0

Indonesia Negeri Kaya Migas: Katanya atau Kenyataanya?

Tahun 1895, pertama kali aktivitas eksplorasi migas di wilayah yang kini dinamakan Indonesia dimulai. Tepat setahun sebelum merdeka, ditemukan cadangan migas besar di tanah Riau bernama ladang Duri dan kemudian ladang Minas. Mereka terkenal sebagai Blok Rokan.

Secara siklus hidup hulu migas, rerata lapangan akan masuk ke fase ekploitasi di tahun ke 6-10 dan efektif berproduksi selama 20 tahun, sebelum akhirnya mengalami penurunan produksi hingga ditutup. Memang benar kata orang tua kita generasi Baby Boomers bahwa Indonesia kaya akan migas. Sayangnya sampai detik artikel ini disusun, Indonesia tidak dapat menemukan ladang baru dengan cadangan migas besar seperti Blok Rokan.

Blok Rokan sangat menarik karena cadangan migas ada di tanah dan cukup dangkal (artinya tidak mahal untuk proses pengeboran) serta banyak teknologi cocok diterapkan disana. Blok Natuna D-Alpha memang besar, tapi belum ada teknologi cocok diterapkan. Berita terkini, Blok Makassar Strait yang menggunakan teknologi ultra laut dalam (kedalaman lebih dari 1500 meter) ditinggal operatornya Chevron dan Pertamina. Usaha eksplorasi ultra laut dalam tidak lah sedikit, sekali pengeboran mencapai 200 juta USD setara dengan 2.8 T rupiah saat ini. Dan jika setelah dibor tidak ada migas atau ternyata tidak ekonomis maka 2.8 T tersebut menguap.

Zaman Ibnu Sutowo memang Indonesia surplus migas sehingga tugasnya adalah bagaimana menjual migas ke luar karena memang kebutuhan Indonesia sangatlah minim dan agar APBN negara baru ini terisi, hingga Soekarno tak keberatan untuk memberi pembagian keuntungan besar untuk Ibnu Sutowo. Bahkan kemudian 60% penerimaan APBN tahun 1973-1983 disumbang oleh sektor migas utamanya Blok Rokan. Sekarang, disaat ladang migas Indonesia menua, tanpa ada penemuan ladang besar baru seperti Blok Rokan, produksi turun hingga separuh dari zaman keemasan, ditambah konsumsi yang tumbuh sesuai laju pertumbuhan penduduk dan pendapatan: layak disimpulkan Indonesia saat ini adalah net importir migas. Indonesia harus sadar bahwa fokus berpindah dari hulu menjadi ke tengah dan hilirisasi distribusi.

Dari tahun 70an hingga 90an Indonesia dapat memproduksi 1.4 hingga 1.8 juta barrel per hari (bph), sedangkan konsumsi dalam negeri hanya tumbuh dari 200 ribu bph di tahun 70an hingga 800 ribu bph di tahun 90an. Sekarang konsumsi dalam negeri 1.6 juta bph sedangkan produksi nasional 800 ribu bph, maka Indonesia mengimpor minyak mentah 800 ribu bph. Dengan harga minyak mentah dunia saat ini dikisaran 70 USD per barrel maka sehari kita butuh 56 juta USD membeli minyak mentah impor. Jika dengan kurs sekarang yang dibulatkan ke bawah 14000 rupiah per 1 USD maka 56 juta USD setara dengan 784 M rupiah per hari. 784 M rupiah valas dibakar per hari untuk impor minyak mentah. Posisi teratas penekan nilai rupiah terhadap USD.

Menjadi sangat penting Blok Rokan di masa tuanya yang masih memproduksi lebih dari 200 ribu bph untuk dioperatori perusahaan migas nasional agar seluruh hasilnya dapat dikirim ke kilang untuk pemenuhan konsumsi dalam negeri. Lumrah operator asing mengekspor porsi jatah minyak yang dihasilkan, dibanding dipakai memenuhi konsumsi dalam negeri, memang begitu haknya.

Jika harga Bahan Bakar Minyak ditentukan oleh jalur distribusi, alangkah baiknya produksi di tanah air dipakai sendiri. Daripada perusahaan migas nasional, Pertamina, mesti membeli dari luar negeri. Ada ongkos rantai pasok disitu yang bisa diefisiensikan. Sudah pasti semakin jauh rantai pasti juga lebih rumit dalam pengawasan sehingga penyelewengan lebih mungkin terjadi. Mungkin masih segar dalam ingatan dengan kasus “Pembubaran Petral”. Anak usaha Pertamina pengimpor migas di Singapura yang diklaim menjadi sarang mafia migas dan saat dibubarkan bisa menghemat banyak uang.

“Kendalikanlah migas maka anda akan mengendalikan negara”- Kissinger.

Sesuai Kissinger, tokoh kontroversial AS, rakyat Indonesia sangat sensitif terhadap komoditas migas. Dengan diberikan beberapa Blok migas dari pemerintah memang agak membantu keseimbangan finansial Pertamina. Publik Indonesia perlu mencermati Blok Rokan yang sedang dalam proses penentuan operator oleh Kemen ESDM dan SKK Migas di antara proposal dari perusahaan migas besar dunia seperti Chevron (operator saat ini) dan Shell, serta perusahaan migas negara Pertamina. Menyitir pernyataan Pak Said Didu: Jangan sampai ada penumpang gelap.

Katanya “dongeng” orang tua tentang kenyataan Indonesia negeri kaya minyak sudah usang, semoga pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia dapat mengoptimalkan apa yang sudah ada dan mendorong perusahaan migas nasional mampu berinvestasi mengeksekusi hal strategis untuk menjaga ketahanan energi nasional.

by @FMasriati

URL Paradok 8 Indonesia Negeri Kaya Migas: Katanya atau Kenyataanya? | Paradok | Opini Tahun 1895, pertama kali aktivitas eksplorasi migas di wilayah yang kini dinamakan Indonesia dimulai. Tepat setahun sebelum merdeka, ditemukan cadangan migas besar di tanah Riau bernama ladang Duri dan kemudian ladang Minas. Mereka terkenal sebagai Blok R

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.