0

Mewaspadai Pangkalan Militer China Di Vanuatu

Lonceng darurat berbunyi di Australia. Bukan menandai bencana alam, namun pemicunya adalah sebuah laporan yang menyebutkan, China berencana membangun pangkalan militer yang jaraknya kurang dari 2000 kilometer dari perbatasan Australia. Semua berawal dari jebakan utang dari China.

Vanuatu terletak sekitar 2.000 kilometer dari Australia dan 3.000 kilometer dari Selandia Baru. Negeri berpenduduk 270 ribu jiwa itu dibanjiri aliran dana pembangunan senilai ratusan juta dolar. Beberapa waktu lalu, Beijing berkomitmen untuk membangun kediaman resmi Perdana Menteri Salwai, dan sejumlah gedung pemerintah lainnya.

Sementara itu, Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Geng Shuang, menegaskan bahwa isu pembangunan pangkalan militer di Vanuatu adalah hoaks. Tapi dibantah dengan fakta, pengaruh ekonomi Beijing di Vanuatu tidak dapat disangkal. Seperti dilansir News.com.au. laporan setempat menyebutkan bahwa China menyumbang hampir separuh dari US$ 400 juta total utang Vanuatu. Laporan The Sydney Morning Herald bertajuk “China eyes Vanuatu military base in plan with global ramifications” mencantumkan jumlahnya sekitar US$ 220 juta.

Fakta terkait ekonomi itulah yang dinilai menimbulkan kekhawatiran di Australia bahwa China sedang bertujuan membangun pengaruh militer yang lebih besar di kawasan Pasifik Selatan. Tidak hanya Vanuatu, pada awal tahun ini, negara-negara Pasifik Selatan dilaporkan terjebak dengan persoalan pembayaran utang bernilai ratusan juta dolar terhadap China. Menurut Lowy Institute, China mentransfer setidaknya US$ 2,2 miliar ke negara-negara Pasifik antara tahun 2006 dan 2016.

Mulai dari kantor baru Perdana Menteri sebuah pemberian senilai US$ 11,8 juta dari Beijing hingga sejumlah proyek infrastruktur baru yang menyebabkan penderitaan besar di sektor keuangan, China telah memberikan ratusan juta dolar dalam bentuk hibah dan pinjaman kepada pemerintah Vanuatu.

Cara tersebut dinilai bukanlah hal baru bagi China. Sejumlah ahli keamanan sebelumnya mengatakan, China menargetkan negara-negara miskin dan menggunakan “strategi jebakan utang”. Beijing disebut-sebut membuat negara-negara miskin ketagihan berutang hingga mereka tidak dapat membayar, dan situasi tersebut memungkinkan China merampas wilayah atau membuat pangkalan sebagai gantinya.

Kasus serupa terjadi di sejumlah negara seperti Sri Lanka, Tajikistan, Kyrgyzstan, Laos dan Djibuoti. Di Djibouti, China sudah mengonfirmasi kehadiran pangkalan militernya.

Selain itu, diplomasi ekonomi China dinilai memanfaatkan lokasi atau sumber daya strategis negara-negara yang lebih kecil, atau untuk mengamankan dukungan mereka dalam hubungan diplomatik jika sewaktu-waktu diperlukan.

Dua tahun lalu, Vanuatu menjadi negara pertama di Pasifik yang secara terbuka menjanjikan “pemahaman dan dukungan penuh” atas posisi Beijing di Laut China Selatan yang disengketakan.

Dengan 60 persen dari total utang luar negerinya pada China, Tonga, sebuah negara kecil di Pasifik Selatan dikabarkan juga sangat berutang budi pada China.

by @JackVardan

BACA JUGA:

Story "Gagalnya Rencana 'Dekolonisasi' Papua & Kaledonia Baru Oleh MSG Proksi China" by @Ratu_.. Chirpified By @M4ngU5il BACA ~~> https://chirpstory.com/li/378814 2887 pv 32 12

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.