1
Andreas Harsono @andreasharsono
Meiliana, an Indonesian woman who asked a mosque to lower its loudspeaker, is tried for blasphemy against Islam in Tanjung Balai, N. Sumatra merdeka.com/peristiwa/terd…

Dalam dakwaan JPU disebutkan bahwa perkara itu bermula saat Meiliana mendatangi tetangganya di Jalan Karya Lingkungan I, Kelurahan Tanjung Balai Kota I, Tanjung Balai Selatan, Tanjung Balai, Jumat (22/7/2016) pagi. Dia berkata kepada tetangganya, "Kak tolong bilang sama uwak itu, kecilkan suara mesjid itu kak, sakit kupingku, ribut," sambil menggerakkan tangan kanannya ke kuping kanan.

Permintaan Meiliana disampaikan ke BKM Al Makhsum. Jumat (29/72016) sekitar 19.00 WIB, pengurus masjid mendatangi kediamannya dan mempertanyakan permintaan perempuan itu.

"Ya lah, kecilkanlah suara mesjid itu ya, bising telinga saya, pekak mendengar itu," jawab Meiliana.

Sempat juga terjadi adu argumen ketika itu. Setelah pengurus masjid kembali untuk melaksanakan salat isya, suami Meiliana, Lian Tui, datang ke masjid untuk meminta maaf.

Namun kejadian itu terlanjur menjadi perbincangan warga. Masyarakat menjadi ramai. Sekitar pukul 21.00 WIB, kepala lingkungan membawa Meiliana ke kantor kelurahan setempat. Sekitar pukul 23.00 WIB, warga semakin ramai dan berteriak.

Bukan hanya itu, warga mulai melempari rumah Meiliana. Kejadian itu pun meluas. Massa mengamuk membakar serta merusak sejumlah vihara dan klenteng serta sejumlah kendaraan di kota itu.

URL merdeka.com 491 Terdakwa penodaan agama di Tanjung Balai dituntut 1 tahun 6 bulan penjara | merdeka.com Meiliana (44), terdakwa perkara penodaan agama yang memicu kerusuhan bernuansa SARA di Tanjung Balai, Sumut, dua tahun lalu, menjalani sidang tuntutan di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Senin (13/8). Perempuan ini dituntut dengan hukuman 1 tahun 6 bulan pen
🌻 @forfundoang
@ribkadel @andreasharsono :’) hm ndak apa perubahan ya bu indonesia kita:’) btw, dulu salah satu gereja di kampung ku, digusur dan dihancurkan rata dgn tanah dgn alasan “musik gereja ribut” 🧐🧐
raz @cloudriftoraz
@ekaoddlass ditambah gak ada audio engineering basics, tambah sakit telinga pula.
Eka @ekafyi
@cloudrifto nah ini juga. di luar perkara blasphemy law, mob rule dsb — kalo pake centralized recording dgn sound system yang layak (minimal gak pecah) sih jauh lebih mendingan, kemungkinan ada yg keberatan pun lebih kecil.
Kiki Tsalatsita @rmahardya
@ekaoddlass Pdhl ada aturan yang dikeluarkan Kemenag ttg pengeras suara masjid, sayangnya gak disertai enforcement dan gak ada sanksi apapun.
Eka @ekafyi
@syarlothsita Ternyata dasar hukumnya "Instruksi Dirjen Bimbingan Masyarakat". Kayaknya bukan hukum positif yg mengikat kayak UU/ Perpres/ Perpu/ Perda ya? Dan ga ada keterangan sanksi. At this point, gw rasa yg bisa enforce tanpa bikin konflik lebih jauh cuma 2 ormas besar (NU & Muhamadiyah). pic.twitter.com/nYcXcOA4BM
Expand pic
Eka @ekafyi
Warga komplain speaker masjid dekat rumahnya terlalu keras. Kebetulan dari agama & etnis minoritas. Warga lain ngamuk, nyerang si pengkomplain, rumah, & rumah ibadahnya. Yg dipidana, KORBAN. Blasphemy law emang cuma jadi ajang pembenaran penindasan buat unjuk kekuasaan aja. 🖕 twitter.com/andreasharsono…
Eka @ekafyi
Iya, di Bali juga pernah kasus serupa (cuma gak sebrutal itu) Bukan perkara agama mana, tapi intinya penindasan ke yg lemah oleh yg kuat; anti kritik karena merasa kuat; premanisme yg institutionalised; itu yg 🖕🖕🖕🖕
Ewing @aewin86
@andreasharsono Ada juga yang muslimah yang terkena pasal penistaan agama hindu dan di penjara 18 bulan. Problemnya ada di UU. Dari tahun 1965-2003 hanya ada 4 kasus penistaan agama. 2004-2017 ada 89 kasus. Benar kah?
Andreas Harsono @andreasharsono
@sutrisnoam @dedensujana Pada Oktober 2009 empat warga Indonesia –Abdurahman Wahid, Dawam Rahardjo, Maman Immanul Haq, dan Musdah Mulia-- minta Mahkamah Konstitusi cabut pasal penodaan agama. Gugatan tsb ditolak pada April 2010. Pasal tsb kini jadi masalah hrw.org/id/news/2017/0…
Andreas Harsono @andreasharsono
@mustikari @dioptr @aewin86 "Pasal penodaan agama adalah pasal karet, punya potensi kriminalisasi penyampaian pendapat secara damai," kata @PearsonElaine, "Ia seperti 'Pedang Damocles' yang menggantung di atas banyak kepala kaum minoritas di Indonesia" hrw.org/id/news/2017/0…
Mick K @Mick_Khoo
@cindycn_ @ribkadel @andreasharsono Dulu di Vihara ketika ada kebaktian, bbrp pria mengedor dan memaki2 blg suaranya ribut. Pdhl suaranya bahkan ga ampe keluar komplek Viharanya. Minoritas bs apa? Ngge2 doang lah..
Demokrasi melahirkan sengkuni2 @adalahiu
@Mick_Khoo @cindycn_ @ribkadel @andreasharsono Di daerah mana tuh.. jangan nyebar hoax lah.. barongsai aja bebas. Yang ga boleh tuh takbir keliling di jaman ahok
liony wijaya @ny_lony
@adalahiu @Mick_Khoo @cindycn_ @ribkadel @andreasharsono Bener kok dimana2 vihara diperumahan GAK boleh pake speaker sama sekali.. emg prnh dgr kebaktian agama budha dan kristen pk speaker suaranya kmn2 diperumahan?cb sebut satu. Dan gue kasih ilmu gratis buat lo yg ga pinter: Barongsai bukan mewakilkan agama tapi kebudayaan.

Pemerintah Indonesia akan memperluas pasal undang-undang penodaan agama dari satu pasal menjadi tujuh.


Andreas Harsono @andreasharsono
Indonesian plans to expand the scope of the abusive 1965 blasphemy law, from one article to a total of seven criteria. It's going to be more repressive toward religious minorities hrw.org/news/2017/07/2…

Berbeda dengan pasal sebelumnya, pidana terhadap agama diatur dalam beberapa pasal. Setidaknya ada enam pasal yang mengatur pidana terhadap agama.

Pasal-pasal tersebut terbagi menjadi dua bagian dalam di Bab VII. Bagian pertama yang diberi judul Tindak Pidana terhadap Agama terdapat tiga pasal, yakni pasal 348, 349, 350. Bagian kedua berjudul Tindak Pidana terhadap Kehidupan Beragama dan Sarana Ibadah.

Load Remaining (2)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.