1
Login and hide ads.
Pelan-pelan, Ardi! @awemany 10/09/2018 12:40:25 WIB
Bua ha ha. Gue udah kasih warning, bikin narasi Jokowi membangun untuk orang kaya itu ngga susah. Eh, ketua partai pupuk bawang malah ngebanggain jalan tol. Dibandingin ama jalan gratisnya SBY aja udah bakal mingkem. :p
Pelan-pelan, Ardi! @awemany 10/09/2018 14:14:39 WIB
Gini lho guys. Angka ekonomi itu ngga turun dari langit. Itu adalah buah kebijakan. Rezim Jokowi bangga sekali dengan angka inflasi yang 3.5% itu. Kebijakan apa yg bermain? Tentu saja impor pangan. Karena komponen terbesar angka inflasi itu adalah harga pangan.
Pelan-pelan, Ardi! @awemany 10/09/2018 14:15:15 WIB
Kalo anda oposisi dan treak soal impor pangan ya nanti harus bersiap dengan kenaikan angka inflasi. Sebaliknya, rezim Jokowi ngga usah pura" concern dengan petani. Lha wong demi tingkat inflasi, petanilah yang dikorbankan
Pelan-pelan, Ardi! @awemany 10/09/2018 14:16:22 WIB
Sama juga dengan penurunan angka pengangguran. Dengan pertumbuhan yg cuma 5% ini ngga make sense. Ternyata, ada peningkatan drastis dari mereka yg bekerja kurang dari 20 jam/minggu. Ngga terbaca sebagai pengangguran. Tetap saja ada gap pemanfaatan sumberdaya manusia.
Pelan-pelan, Ardi! @awemany 10/09/2018 14:18:14 WIB
Rezim Jokowi saat ini lagi bermain" dengan statistik. Memoles agar terlihat baik namun PR besarnya tidak dikerjakan. Petani kita tetap susah. Kerjaan informal (seperti ojol, taxol dst) bermunculan, namun kesejahteraan ya segitu" aja. Kemiskinan cuma turun 1%. Growth cuma 5% an.
Pelan-pelan, Ardi! @awemany 10/09/2018 14:18:52 WIB
Kedepannya ya ngga bisa cuma main poles data. Inflasi stabil itu harus karena kekuatan pertanian atau produksi barang kita sendiri. Bukan import. Pengangguran turun itu karena lapangan kerja formalnya memang lebih banyak. Bukan karena orang harus survive kerja serabutan. Gitu.
Pelan-pelan, Ardi! @awemany 10/09/2018 15:17:41 WIB
Duh! Pendukung Jokowi ini terlalu arogan kalo membayangkan akan menang mudah pada 2019. Sungguhpun menguasai semuanya (dari jumlah parpol, media dan kelihatannya pendanaan) hasil akhirnya ditentukan pencapaian ekonomi menjelang hari" pemilihan. Bisa kalah.
Pelan-pelan, Ardi! @awemany 10/09/2018 15:21:05 WIB
Utang udah mendekati angka psikologis 30% PDB. Dollar udah mendekat angka psikologis 15.000. Cadangan devisa udah balik ke level 2014. Satu"nya yg bikin slamet sampai sekarang cuma inflasi. Bisa tahan sampai kapan?
Pelan-pelan, Ardi! @awemany 10/09/2018 15:24:26 WIB
Anda pikir infografis" itu jadi penting saat perusahaan" mulai rontok gegara dollar tinggi? Ada gunanya gitu pencitraan gunting pita saat imbas harga dollar sudah menyentuh harga sembako? You wished.
Pelan-pelan, Ardi! @awemany 10/09/2018 15:28:21 WIB
Bahkan pendukung militan Jokowipun mungkin udah mulai males. Saat duit buzzernya dipotong gegara boss"nya udah kehabisan bohir. Emang itu para bohir ngga bisa baca peta pertarungan? :p
Pelan-pelan, Ardi! @awemany 10/09/2018 15:45:10 WIB
Dalam dunia anak muda, cool atau keren itu dikorelasikan dengan semangat rebel. Mendobrak tatanan. Jadi aneh banget kalo merasa cool dengan dukung calon yg cawapresnya aja udah status quo beneran. Bertolak belakang dengan konsep cool itu sendiri.
Pelan-pelan, Ardi! @awemany 10/09/2018 15:42:03 WIB
Saya cuma mau mengingatkan saja ya. Ngga ada yg cool atau keren dalam mendukung Jokowi. Bahwa influencer di TL ini banyak yg dukung Jokowi ya karena ngga mau mikir lebih aja. Malah sibuk nyalah"in SJW.
Pelan-pelan, Ardi! @awemany 10/09/2018 15:47:22 WIB
Yg sekarang justru terlihat di TL adalah semangat untuk mengasosiakan diri aja. Ini juga fenomena anak muda. Kalo ngga bisa cool ya ikut yg dipersepsikan sebagai cool. Influencer tadi. Ya tetap aja jadi pak turut. Jangan mau ya. :)
Pelan-pelan, Ardi! @awemany 10/09/2018 16:18:07 WIB
Gue mah orangnya gampang. Orang yg datang dengan respect kita beri respect. Orang ngetawain ya kita ketawain balik. Apa susahnya?
Pelan-pelan, Ardi! @awemany 12/09/2018 09:33:50 WIB
Dengan kekuatan media dan presence di sosmed, melakukan serangan terhadap pencitraan Jokowi adalah pertempuran yang sia". Yg tahu itu cuma pencitraan udah ngga dukung. Yg ngga tahu juga susah disadarkan. Otaknya ngga nyampe. Mau diapain?
Pelan-pelan, Ardi! @awemany 12/09/2018 09:35:16 WIB
Mengalahkan petahana itu emang kerjaan ngga mudah. Sumberdayanya berlipat. Karenanya oposisi harus memberikan tawaran nilai yang jauh lebih besar. Oposisi harus melakukan apa yang biasa disebut sebagai disruptive innovation. Harus ada lompatan pemikiran.
Pelan-pelan, Ardi! @awemany 12/09/2018 09:36:46 WIB
Kalau negara kita anggap sebagai penyedia tawaran nilai maka oposisi mesti muncul dengan solusi yg membongkar tatanan lama. Mencari paradigma baru dalam melakukan cost efficiency atau dengan "tehnologi" memberikan lompatan nilai yang lebih efektif. Ngga ada cara lain.
Pelan-pelan, Ardi! @awemany 12/09/2018 09:37:29 WIB
Saya sudah teriak tentang kebutuhan tawaran nilai dari oposisi ini sedari lama. Ngga cuma teriak, saya tuliskan dalam bentuk artikel sebagai masukan. Koalisi oposisi pasti lebih pinter dari saya. Bisa muncul dengan gagasan/tawaran yang lebih disruptif. ardiwirdamulia.com/2018/09/11/jik…
URL Mind in progress: Ardi Wirdamulia Jika Oum Awe Jadi Presiden Jika saya jadi presiden, yang beneran ya, bukan cuma petugas partai, saya mau menuntaskan agenda reformasi 1998. Melucuti kekuasaan totaliter negara. Mencukupkan kekuasaan negara sampai yang kita p…
Pelan-pelan, Ardi! @awemany 12/09/2018 09:38:15 WIB
Saya tahu, gagasan pertama dari tulisan itu terlalu ekstrim. Tapi begitulah contoh suatu disruptive innovation. Gagasan kedua di sana juga sama disruptivenya. Dalam bahasa @_haye_ membakar habis lemak" birokrasi. Kalau itu diwujudkan, kita pindah lapangan bermain. Yg lebih baik.
Pelan-pelan, Ardi! @awemany 12/09/2018 09:39:04 WIB
Kalau oposisi ngga menyadari tentang pentingnya disruptive innovation, ucapkan selamat tinggal bagi cita" ganti presiden. Mimpi doang itu mah. Ngga ada menangnya kalo cuma mau adu banyak"an deklarasi atau nyinyiran emak".  Sampai di sini paham? :)

Bookmarked tags

No tags
Login and hide ads.