0

Koran Sulindo – Media sosial menjelang pemilihan umum tidak lagi sekadar ruang interaksi sosial antar warganet. Kini, platform media sosial menjadi arena pengawasan, pengendalian, pendisiplinan atau malah penghukuman para penggunanya.

Memasuki tahun politik 2018, ada kecenderungan politisasi media sosial di Indonesia. Aktivitas warga Internet membagikan, mengomentari berita, politik, ekonomi, religi bahkan peristiwa olahraga sekalipun dapat dibaca sebagai pengkubuan politik.

Bagi warganet Indonesia, ada dua kubu–yang tidak enak didengar penyebutannya–yaitu cebong dan kampret. Cebong berasal dari kata kecebong (bayinya katak)–sebutan peyoratif untuk pendukung pemerintah–dan kampret, bahasa lain dari kelelawar, ejekan buat kubu oposisi.

Dua kubu ini saling mengawasi dan menghukum kesalahan-kesalahan yang dilakukan anggota kubu lain di arena media sosial.

Digital Vigilantism

Peneliti komunikasi Daniel Trottier menyebut istilah digital vigilantism, saat sekelompok warga negara dibuat tersinggung oleh aktivitas warga lainnya untuk kemudian membalas secara terkoordinasi menggunakan perangkat seluler dan platform media sosial.

Cara vigilante di media sosial adalah dengan menyebarkan informasi personal, termasuk pengumbaran jenis pelanggaran si target ke berbagai platform mulai dari Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, hingga WhatsApp Group.

Praktik vigilante ini, menurut Daniel Trottier, dimediasi oleh aspek “sosial” dalam media sosial yang menghubungkan antara ruang personal dan sosial sehingga memungkinkan terjadinya intervensi kehidupan pribadi oleh sesama warganet.

Baca Selengkapnya : https://koransulindo.com/medsos-arena-vigilantisme-digital-jelang-pemilu-2019/

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.
Login and hide ads.