0

Langit dunia tampak berbeda sepanjang malam dan dini hari hingga subuh tadi waktu Indonesia. Gerhana bulan total "blood moon" terlama di abad 21 membuat warga dunia terbius.

Gerhana terlama ini, NASA, menyebut berlangsung 1 jam, 42 menit dan 57 detik, menjadi momen yang tak ingin dilewatkan warga dunia. Secara total bulan menghabiskan waktu hampir empat jam memayungi Bumi.

URL AKURAT.co 1 News | Fenomena Blood Moon Bius Warga Dunia, Di Sydney Warga Rela Bayar untuk Melihatnya Langit dunia tampak berbeda sepanjang malam dan dini hari hingga subuh tadi waktu Indonesia.

Warga dunia, mulai dari Taj Mahal hingga Menara Eiffel, berduyun-duyun ingin menyaksikannya. Gerhana total yang berlangsung pukul 20.22 waktu GMT atau dini hari WIB benar-benar terlihat mulai dari Eropa, Rusia, Afrika, Timur Tengah, Asia hingga Australia. Gerhana tidak bisa dinikmati di Amerika Utara dan wilayah Pasifik.

URL AKURAT.co 1 News | Fenomena Blood Moon Tampak Terlihat Sempurna di Danau Toba Detik-detik gerhana total teramati terjadi pada pukul 02:34 WIB hingga sekitar pukul 02:40 WIB.

Untuk menyaksikan fenomena langka ini, warga Australia bahkan rela mengeluarkan uang untuk bisa melihatnya dari Sydney Observatory. "Tiket terjual habis. Ratusan warga memesan dan melihatnya bersama kami," tutur Andrew Jacob, kurator di Sydney Observatory, yang berlokasi di dekat Jembatan Harbour.

Dilansir dari Reuters, Sabtu (27/7), bulan pada waktu gerhana berwarna oranye dan memerah di atas langit Kairo, Temple of Poseidon di Cape Sounion, Athena, kampung Bavaria Raisting di Jerman, Pantai Rio di Brasil, hingga Johannesburg.

Di Nairobi, Kenya, bulan tampak terlihat lebih gelap. "Ini pengalaman yang tak terlupakan. Momen magis," ujar Teddy Muthusi yang menyaksikan fenomena ini dari Uhuru Park, Nairobi. "Sungguh indah dan tak sia-sia menantikannya."

URL AKURAT.co 1 News | Di Sumatera Utara, Fenomena Halo Moon Jadi Pengantar Sebelum Ada Blood Moon Halo Moon ini terlihat jelas di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, Jumat (27/7) malam sekitar pukul 23:00 WIB.

Andrew Fabian, profesor astronomi di University of Cambridge, mengatakan, fenomena ini disebut "blood moon" karena cahaya dari matahari melewati atmosfer Bumi bersamaan dengan munculnya bulan. "Atmosfer Bumi dengan sendirinya menjadi merah bersamaan dengan ketika bulan yang juga menjadi merah," katanya. Di mana antara matahari, bumi, dan bulan satu garis lurus.

Meski ini adalah fenomena alam yang secara periodik terjadi, unsur takhayul atau kepercayaan masih menghiasi prosesnya. Seperti halnya beberapa kepercayaan Hindu yang menyebut adanya energi negatif saat fenomena terjadi. Beberapa kuil dan candi di India ditutup untuk mengurangi gangguan.

URL AKURAT.co 3 News | BMKG Sebut Gerhana Bulan 28 Juli Terlama pada Abad-21 Peristiwa gerhana bulan yang terjadi pada 28 Juli 2018 dini hari merupakan peristiwa langka.

Sementara sikap ilmuwan, sebagaimana umumnya tetap positif dan rasional. Fenomena ini tak akan menyebabkan apapun. Masyarakat dunia diminta tetap santai dan menikmatinya.

Kamu yang menyaksikannya tadi pagi WIB patut beruntung. Karena fenomena ini baru akan terjadi pada tahun 2123 mendatang.

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.