WASPADAI HOAX DAN PROVOKASI MEDIA BERBAHASA INGGRIS | By @PartaiSocmed

Kesannya seolah kredibel sebagai koran asing ternama yg punya sejarah panjang. Padahal cuma bikinan 'orang dekat' Prabowo. Ketipu deh! Hehehee
Syndrome inlander crime hoax provokasi Ahok law
0
#99 @PartaiSocmed
WASPADAI HOAX DAN PROVOKASI MEDIA BERBAHASA INGGRIS pic.twitter.com/RIxC5gHLJ7
Expand pic
#99 @PartaiSocmed
Sebagian dari bangsa ini masih punya masalah dengan mental inlander, bahkan media2 resmi kita ikut2an latah dgn syndrome ini. Kami sebut saja sebagai Inlander Syndrome.
#99 @PartaiSocmed
Kemarin malam kami sempat menulis tentang media resmi yg ikut2an jadi penyebar hoax akibat mental inlander ini twitter.com/PartaiSocmed/s…
#99 @PartaiSocmed
Contoh paling gres adalah tentang isu Ahok akan menikah lagi. Hampir semua media resmi menuliskan berita ini tanpa lakukan cross check sama sekali. Bahkan ada yg memberi cerita2 tambahan agar beritanya tampak original pic.twitter.com/9mXiaPjnRO
Expand pic
#99 @PartaiSocmed
Padahal berita ini awalnya adalah dari tulisan John Mcbeth di Asia Times. Sila baca alinea yg disorot. Dari sinilah kemudian cerita ular menjadi naga setelah ditambahi bumbu2 penyedap oleh oknum2 sok akrab dan diliput oleh media2 resmi Indonesia pic.twitter.com/J9vXwLYtYK
Expand pic
#99 @PartaiSocmed
Itulah akibat mental inlander. Dipikir semua tulisan dari media asing berbahasa Inggris pasti valid. Padahal belum tentu. Parahnya media2 resmi kita punya bawaan penyakit sindroma inlander sehingga umpan langsung di caplok dan diberitakan ramai2 dgn tambahan bumbu2
#99 @PartaiSocmed
Padahal sebelum membuat tulisan tersebut John Mcbeth tidak pernah ketemu Ahok. Dari mana dia tahu Ahok akan menikah lagi? Anaknya Ahok saja tidak tahu.
#99 @PartaiSocmed
Dan tahukah Anda siapa John Mcbeth itu? Dia adalah jurnalis pro Prabowo. pic.twitter.com/QdWQQgZ6kH
Expand pic
#99 @PartaiSocmed
Sekarang kita memasuki tahun politik. Di pilpres 2014 dihebohkan oleh sebuah tabloid fitnah bernama Obor Rakyat yg belakangan diakui oleh Ketum PPP Romahurmuziy yg saat itu jadi bagian dari tim kampanye Prabowo-Hatta
#99 @PartaiSocmed
Sekarang kubu yg sama melakukan strategi yg sama dengan sedikit modifikasi. Yaitu menggunakan media asing bahkan secara khusus membuat tabloid berbahasa Inggris. Antara lain tabloid bernama "Independent Observer" pic.twitter.com/rnESXzpz5Z
Expand pic
#99 @PartaiSocmed
Jangan salah, "Independent Observer" ini tidak sama dengan "The Observer" yg didirikan tahun 1791. pic.twitter.com/GKvLBJWjtb
Expand pic
#99 @PartaiSocmed
Menurut Fadli Zon "Independent Observer" itu diterbitkan oleh orang dekat Prabowo. Sampai disini clear kan? pic.twitter.com/HLbiVBuGfZ
Expand pic
#99 @PartaiSocmed
Lalu mengapa 'orang dekat' Prabowo itu menggunakan nama Observer. Mungkin untuk mendapatkan kesan seolah bagian dari "The Observer". Dan mengapa pakai bahasa Inggris? Mungkin juga untuk memanfaatkan Inlander Syndrome yg banyak di derita bangsa ini.
#99 @PartaiSocmed
Kesannya seolah kredibel sebagai koran asing ternama yg punya sejarah panjang. Padahal cuma bikinan 'orang dekat' Prabowo. Ketipu deh! Hehehee
#99 @PartaiSocmed
Ini adalah era informasi dimana masyarakat dibanjiri oleh informasi, baik informasi yg benar maupun informasi sampah. Bahkan media massa resmi juga ikut2an menyebarkan informasi sampah. Jadi kemampuan memilah informasi menjadi skill yg wajib dimiliki.
#99 @PartaiSocmed
Terlepas dari begitu banyak media resmi yg lalai melakukan cross check sehingga jatuh jadi media gosip, kami bersyukur masih ada media yg menjalankan kaidah2 jurnalisme yg benar. Antara lain Tempo metro.tempo.co/amp/1124013/st…
#99 @PartaiSocmed
Lalu bagaimana kita sebagai masyarakat awam menyikapi banjir informasi ini? Memang agak sulit karena media resmi pun sekarang ikut jadi penyebar hoax. Tapi kuncinya adalah sikap kritis.
#99 @PartaiSocmed
Kita tidak bisa lagi berpandangan bahwa apa yg disampaikan media mainstream atau bahkan tokoh publik pasti benar. Kita tetap harus mengkritisinya. Siapapun bisa jadi penyebar hoax sekarang ini.
#99 @PartaiSocmed
Dalam contoh gosip Ahok akan nikah lagi itu contohnya. Kita tidak boleh menganggap mentang2 ditulis oleh Asia Times maka pastilah beritanya benar. Kita harus kritis bertanya, dari mana John Mcbeth tahu Ahok akan menikah? Apakah dari Ahok langsung atau dari imajinasi?
#99 @PartaiSocmed
Jika kita tidak berhasil menemukan jawabannya maka kita tidak perlu ikut2an menyebarkan berita tersebut. Sebab bisa jadi kita ikut menjadi penyebar hoax hanya karena percaya pada media mainstream atau lebih parahnya percaya pada media asing.
#99 @PartaiSocmed
Bicara tentang media asing, pilpres Amerika yg terakhir dipenuhi oleh berbagai hoax dari media2 besar di Amerika sana. Jadi betapa ironisnya jika kita langsung menganggap media asing pasti kredibel.
#99 @PartaiSocmed
Sekian kultwit kami. Semoga mencerahkan dan menambah wawasan kita semua. Netizen cerdas adalah netizen yg kritis!

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.