0

laga final Piala Dunia 2018 antara Perancis vs Kroasia di Stadion Luzhniki, Minggu malam (15/7/2018) WIB sempat terhentikarena tiba-tiba empat orang berpakaian celana panjang hitam dan kemeja putih serta dasi hitam berlari dari belakang gawang kiper Perancis Hugo Lloris ke tengah lapangan.

Dov Kleiman @NFL_DovKleiman
Idiot fans jumped on to the field in the middle of the World Cup final. Good job security. pic.twitter.com/qtrHOD1phE
Fans Timnas Kroasia @Hrvatska_ID
Insiden dibabak kedua pertandingan berlangsung, seseorang masuk ke tengah lapangan. Dejan Lovren membantu steward menangkap orang tersebut dan mengusur keluar lapangan 👏👏🇭🇷 pic.twitter.com/xAJVIJ9ISz
Expand pic
Expand pic
Expand pic
Expand pic
tirto.id @TirtoID
15 secs of fame~ Ini nich barbuknya nih borrrr~ #FRACRO #WorldCupFinal (📷: AP Photos) pic.twitter.com/2XOrbt1maO
Expand pic
Expand pic
tirto.id @TirtoID
Croatians exit the World Cup, be like #FRACRO #WorldCupFinal (📷: AP Photos) pic.twitter.com/3IMofMJltv
Expand pic
Baldwinphoko @Baldwin63597062
World Cup final is not world cup without pitch invasion #WorldCupFinal 2018 Russia pic.twitter.com/j0fj8ZoIFf
Expand pic
Expand pic
arka @zkdlig
supporter nya masuk lapangan 😂 ))
Wonho @wonho939
@xooshn Cewek loohh astagaa berani banget anjirr.. 😂😂😂
Wonho @wonho939
@xooshn Aing kaget sampean.. ini napa petugas pada lari lari di lapangan, aing pikir ada yang lukaa. Eeh taunya supporter. Diseret lagii 🤣🤣
arka @zkdlig
@joulietx wkwk kaget gua keamanan lari kelapangan kirain ngapain
Arkin♏ @Wichaini
Aku kira ada pemain kroasia yang bajunya beda. Ternyata suporter ada yang masuk lapangan. Anjiiiirrrr. Bisa bisanya nih haha

Beberapa saat setelah kejadian, Pussy Riot melalui akun Facebook resmi mereka mengaku bertanggungjawab atas aksi tersebut. Menurut mereka, aksi itu merupakan bentuk protes dari kondisi politik di Rusia.

"Hari ini adalah 11 tahun sejak kematian penyair besar Rusia, Dmitriy Prigov. Prigov menciptakan citra seorang polisi, pembawa kebangsaan surgawi, dalam budaya Rusia," tulis Pussy Riot dalam pernyataan berbahasa Inggris.

Dmitry Aleksandrovich Prigov adalah penyair dan seniman Rusia. Ia lahir 5 November 1940, Moskow, Uni Soviet dan meninggal 16 Juli 2007. Ia adalah anggota seniman avant-garde Rusia dan gerakan konseptualisme Moskow di era 1970 dan 1980an. Teks-teksnya menumbangkan Realisme Sosialis, dan diterbitkan di bawah tanah di era Uni Soviet. Selain menulis lebih dari 30.000 puisi, ia menulis drama dan esai. Ia dikenal sebagai seniman yang menggabungkan kata dan rupa dalam seni instalasi dan video. Prigov memenangkan banyak penghargaan, salah satunya Pushkin Prize pada 1993.

Aksi yang mereka tempuh ditujukan untuk memprotes pemerintah Putin. Beberapa tuntutan yang mereka layangkan, antara lain: membebaskan tahanan politik, hentikan represi lewat media sosial, buka kembali persaingan politik, serta sudahi penangkapan tanpa dasar hukum yang jelas.

Selain itu, Pussy Riot juga meminta pemerintah membebaskan aktivis Oleg Sentsov, dikenal vokal menolak aneksasi Rusia atas Krimea (Ukraina) pada 2014, yang dijatuhi hukuman penjara selama 20 tahun karena dianggap “merencanakan teror.”

Pemilihan atribut kepolisian dalam aksi tadi malam juga merupakan salah satu bentuk kritik Pussy Riot terhadap aparat. Menurut mereka, seragam polisi yang dikenakan merepresentasikan “gagalnya reformasi kepolisian Rusia dalam menciptakan rasa aman bagi masyarakatnya.”

𝖕𝖚𝖘𝖘𝖞 𝖗𝖎𝖔𝖙 @pussyrrriot
NEWS FLASH! Just a few minutes ago four Pussy Riot members performed in the FIFA World Cup final match — ”Policeman enters the Game” facebook.com/wearepussyriot… pic.twitter.com/W8Up9TTKMA
Expand pic
CBS News @CBSNews
Russian feminist protest group Pussy Riot halts the World Cup Final by running onto the field in police uniforms in front of their greatest rival: President Vladimir Putin. cbsn.ws/2LdzanG pic.twitter.com/MyHfvMbyTi
MID @MidKhamid
Masih terfikirkan dengan laga final piala dunia tadi malam. Di tengah - tengah pertandingan sedang berlangsung ada sekolompok suporter masuk ke lapangan. Hal ini membuat saya merasa heran. Kenapa bisa masuk? Kenapa ada niatan masuk kelapangan? Kok bisa?
MID @MidKhamid
Setelah membaca berita di salah satu media elektronik, saya baru jawabannya, itu adalah sekelompok anggota band punk Rusia, Pussy Riot. Tindakan tersebut mereka akui sendiri melalui akun twitter sebagai bentuk protes atas kondisi politik Rusia.
MID @MidKhamid
Sebenarnya apa yg terjadi dengan Rusia. Apakah serumit itu, kondisi politik negara mereka? Ah sudahlahh aku kurang paham dengan negara Rusia.
MID @MidKhamid
Dengan anggapan seperti itu mereka sebenarnya juga peduli dengan kondisi sekitarnya, termasuk politik. Mereka juga ingin kehidupan yg lebih baik, sama seperti kebayakan manusia lain. Namun semua itu mereka lakukan dengan cara mereka sendiri.
MID @MidKhamid
Jadi jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa sesuatu yg buruk akan selamanya berbuat buruk. Tidak kawankuu.
Aditia Nugraha @heyaditia
Ternyata suporter semalem yang masuk ke lapangan ketika final world cup itu anak Punk @pussyrrriot gue kira Bonek anjir.

Siapa Pussy Riot?

William Browder lewat tulisannya di CNN pernah menjelaskan, tinggal di Rusia merupakan perkara sulit. Katanya: “Tak peduli seberapa terkenal Anda, berapa banyak kepala negara di dunia yang kenal Anda, atau berapa banyak orang yang akan marah atas kematian Anda, jika Anda menyebabkan masalah, Anda bisa dan akan terbunuh.”

Kenyataannya memang demikian. Semenjak menjabat, Putin tak ragu menggunakan cara-cara licik untuk melanggengkan kekuasaannya, seperti saat ia membuat undang-undang yang membatasi kebebasan hak sipil yang dengan mudah dipakai memenjarakan warga atas dalih “perilaku anarkis” sampai merekayasa pengadilan untuk menggebuk lawan politiknya yang “dituduh” melakukan penggelapan anggaran, penipuan pajak, intimidasi kepada aparat, sampai pembunuhan.

Kondisi tersebutlah yang mendorong Pussy Riot, kelompok protes, punk, dan feminis Rusia yang berdiri pada 2011, hadir dengan kerja-kerja aktivismenya. Sejak pertama kali berdiri, mereka konsisten menyuarakan perlawanannya terhadap rezim Putin­­—didukung kekuatan Gereja Ortodoks—yang dianggap “tidak manusiawi, ingin berkuasa penuh, dan membungkam kebebasan warga negaranya.”

Singkat kata, mereka ingin menciptakan kehidupan masyarakat yang bebas dari pengaruh Putin, semacam pemerintahan yang demokratis dan tidak berbau otoriter.

Sejauh ini, tidak ada referensi yang dapat menyebutkan secara pasti berapa jumlah keanggotaan Pussy Riot. Meski begitu, ada tiga sosok yang jadi pentolan kelompok ini. Mereka adalah Nadezhda Tolokonnikova, Maria Alykhina, dan Yekaterina Samutsevich.

Kerja-kerja Pussy Riot diterjemahkan lewat serangkaian penampilan di tempat umum. Dengan memakai balaclava—sejenis tutup muka—yang berwarna mencolok, mereka menyanyikan lagu-lagu protes dengan energi yang meletup, seolah mengajak para pendengarnya mengepalkan tangan serta meneriakkan revolusi.

Aksi di Stadion Luzhniki kemarin malam, bukanlah yang pertama. Pada awal 2012 Pussy Riot menduduki Katedral Basil di Lapangan Merah. Di sana, mereka menyanyikan lagu berjudul “Putin Zassel,” atau dalam bahasa Inggris berarti “Putin Has Pissed Himself” yang meminta Putin mundur dari jabatannya. Penampilan tersebut terinspirasi dari demonstrasi besar-besaran warga Rusia setahun sebelumnya yang menentang kecurangan dalam Pemilu oleh Putin dan kroni-kroninya.

Pada awal Februari 2012, Pussy Riot kembali melakukan aksinya. Kali ini lebih fenomenal: memainkan lagu berjudul “Punk Prayer” di altar suci Katedral Kristus dan Juru Selamat di Moskow. Lewat “Punk Prayer,” Pussy Riot hendak mengkritik keberadaan Gereja Ortodoks yang dinilai anti-perempuan, konservatif, anti-LGBT, dan punya kedekatan lebih dengan Putin.

Pertunjukan mereka memang hanya berlangsung dalam hitungan menit. Namun, konsekuensi dari aksi di katedral itu berujung panjang, baik secara domestik maupun internasional. Di dalam negeri, anggota Pussy Riot harus menghadapi tuntutan hukum karena dirasa telah mempromosikan “hooliganisme yang dimotivasi oleh kebencian terhadap agama.”

Walhasil, Tolokonnikova dan Alykhina dijatuhi dua tahun penjara. Sementara Samutsevich lolos dari jerat hukum karena pengadilan tidak menemukan keterlibatannya lebih jauh dalam aksi tersebut.

Sontak, penahanan anggota Pussy Riot melahirkan gelombang protes. Beberapa LSM di Rusia menyerukan tuntutan pembebasan kepada Tolokonnikova dan Alykhina. Alasannya: sidang kasus Pussy Riot dianggap manipulatif dan hukuman untuk keduanya kelewat berlebihan.

Sedangkan di luar negeri, dukungan terhadap Pussy Riot mengalir deras. Deretan musisi macam Madonna, Bjork, sampai Paul McCartney ramai-ramai memberi motivasi kepada mereka seraya menganggap Pussy Riot sebagai “simbol perlawanan.”

Pada 2014, keduanya bebas dan kembali meneruskan aktivismenya. Selain mengkritik rezim Putin, mereka juga membela pemenuhan hak-hak terhadap perempuan, LGBT, serta menolak wujud kapitalisme dalam bentuk apapun.

“Kami adalah bagian dari pertarungan politik yang saat ini sedang berlangsung di Rusia. Dan kami, para anggota oposisi, punya pepatah. Kami ​​ingin Putin dan kroni-kroninya keluar dari negara ini. Kami ingin Rusia menjadi tempat yang berbeda ... Dan kami percaya kami memiliki kekuatan untuk mewujudkannya,” kata Tolokonnikova.

Load Remaining (10)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.