3
Imelda A. Sanjaya @Imelda_ASanjaya
Sebagai guru yang pernah mengajar ribuan anak Tangsel, ratusan anak Jakarta Utara dan belasan murid privat Jaksel, saya punya analisa sendiri yang ga usah dipercaya mengenai cara bicara anak muda dari wilayah-wilayah di atas.
Imelda A. Sanjaya @Imelda_ASanjaya
Jadi dimulai dari Tangsel dulu kali, ye. Tangsel sendiri puluhan tahun yang lalu adalah kampung-kampung penduduk asli dikelilingi kebun karet penduduk. Lalu datanglah pengembang besar macam Jaya Property dan Sinar Mas yang membuka lahan dan menjual Bintaro dan Serpong sbg 'kota'
Imelda A. Sanjaya @Imelda_ASanjaya
Tentu saja pembeli yang puluhan tahun lalu adalah pasangan muda dengan anak balita sekarang sudah mencapai usia pensiun atau lebih. Pembeli yang kalangan menengah ke atas ini membuat 'kota-kota baru'ini menjadi terkesan bergengsi,
Imelda A. Sanjaya @Imelda_ASanjaya
Dan mengundang banyak pembeli baru seiring perkembangan wilayah. Berkumpulnya kalangan menengah ke atas yang nggak cukup ditampung di sekolah umum biasa dan merasa sekolah di Jakarta kadang kejauhan membuat suburnya sekolah swasta dan sekolah bilingual bahkan yang full english.
Imelda A. Sanjaya @Imelda_ASanjaya
Nah, anak-anak sub-urban ini sejak usia dini terbiasa berbicara bahasa campuran Indonesia dan Inggris, yang murni di sekolah swasta non Inggris pun anak orang berpunya yang pasti belajar bahasa Inggris di luar karena tujuannya melanjutkan pendidikan ke luar negeri.
Imelda A. Sanjaya @Imelda_ASanjaya
Saya pernah bertahun mengajar di salah-satu sekolah elit nyaris full english di wilayah ini, dan terbiasa dengan anak-anak yang bahasa Indonesianya yaaa begitulah. Ada sebagian mata pelajaran Indonesia yang wajib diajarkan dan itu yang membuat mereka terpaksa berinteraksi dlm
Imelda A. Sanjaya @Imelda_ASanjaya
bahasa Indonesia. Jadi murid-murid saya ini lebih nyaman berbicara dalam bahasa Inggris dibanding bahasa Indonesia. Tapi jika mereka harus bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia mereka akan berusaha, namun kosakata bahasa Indonesia mereka pas-pasan sehingga pencampuran bahasa tjdi
Imelda A. Sanjaya @Imelda_ASanjaya
Saya pernah mengajar ekonomi akuntansi dalam bahasa Indonesia untuk keperluan UN, dan ada siswa yang stuck nggak bisa mengerjakan soal sama sekali karena pada pertanyaannya ada kalimat: "perlengkapan dipakai separuhnya." Dia tidak paham bhw separuh itu adalah setengah alias 50%
Imelda A. Sanjaya @Imelda_ASanjaya
Anak yang sama ini juga nggak paham kalo angkot harus ditunggu bukan ditelpon seperti taxi. Pernah juga bawa anak2 kunjungan ke Pasar Modern BSD naik angkot, ada yang excited luar biasa karena baru kali itu naik angkot sampai minta fotoin segala.
Imelda A. Sanjaya @Imelda_ASanjaya
Oke, itu kalangan pendatang sub-urban Bintaro, BSD dan Alam Sutera ya. Sekarang saya membahas penduduk asli Tangsel. Tangsel nan luas ini dihuni setidaknya 3 sub-etnis penduduk asli: Sunda, Banten, Serpong.
Imelda A. Sanjaya @Imelda_ASanjaya
Wilayah Sebagian besar Serpong sampai mendekati Parung Panjang dan Gunung Sindur kebanyakan berbahasa Sunda. Bahasa Sundanya lebih mirip ke Bogor daripada orang Bandung plus istilah 'bae'yang agak ngegas kalo diucapkan. Serpong utara, Lengkong Karya, Bintaro, sebagian Alam Sutra
Imelda A. Sanjaya @Imelda_ASanjaya
dan Jelupang kebanyakan dihuni etnis Betawi. Kelihatan jelas dari budaya kalo nikahan dan bahasanya. Arah Gading Serpong, Kelapa Dua dan Summarecon yang sebenarnya masuk kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang (bukan Tangsel) berbicara antara bahasa Sunda, Betawi dan Banten.
Imelda A. Sanjaya @Imelda_ASanjaya
loh, apa bedanya Bahasa Banten dan Sunda Bogor? Kalo sudah sering denger nanti tau bedanya, ya. 😁 Nah, dari kenalan-kenalan yang penduduk asli ini banyak istilah lucu tapi ya nggak keminggris lah pastinya.
Imelda A. Sanjaya @Imelda_ASanjaya
Lanjut ke Jaksel. Jaksel mungkin dihuni orang kaya lama, atau keturunan orang kaya lama yang sudah lebih dulu punya kebiasaan menyekolahkan anak ke luar negeri. Mereka sudah biasa dengan sekolah internasional dan universitas luar negeri jauh sebelum kaum sub-urban memulainya.
Imelda A. Sanjaya @Imelda_ASanjaya
Sebut saja nama sekolah internasional di wilayah ini. Oh, ya sekolah di sini juga biasanya lebih mahal karena kebanyakan memakai kurikulum IB. Sementara sekolah inter di Tangsel banyak memakai Cambridge yang lebih terjangkau. Karenanya jgn heran sekolah punya cabang dgn kurikulum
Imelda A. Sanjaya @Imelda_ASanjaya
berbeda. Misalkan Mentari School dan Binus School Jaksel berkurikulum IB, sementara Mentari School Bintaro dan Binus School Serpong berkurikulum Cambridge. Karena pasarnya juga beda, tapi memang tujuan universitas dari kedua kurikulum ini juga beda sih.
Imelda A. Sanjaya @Imelda_ASanjaya
Nah, karena terbiasa dengan kultur full day school yang berbahasa Inggris dan orangtua yang juga berbahasa Inggris anak Jaksel tadi hanya berbicara bahasa Indonesia sekedarnya dengan kosakata terbatas. Sekali lagi ini untuk kalangan Jaksel menengah ke atas, ya. Dan itu nggak bnyk
Imelda A. Sanjaya @Imelda_ASanjaya
Jadi kalo ke belakang ISTN, Ampera, Pejaten dalam, bahkan di Kebayoran Baru sekalipun, nggak semua anak Jaksel berbicara dengan wicis dan literally. 😂 Oiya, pernah ngajar private di Dharmawangsa, muridnya anak-anak dubes. Ini mah full inggris dalam logat mereka masing-masing!
Imelda A. Sanjaya @Imelda_ASanjaya
Jadi kalo ada yang menghina aksen kamu atau pronounciation sekalipun, cuekin aja. Beneran, bule New Zealand dan Aussie itu bahasa Inggrisnya aja nggak dimengerti expat UK atau USA, jadi kamu ga usah malu kalo berbahasa Inggris dengan logat daerah medok.
Imelda A. Sanjaya @Imelda_ASanjaya
Lanjut ke utara, ya. Pernah kuliah di wilayah Barat, tinggal di Jaksel dan Tangsel, aku juga pernah lama ngajar di Jakarta Utara. Muridnya 80% Indonesia berbahasa asli Hokkian, tapi sama dengan Tangsel atau Jaksel, mereka dari kecil sudah lebih lempeng berbicara Inggris.
Imelda A. Sanjaya @Imelda_ASanjaya
Kebanyakan muridku bisa bicara Hokkian setelah SMA karena oma-opa berbicara di rumah dalam bahasa tersebut selain Bahasa Indonesia , mau gak mau karena kultur Asia yang kental dengan menghormati orangtua, mereka akan bicara sesuai bahasa oma-opa. Gak semua ortu di Utara
Imelda A. Sanjaya @Imelda_ASanjaya
berbicara dalam Bahasa Inggris, kok. OKL dan OKB memang ada, jadi ada yang baru generasi anaknya yang lancar berbahasa Inggris. Nah, anak-anak ini kesulitan jika mengambil kelas Mandarin, karena Mandarin memang bukan bahasa ibu mereka. Lafal dan tone aja beda.
Imelda A. Sanjaya @Imelda_ASanjaya
Anak utara lebih enak diajak ngomong bahasa Indonesia ditambah istilah Hokkian, daripada mereka diajak ngomong Mandarin. Istilah seperti cuan, cengli, sama populernya dengan istilah kekinian seperti 'sabi' 'woles' bagi mereka.
Imelda A. Sanjaya @Imelda_ASanjaya
Nah, sekali lagi percampuran bahasa dengan Inggris hanya untuk anak-anak SPK atau sekolah inter, sementara siswa sekolah negeri atau swasta non english biasanya bicara dalam Bahasa Indonesia, kok. Bahkan dengan keluarga sendiri, plus tambahan istilah Hokkian pastinya.
Load Remaining (12)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.