Add to Favorite
0
Login and hide ads.
Pelan-pelan, Ardi! @awemany 11/07/2018 20:47:04 WIB
Saya nanya ini dari pagi. Udah di cc ini ke @na_dirs dan @Stakof tapi ngga direken. Aku sedih guys. twitter.com/awemany/status…
Pelan-pelan, Ardi! @awemany 11/07/2018 20:54:42 WIB
@Stakof @na_dirs Mas @stakof tahu kan kalo saya bukan orang yg mendalami Islam? Jadi jelas saya ngga berminat untuk berdebat. Saya beneran pengen dapat kejelasan. Okay? :)
Rumail Abbas @Stakof 11/07/2018 20:59:05 WIB
@awemany @na_dirs Wokey, siap... Sebentar, saya tulis dulu biar urut.
Pelan-pelan, Ardi! @awemany 11/07/2018 21:01:24 WIB
@Stakof @na_dirs Kalau boleh, fokus pada pelabelannya aja. Apa yg Islam Nusantara dan apa yg bukan. Lalu kenapa bisa jadi demikian. Terima kasih banyak. :)
Rumail Abbas @Stakof 12/07/2018 00:09:10 WIB
@awemany @Biburr @na_dirs Sepertinya sampean terlalu melompat baca, dan meleset di kata "penanda" (penunjuk) itu sama dengan "ciri" (khas yang membedakan sesuatu dengan yang lain). Saya baca sampai tiga kali artikel ini (sebelum balas tweet ini, sekali; jadi sudah empat kali) & baru tahu problemnya.
Rumail Abbas @Stakof 12/07/2018 00:12:39 WIB
@awemany @Biburr #IslamNusantara sudah dijelaskan di awal kalau yang dimaksud itu adalah Ahlu Sunnah Wal Jamaah (peniru jejak Rasul dan pengikutnya) plus Al-Nahdliyah (peniruan ini seperti yang dilakukan orang NU di masa yang sudah²)
Rumail Abbas @Stakof 12/07/2018 00:15:10 WIB
@awemany @Biburr 5 Penanda yang sampean artikan sebagai ciri, menurutku kok keliru. Penanda ya penanda. Kalau ciri, baru pertanyaan seperti ini tepat: kalau IN dicirikan dengan 5 hal ini, trus Islam² yang lain bagaimana?
Rumail Abbas @Stakof 12/07/2018 00:18:59 WIB
@awemany @Biburr Judulnya kan sudah jelas, "khitah IN". Khitah (nilai² prinsipil) dalam IN ya sama persis dengan Islam² yang lain. Tapi karena Islam² lain sudah agak kabur dari khitah itu, bahkan ada yang melenceng, maka artikel itu "mengajak" Islam NU agar tetap di jalur khitah tadi.
Rumail Abbas @Stakof 12/07/2018 00:21:51 WIB
@awemany @Biburr IN diusulkan pada tahun² berat di Timur Tengah yang lagi ringsek. Yang muncul di sana (perang) adalah biang onar yang selain merusak properti warga, juga merusak situs² spiritual yang menurut orang NU itu sakral & memberkati (tradisi yang sudah²)
Rumail Abbas @Stakof 12/07/2018 00:25:42 WIB
@awemany @Biburr Di sana kan memang kudu diakui kalau salafi, puritanisme, dan kaum anti mistis Islam itu ngaku sebagai Ahlu Sunnah. Kita juga Ahlu Sunnah, tapi demen ziarah, minta berkah dari orang² soleh yang punya keramat. Cirinya di sini (bukan penanda).
Rumail Abbas @Stakof 12/07/2018 00:29:23 WIB
@awemany @Biburr Mereka itu Ahlu Sunnah yang sudah melenceng dari khitah. Ada orang sakti dikit, dibunuh karena dianggap dukun. Kuburan² dibongkar (jenazah sampai digali & dipindahkan secara sembunyi²) karena sumber dari segala kesyirikan.
Rumail Abbas @Stakof 12/07/2018 00:30:47 WIB
@awemany @Biburr Membunuh dengan alasan konyol seperti ini jelas melenceng (dan melanggar) khitah Islam.
Rumail Abbas @Stakof 12/07/2018 00:33:32 WIB
@awemany @Biburr Cara bacaku terhadap artikel di atas: "Di sana ada yang ngaku Aswaja, tapi melanggar khitah. Tapi kita menolak Aswaja semacam itu, dengan tetap memegang teguh khitah (yang telah dilanggar dan dilupakan mereka)."
Pelan-pelan, Ardi! @awemany 12/07/2018 08:03:00 WIB
@Stakof @Biburr Terima kasih untuk responnya. Jadi boleh ya saya mengkonfirmasi kalau penciri atau pembeda Islam Nusantara dan Islam biasa itu ada pada tradisi Ziarah dan minta berkah dari orang" soleh yg punya keramat. Dan apakah cuma ini?
Rumail Abbas @Stakof 12/07/2018 08:56:28 WIB
@awemany @Biburr Banyak sih sebenarnya. Ziarah dan berkah orang soleh hanya satu-dua contoh. Apa yang sudah jadi tradisi NU, intinya.
Pelan-pelan, Ardi! @awemany 12/07/2018 09:00:02 WIB
@Stakof @Biburr Baik. Jadi Islam Nusantara adalah Islam yang menjalankan tradisi NU. Kenapa tidak disebut sebagai Islam NU saja mas? Kenapa harus Islam Nusantara?
Rumail Abbas @Stakof 12/07/2018 09:07:48 WIB
@awemany @Biburr Tepatnya saya tidak tahu. Apa ada masalah di situ?
Pelan-pelan, Ardi! @awemany 12/07/2018 09:16:51 WIB
@Stakof @Biburr Persoalan klaim saya kira. Yg jelas sih bukan masalah saya. Pertanyaan berikutnya, apakah Islam NU beranggapan Islam biasa tidak tepat untuk Nusantara/Indonesia sehingga harus memproduksi khittah Islam NU?
Rumail Abbas @Stakof 12/07/2018 09:22:27 WIB
@awemany @Biburr Tidak sampai ada anggapan seperti itu. Yang jelas jika sampai ada islam yang melanggar khitah Islam (yang jumlah dan deskripsinya sama seperti khitah IN), dianggap kurang tepat di Nusantara.
Pelan-pelan, Ardi! @awemany 12/07/2018 09:26:45 WIB
@Stakof @Biburr Saya kira term yg lebih tepat adalah muslim yang melanggar. Atau memang ada jenis Islam tertentu yang dianggap melanggar Islam NU? Dan tentu saja saya nambah bingung dengan statement khit tah Islam (biasa) sama dengan khitah Islam NU. Kenapa harus pakai label khusus?
Rumail Abbas @Stakof 12/07/2018 09:29:08 WIB
@awemany @Biburr Penafsiran (tentang) Islam yang melanggar, cukup tepat, gak? Penafsiran bahwa ada nabi setelah Muhammad (akidah), penafsiran jumlah salat wajib hanya ada tiga (ibadah), itu kan melanggar. Iya, penafsiran memang produksi orang muslim juga.
Rumail Abbas @Stakof 12/07/2018 09:30:22 WIB
@awemany @Biburr Khitah IN (seperti yang ada di artikel Kiai Maroef), ya sama persis seperti Khitah Islam reguler (atau biasa). Kebetulan di waktu IN dicetuskan, ada yang melanggar khitah itu.
Rumail Abbas @Stakof 12/07/2018 09:32:09 WIB
Tidak ada yang salah jika sekali lagi mengulas tentang #IslamNusantara, kendati yang ramai (tentu tidak semua) dalam pembahasan tentangnya hanyalah “hingar bingar”
Load Remaining (71)

All Categories

Login and hide ads.