memang masakannya enak, harganya juga cukup ramah dengan kantong mahasiswa. Ditambah, teh Yanti orangnya sangat ramah dan baik hati, gak butuh waktu lama bagi kami untuk mengakrabkan diri.
Brii @BriiStory
Warung makan teh Yanti tergolong cukup ramai pembeli, jadi bukan hanya kami yang menjadi pembeli tetap. Kebanyakan pembelinya berasal dari lingkungan sekitar.
Brii @BriiStory
Warungnya berbentuk seperti layaknya warung makan kebanyakan, dibangun semi permanen berbahan dasar bambu. Cukup besar dan nyaman tempatnya, karna itulah kami sering menghabiskan waktu di warung itu hingga malam, walau hanya sekedar minum kopi.
Brii @BriiStory
Oh iya, gw mau cerita sedikit tentang teh Yanti. Walaupun terlahir di Bandung, tetapi sejak kecil dia tinggal di Jakarta, ikut dengan tantenya. Hanya sesekali teh Yanti kecil mengunjungi rumah orang tuanya di Bandung, biasanya pada waktu libur sekolah.
Brii @BriiStory
Beliau baru pindah dan menetap di Bandung setelah dewasa, ketika berpisah dari suaminya. Kembali ke Bandung dan menempati rumah orang tua, rumah yang pada akhirnya menjadi tempat dia mendirikan warung makan.
Brii @BriiStory
Ayah teh Yanti sudah lama meninggal, sedangkan ibunya tinggal di rumah adiknya yang tinggal di daerah Margahayu, masih di Bandung juga. Teh Yanti mulai membuka warung kira-kira setelah hampir satu tahun kami tinggal di #rumahteteh. ~~
Brii @BriiStory
Pada suatu siang, gw pulang kuliah seperti biasanya. Jam sudah menunjukkan pukul satu siang, saat dimana perut sudah keroncongan meminta untuk diisi makanan.
Brii @BriiStory
Sejak ada warung teh Yanti, gw dan teman-teman kost lainnya lebih sering untuk membeli makan di tempat itu, entah itu sarapan, makan siang, maupun makan malam. Setelah berganti pakaian, gw langsung beranjak ke warung teh Yanti, yang jaraknya cukup dekat dengan #rumahteteh.
Brii @BriiStory
Sesampainya di warung, gw melihat kalau tempat itu cukup ramai, mungkin karna memang sudah jam-nya makan siang. Teh Yanti terlihat sibuk melayani pembeli. Meja dan kursi penuh semua, memaksa gw untuk berdiri sejenak menunggu sampai ada orang yang selesai makan.
Brii @BriiStory
Sudah beberapa bulan teh Yanti memulai usaha warungnya, walaupun minggu-minggu pertama terlihat sangat sepi pembeli, tapi setelahnya beliau gak harus menunggu lama untuk mulai tersenyum lebar karna warungnya mulai ramai.
Brii @BriiStory
Rata-rata konsumennya adalah mahasiswa, karna memang di sekitarnya cukup banyak kost-kostan. ** “Eh Brii, mau ngopi?” tanya teh Yanti yang akhirnya menyadari akan kehadiran gw, ditengah kesibukannya melayani pembeli.
Brii @BriiStory
“Ngopi? Makan dong teh..” jawab gw, sambil berjalan menuju kursi kosong yang baru saja ditinggalkan oleh orang yang sudah selesai makan. “Oh.., ya gak apa-apa, berarti ini makan yang kedua kali dong ya..” ujar teh Yanti kemudian.
Brii @BriiStory
Makan kedua kali? Knapa teh Yanti bilang begitu? Gw kan dari pagi belum makan, kok tiba-tiba dia bilang begitu?
Brii @BriiStory
Gw bingung, tapi memutuskan untuk gak ambil pusing dan langsung mengambil makanan. Oh iya, di warung teh Yanti, gw dan teman-teman penghuni #rumahteteh sudah biasa mengambil makanan sendiri sesuai selera, self service lah ceritanya. **
Brii @BriiStory
Warung sudah mulai sepi ketika gw selesai makan, hanya tinggal beberapa orang yang masih duduk di kursinya. Masih penasaran dengan omongan teh Yanti ketika gw baru datang tadi, akhirnya gw membuka perbincangan. “Teh, kok tadi bilang saya mau makan yang kedua kali?” tanya gw.
Brii @BriiStory
“Kamu tuh gimana sih, kan tadi teteh udah kirim makanan buat kamu dan Sisi. Adit yang antar makanannya ke rumah jam sebelas tadi.” Jawab teh Yanti, terlihat yakin. Adit adalah anak laki-laki dari teh Yanti, berumur sekitar 12 tahun.
Brii @BriiStory
“Sisi yang telpon tadi, katanya minta diantarkan makanan buat makan siang, sekalian buat Brii juga” lanjut teh Yanti lagi.
Brii @BriiStory
Hmmm… Oke, yang pertama, kami penghuni #rumahteteh, termasuk Sisi dan Memi, memang sering kali menelpon teh Yanti untuk memesan makan, dan minta diantarkan ke rumah.
Brii @BriiStory
Kalau teh Yanti sedang senggang dan gak terlalu sibuk, maka dia yang mengantarkan sendiri makanan pesanan kami. Tapi kalau dia sedang gak bisa, Adit yang bertugas mengantarkan makanan.
Brii @BriiStory
Yang kedua, ketika gw sampai di rumah sepulang kuliah tadi, rumah dalam keadaan kosong, gw yakin banget. Sisi dan Memi hampir gak pernah berada di rumah pada siang hari, kecuali akhir pekan dan hari libur. Iya, gw yakin banget kalo rumah benar-benar kosong. Ada yang aneh..
Brii @BriiStory
Ditengah-tengah perbincangan gw dan teh Yanti, tiba-tiba Adit muncul dari dalam rumah, sontak gw langsung memanggilnya. “Adit, tadi waktu nganter makanan, yang bukain pintu siapa?” tanya gw penasaran.
Brii @BriiStory
“Yang buka pintu Teteh, yang ambil makanan Teteh, yang kasih uangnya juga Teteh..” Adit menjawab dengan lancar. Ohh, Gw mulai mengerti.
Load Remaining (88)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.