1
Bitte langsam, Awe! @awemany
Saya baca ini. Berharap menemukan sesuatu yg menarik. Apa mau dikata. Yg ngarang @AndiSaifulHaq. Orang yg punya motif politik untuk merendahkan. Suram. geotimes.co.id/komentar/dilem…

Dilema Pidato AHY: Terlalu Militer Kurang Sipil, Terlalu SBY Kurang AHY

Setidaknya saya tiga kali satu forum dengan AHY. Di Kementerian Pertahanan di Jakarta, di ITB dan Universitas Parahyangan Bandung, terakhir di Berlin, Jerman. Waktu itu AHY masih di dinas kemililiteran, sebelum mendapat pangkat Mayor.

Kesan pertama saya, kagum dan simpatik. Sebagai anak Presiden, dia tidak manja, punya kharisma, juga tidak angkuh. Tata bahasanya teratur, fokus dan sangat menguasai teori-teori yang terkait dengan pertahanan dan militer. Kalaupun AHY meloncat dari Mayor menjadi Kolonel, orang seperti saya tidak akan menolak, personel militer sepertinya memang sayang jika berlama-lama di medan tempur, lebih cocok ditempatkan di markas komando.

Namun itu di dunia militer, tidak demikian di dunia politik. Dunia yang lebih kompleks dari sekedar bertahan, mengintai, dan menyerang. Di medan tempur orang hanya mati sekali, di politik orang bisa mati berkali-kali, setelah mati pun pikirannya masih bisa menghantui pihak lawan dan memengaruhi kawan satu barisan.

Dalam pidatonya berjudul “Muda adalah Kekuatan”, AHY menyampaikan bahwa kekuatan utama anak muda terletak pada tiga poros: fisik, mentalitas, dan intelektual. Tata panggung yang megah, tayangan ekslklusif oleh salah satu stasiun televisi nasional, serta isi pidato yang sangat normatif adalah percobaan politik yang gagal dan tidak akan memberikan efek elektabilitas apa pun kepada AHY apalagi Partai Demokrat.

Menjaga Integritas Ala LBH
Membedah satu per satu konsep dalam pidato AHY, baiknya saya menceritakan kisah beberapa tokoh muda bangsa Indonesia—sebagai pebandingan. Tentang konsep fisik, ketika menyusun buku MADILOG, di usia muda, Tan Malaka sudah mengidap berbagai penyakit, yang paling parah asalah TBC. Namun pena, pikiran, dan gerakannya termasuk salah satu yang paling ditakuti oleh Kolonial Belanda saat itu.

Kisah lain adalah dari Sukarno. Sebelum membacakan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Bung Karno dalam serangan malaria yang parah. Dia dibantu bangkit dari tempat tidur untuk membacakan naskah Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945. Sehingga kekuatan dan kesehatan fisik bukanlah menjadi persoalan utama anak muda untuk berbuat sesuatu.

Setelah fisik mari kita bahas konsep berikutnya. Definisi mentalitas yang dimaksud AHY adalah mentalitas yang menuntut penghormatan dan pengabdian absolut kepada orang tua. Itu tidak salah, tetapi perlu diingat: jika Kartini muda tidak melawan semua tradisi yang membelenggu kemerdekaan dirinya sebagai perempuan, mungkin hari ini tidak akan kita baca buku Habis Gelap Terbitlah Terang yang menginspirasi perjuangan perempuan Indonesia untuk keluar dari keterbelakangan.

Intelektual bagi AHY adalah penguasaan ilmu pengetahuan yang terjebak dalam tradisi formal lembaga pendidikan. Perlu AHY sadari bahwa intelektual tidaklah semata diukur dari gelar yang bederet di depan atau di belakang nama. Intelektualitas adalah senjata utama melawan keadaan yang sekilas terlihat buntu tanpa jalan keluar. Karenanya intelektualitas harus memilki keberpihakan. Semua orang boleh menjadi Doktor bahkan Profesor, tapi semua itu tidak akan ada artinya jika tidak disertai keberpihakan pada sesuatu.

Posisi berdiri dan keberpihakan ini jauh lebih berharga di tangan orang yang tanpa gelar, tapi pengetahuannya memberi manfaat rakyat banyak. Ini yang disebut Gramsci sebagai intelektual organik; bahwa teori terbaik adalah teori yang bisa dipraktekkan, bukan dihafalkan; pengetahuan terbaik adalah pengetahuan yang lahir dari rahim dialektika masyarakat, bukan dari dinding lembaga pendidikan.

Satu hal penting justru terlewat oleh AHY, bahwa kekuatan utama anak muda justru terletak pada “kepeloporan.” Sebuah tindakan menembus kemapanan, kebuntuan dan sumbatan keadaan, sehingga sejarah bisa mengalami loncatan-loncatan tak terduga ke arah yang lebih maju. Kepeloporan butuh keberanian yang kadang tanpa mempertimbangkan resiko kesehatan, mental bahkan nyawa.

Kepeloporan ini yang menggerakkan anak muda Indonesia tahun Oktober 1928 untuk mengadakan Kongres Pemuda di bawah todongan dan ancaman Kolonial Belanda. Kepeloporan dan kejuangan ini yang membuat Jenderal Sudirman bergerilya tanpa memedulikan kesehatan fisiknya. Kepeloporan ini yang membuat anak muda begerak melawan otoritarianisme Order Baru.

Di bidang politik, kepeloporan ini yang membawa anak-anak muda Indonesia mampu mendirikan partai politiknya sendiri di awal masa kemerdekaan Indonesia, termasuk ketika Partai Rakyat Demokratik (PRD) dibentuk pada 1996. Saat itu jangankan mendirikan partai politik, sekadar berdikusi bisa menyebabkan seseorang dijebloskan ke penjara bahkan diculik atau dihilangkan. Di sana fisik, mental, dan inelektual formal dikesampingkan demi sebuah kepeloporan sejarah.

Saya tidak menemukan sedikit pun hal baru dalam pidato AHY. Saya bahkan tidak melihat seorang AHY berdiri di atas panggung. AHY malam itu seakan sedang membawakan sebuah kuliah di hadapan Sesko TNI atau Lemhanas. Itu sama sekali bukan pidato politik. Tidak bertenaga apalagi menginspirasi. Pidato seperti itu adalah khas SBY, pidato tanpa ruang diskusi, apalagi ruang kritik. Pidato itu terlalu SBY kurang AHY.

AHY bisa lebih baik dari itu, jika dia diberi ruang untuk mengekspresikan isi kepalanya. Jika ingin melihat AHY menjadi politisi yang hebat, AHY harus dilepaskan dari tradisi formalistik ala SBY, dia harus diterjunkan ke garis depan politik Indonesia bersama pasukannya sendiri. Pasukan yang dia rekrut, dia pilih, dan dia gerakkan sendiri. Bukan dengan mesin tua peninggalan Bapaknya.

Pemenang Indonesian Idol 2018 Adalah Kita
Read more
Seandainya malam itu AHY berpidato sebagai seorang militer, saya yakin publik akan angkat topi—bagaimanapun, Indonesia butuh perwira TNI yang mampu menerjemahkan doktrin pertahanan Indonesia dalam konteks pengetahuan dan keadaan dunia yang baru. Namun malam itu AHY adalah seorang politisi.

Saya harus bilang, sebagai sebuah pidato politik, “Muda adalah Kekuatan” telah gagal memberi inspirasi dan menggerakkan kesadaran publik untuk melakukan lompatan sejarah. Terlalu militer, kurang sipil.

Andi Saiful Haq #TOLAKRKUHP @AndiSaifulHaq
Hehehe baca pelan2 aja Ardi... kalau kritik kau anggap merendahkan, lalu apalagi yg ingin kau didiskusikan? twitter.com/awemany/status…
Bitte langsam, Awe! @awemany
Judgment seperti yg ditulis @AndiSaifulHaq ini hadir tiba-tiba "percobaan politik yang gagal dan tidak akan memberikan efek elektabilitas apapun kepada AHY apalagi Partai Demokrat". Ujug". Ngga ada argumen apalagi fakta dan data. Suram banget.
Bitte langsam, Awe! @awemany
Pada babak pertama @AndiSaifulHaq ingin menafikan persoalan kekuatan fisik sebagai pilar kekuatan pemuda. Mengambil anecdotal tentang Tan Malaka dan Soekarno yg sedang sakit dalam momen" penting. Ini bukan persoalan jadi politikus bung. Ini soal membangun bangsa.
Bitte langsam, Awe! @awemany
Singkirkan faktor yang lain, pembeda utama orang muda vs orang tua adalah keunggulan fisik vs jumlah pengalaman. Ini hukum alamnya. Jangan dinafikan.
Bitte langsam, Awe! @awemany
Kalau kaum muda tidak didorong untuk memanfaatkan itu bagi kemajuan ya sia" kemudaannya. Bekerja dengan lebih gigih. Long hours adalah contoh. Saya mah udah ngga kuat. Udah tua. Tapi tentu saja AHY tidak abai dengan faktor mental dan intelektual.
Bitte langsam, Awe! @awemany
Tentang mental, rupanya @AndiSaifulHaq ini orang yg ngga mampu melihat utuh. AHY tidak cuma bicara pengabdian. AHY bicara loyalitas, komitmen, totalitas dan pengorbanan. Terdengar seperti tentara? Ya rapopo. Tentara itu memang sering kali dipuji sebagai profesi bermental kuat.
Bitte langsam, Awe! @awemany
Anda tanya apakah itu mental yang kita inginkan untuk orang muda?  Buat saya itu benar. Bahkan untuk orang setua saya. Tapi ini pilihan. Kita bisa berbeda pandang. Karena dikotomi soal membangun mental itu ada pada aspek individualis vs kolektif. AHY memilih kolektif.
Bitte langsam, Awe! @awemany
Melihat AHY mementingkan intelektual akademis, seperti yang dituduhkan bung @AndiSaifulHaq adalah nyinyir saja. Tidak ada jejak itu dalam pidatonya. Apalagi soal ketiadaan aspek kepeloporan. Jelas ngga nyimak.
Bitte langsam, Awe! @awemany
"Pemuda harus berani merebut kesempatan untuk ikut menentukan nasib dan masa depan bangsa Indonesia". Ini pernyataan jelas tentang kepeloporan. Ngga mau cuma nunggu dikasih kesempatan.
Andi Saiful Haq #TOLAKRKUHP @AndiSaifulHaq
Jadi gini Dek Ardi (buahaha). Setidaknya aku menulis kritik itu disebuah media, jika ada yang keberatan, dianggap menghina atau mengada2, aku melakukannya secara sadar dan siap bertanggungjawab. Jadi pelan2 aja dek Ardi. twitter.com/awemany/status…
Bitte langsam, Awe! @awemany
AHY di sana berulang kali menyebut tentang pemuda sebagai kunci perubahan dan keberpihakan untuk menghadapi ketidakadilan. Masih kurang keberpihakan intelektualnya? Jadi tuduhan @AndiSaifulHaq ini jelas asbun.
Bitte langsam, Awe! @awemany
Dasar orang dengan motif politik ya saya paham tulisan ini mau dibawa ke mana. Ingin mengulang narasi usang itu. AHY adalah boneka bapaknya. Radio rusak ini mah.
Bitte langsam, Awe! @awemany
Bahkan, dari tulisannya, bung @AndiSaifulHaq ini ngga paham kalo AHY punya pasukan sendiri yang terpisah. Kogasma. Yang memang blio rekrut sendiri. Dan bukan mesin tua peninggalan bapaknya. Ini fakta dan bisa diverifikasi.
Bitte langsam, Awe! @awemany
Sedemikian dalam prasangkanya. Sedemikian dangkal argumen dan data yang dibawanya. Lalu kita masih harus percaya pada kesimpulannya di judulnya? Jangan jadi bodoh, please.
Bitte langsam, Awe! @awemany
Lha saya ngga punya media. Jadi saya lawan narasi situ dalam kultwit. Saya jelaskan problemnya. Kalo mau dilanjut diskusi ya monggo. :) twitter.com/AndiSaifulHaq/…
Bitte langsam, Awe! @awemany
Kritik itu disusun melalui data dan argumen. Saat motifnya terlihat jelas, menebalkan narasi usang AHY boneka SBY ya saya bìlang itu upaya merendahkan. Salah? twitter.com/AndiSaifulHaq/…
Andi Saiful Haq #TOLAKRKUHP @AndiSaifulHaq
Ya boleh saja itu interpretasimu jika mengabaikan paragraf2 pertama tulisan itu. twitter.com/awemany/status…
Bitte langsam, Awe! @awemany
@AndiSaifulHaq Bua ha ha. Memuji" di depan untuk kemudian diframing sebagai boneka? Saya sudah hapal taktik model gini. Membuat orang percaya kalo assesment itu netral dengan muji" di awal. Bukan bantahan sih ini.
Andi Saiful Haq #TOLAKRKUHP @AndiSaifulHaq
hahaha Dek Ardi, kita sama2 gak punya media, masukinlah kritikmu yg menurutku bagus ini dalam sebuh tulisan, aku yakin ada media yg mau memuatnya. Pelan2 aja twitter.com/awemany/status…
Andi Saiful Haq #TOLAKRKUHP @AndiSaifulHaq
Eh mau nanya dong, apakah Dek Ardi tercerahkan dan terinspirasi oleh pidato AHY? :) twitter.com/awemany/status…
Bitte langsam, Awe! @awemany
@AndiSaifulHaq Kebetulan saya sudah tua. Bukan target audiencenya. Tapi jika saya seusia itu, saya bisa membayangkan untuk terinspirasi pada seruannya. Ini nanya serius kan? Bukan ngledek umur saya kan? *watir :)
Load Remaining (24)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.