0

Presiden klub Internazionale Milan, Erick Thohir menilai tim sepakbola asal Indonesia memiliki kesempatan untuk melakukan penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO). Menurutnya, klub-klub bola dalam negeri kini sedang dalam kondisi keuangan yang cukup sehat.

"Kalau menurut saya, sekarang kan klub-klub kita sudah mulai sehat, seperti contoh Bali United, Persib. IPO itu terobosan bisnis yang luar biasa," ucap dia kepada rekan wartawan di Jakarta, Rabu (30/5).

Dia menambahkan, IPO tersebut juga bisa meningkatkan daya beli serta branding klub sepakbola itu sendiri.

https://m.merdeka.com/uang/klub-sepakbola-indonesia-punya-kesempatan-melantai-di-bursa-saham.html

Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio mengatakan, ada sejumlah klub sepak bola yang sudah datang menyatakan minat untuk melepas sahamnya di bursa.

Menurut Tito, sejauh ini ada dua klub yang sudah menyatakan minatnya untuk melakukan penawaran publik perdana atau initial public offering/IPO. Namun dia enggan memberikan bocoran nama klub tersebut. Dua klub tersebut, jelas Tito sudah sering berlaga di liga-liga besar tanah air.

“Klubnya yang ada di Jawa. Merek sudah main di liga-liga besar di Indonesia. Tapi, enggak bakal gua kasih tahu namanya,” seloroh Tito pada wartawan.

Sayangnya minat klub-klub sepak bola tanah air masih terkendala soal administrasi. Tito mengatakan, pembukuan atau akuntansi klub-klub sepak bola di Indonesia agak sulit. Hal itu lantaran di Indonesia, para pemain dianggap selayaknya karyawan sehingga mendapatkan gaji. Gaji biasanya dibukukan sebagai beban, atau biaya.

“Kalau di luar negeri, prinsipnya pemain itu aset. Kan mereka juga diperjual-belikan,” ucap Tito.

Guna menyelesaikan kendala tersebut, saat ini pihak BEI tengah meminta bantuan kepada Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) untuk menyusun Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) baru untuk klub-klub sepak bola.

Di luar negeri, banyak klub sepak bola yang besar-besar sudah go public, seperti Manchester United (MU), Lazio, Borussia Dortmund, Juventus, dan A.S Roma.

MU pertama kali go public pada 1990. Pada IPO kedua, MU menjual 16,7 juta saham. Sayangnya penawaran ‘Setan Merah’ hanya mampu dijual di harga 14 dollar AS per lembar, lebih rendah dari taksiran 16-20 dollar AS per lembar.

Di New York Stock Exchange (NYSE), pada perdagangan Senin (6/3/2017) saham emiten berkode MANU ditutup di harga 16,45 dollar AS per lembar, turun 0,9 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Kapitalisasi pasar Manchester United hingga saat ini sebesar 2,66 miliar dollar AS.

Klub lain yang sudah melantai di burs yakni Juventus yang melantai di Borsa Italiana. Klub yang menaungi Gonzalo Higuain itu melantai di Borsa Italiana pada tahun 2000.

Saham emiten dengan sandi JUVE ini pada perdagangan kemarin Senin (6/3/2017) ditutup di level 0,37 Euro atau naik 0,93 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Kapitalisasi ‘si Nyonya Besar’ hingga perdagangan kemarin mencapai 370,25 juta Euro.

Meski demikian, berdasarkan analisis, belum tentu saham mereka langsung diburu oleh para investor. Apa sebabnya?
"Pertama ini harus dipahami persepakbolaan kita belum stabil itu risiko yang paling besar. Investor juga akan melihat cash flow nya, laba ruginya seperti apa," ungkap Analis First Asia Capital David Sutyanto kepada kumparan.com, Jumat (10/3).
Apalagi, banyak pengelolaan klub-klub sepak bola di Indonesia yang dianggap belum profesional. Masalah lainnya muncul seperti jadwal kompetisi yang kerap berubah, kontrak pemain dan sponsor jangka pendek hingga hak siar yang tidak jelas. Ini yang menjadi pertimbangan khusus para investor.

"Di Indonesia kompetisi belum jelas, hak siarnya juga masih belum pasti dan tidak banyak klub yang cukup profit salah satunya adalah ada klub yang meminta dana dari APBD, ini jadi masalah. Kalau IPO mereka harus berdiri sendiri. Apakah ini bisa memberikan benefit bagi investor?" singgung David.
Sementara itu bila dibandingkan di luar negeri, valuasi saham klub-klub sepak bola tidak menunjukan grafik yang naik signifikan. Misalnya Manchester United (MANU) yang mencatatkan sahamnya di New York Stock Exchange (NYSE). Sejak listing di tahun 2012, nilai valuasi MANU saat itu 14 dolar AS per lembar saham. Kini setelah berjalan 5 tahun, valuasi saham MANU hanya naik 18 persen menjadi 16,65 dolar AS per lembar saham.
"Investor sudah tahu tetapi suka dengan klubnya dan mereka akan beli jadi risiko mereka tanggung. Saham MU di New York Stock Exchange itu pergerakannya tidak terlalu menarik. Listing di 14 dolar AS sekarang di 16,65 dolar AS," sebutnya.

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.