4
F A N D I @fndiAhmed
@Cittairlanie mbak ini kan hari libur, coba deh thread yg menghibur gituu.. misal bahas cinta kek, atau trik2 Pdkt hahahha
Cania Citta @Cittairlanie
Ok, deal. Cinta, Hubungan, dan Sunk Cost Fallacy 🔥🔥🔥 A THREAD 🔥🔥🔥 twitter.com/fndiAhmed/stat…
Cania Citta @Cittairlanie
Kamu pasti udah sering denger istilah "sunk cost", yaitu cost (biaya/pengorbanan) di masa lalu yang kalo udah dikeluarin gak bisa diubah atau dipulihkan (diambil lagi). Kalo dalem perusahaan ya contohnya biaya pembelian alat-alat kantor—komputer, meja kerja, printer, etc.
Cania Citta @Cittairlanie
Lawannya adalah "prospective cost", yaitu cost di masa lalu atau masa depan yang bisa diubah atau dipulihkan kalo kita melakukan sesuatu. Misalnya dalam konteks restoran, cost produksi bulanan itu bisa berubah kalo kita ubah resep atau daftar menu.
Cania Citta @Cittairlanie
Sunk cost ini seringkali membuat pelaku bisnis keblinger perasaan bersalah kalo gak jadi apa-apa.. no matter seberapa gak produktif atau gak bekerjanya plan bisnis itu. Jadi gak rasional.
Cania Citta @Cittairlanie
"Udah terlanjur sewa ruko, gapapalah ditahan dulu aja sampe setahun," pikir seorang pemilik restoran yang sudah 4 bulan merugi. Di saat begini, dia gak sadar bahwa running 10 tahun lagipun gak akan bikin cost sewa rukonya balik kalo emang gak menjual.
Cania Citta @Cittairlanie
Orang tuh emang secara alami punya apa yang disebut dengan loss aversion, yaitu kecenderungan untuk menghindari kerugian dibandingkan mencari keuntungan.
Cania Citta @Cittairlanie
Kita cenderung fokus pada sunk cost ketimbang opportunity cost (biaya hilangnya potensi keuntungan dari pilihan lain yang tidak diambil).
Cania Citta @Cittairlanie
Dalam kasus pemilik restoran tadi misalnya, dia lebih seneng terus-terusan jalanin restorannya karena menghindari kerugian sewa ruko kalo angus begitu saja, daripada melihat opportunity cost jika dia mengikhlaskan saja dan berpindah ke bisnis lain.
Cania Citta @Cittairlanie
Dalam hubungan pun sering terjadi sunk cost fallacy ini: Kamu mempertahankan sebuah hubungan hanya karena "udah terlanjur". Kamu merasa kalo putus, semua cost yang udah keluar jadi sia-sia, no matter how shitty your relationship is.
Cania Citta @Cittairlanie
Karena udah 9 tahun atau 11 tahun atau 8 bulan bersama, kamu merasa ada tekanan untuk terus melanjutkan, ketimbang meninggalkan dan membangun hubungan baru yang berpotensi memberikan kebahagiaan lebih.
Cania Citta @Cittairlanie
Kamu melihat segalanya seakan-akan workable. Kamu menipu rasionalitasmu sendiri dengan bermacam-macam bentuk denial atau argumen apologetik kayak "dia bisa berubah kok" atau "cuman perlu waktu".
Cania Citta @Cittairlanie
Padahal kekurangan yang ada di dia tuh fundamental buat kamu—bisa jadi gak setia, gak jujur, logika gak konsisten, atau values dan prinsip hidup gak sejalan.
Cania Citta @Cittairlanie
Kamu berencana akan menikah, tapi ternyata setelah 5 tahun pacaran kamu baru tau pandangan dia soal mendidik dan membesarkan anak beda banget dengan kamu. Waah ini tebing licin sekali menuju pernikahan yang didasari sunk cost fallacy...
Cania Citta @Cittairlanie
"Duh, udah 5 tahun nih sayang kalo putus"; "Yaudahlah nanti juga bisa dibicarain lagi"; "Gampang deh nanti kita negosiasi lagi"; dan segala macam alasan yang salah kaprah mulai membanjiri kepalamu. You stick with the relationship for the sake of sticking with it.
Cania Citta @Cittairlanie
Cara menghindari ini gimana? 1. Punya prinsip hidup jelas (harus jelas batesan mana yg negotiable & enggak); 2. Bicarakan hal fundamental di awal (as early as first two months is fine!); 3. Jujur soal nilai-nilai yg kamu dukung & enggak (don't fake your values for fuck sake 😂)
Cania Citta @Cittairlanie
Btw, sunk cost fallacy juga bisa terjadi karena you two grow up apart, terutama buat hubungan yang dimulai di usia yang sangat muda (misalnya dari SMP).
Cania Citta @Cittairlanie
Seiring kamu dan pasangan bertumbuh, terekspos berbagai wawasan baru, pola pikir berubah signifikan, stance dalam banyak hal termasuk agama berubah juga... nah ini udah tanda bahaya hehehehehe 😄
Cania Citta @Cittairlanie
Kamu gak bisa menyelamatkan hubunganmu dengan mikir, "kita udah dari SMP bareng, kita udah terlalu kenal satu sama lain". You are dead wrong. You don't know each other anymore. Admit it. Leave it. Move on.
Cania Citta @Cittairlanie
So, yang sekarang mulai merasa gundah gulana karena terjebak sunk cost fallacy hubungan mana suaranyaaaaaaa? 😘 Ttd, Cania Anak Tik Tok
farhan 📘 @farhan_fevrier
@Cittairlanie Proposal solusi: jangan pacaran sampai punya values yang mengakar dan parameter yang jelas dalam memilih pasangan. Kalau belum ada dan cuma mau nyobain pacaran ya cari yg cover nya bagus aja. Alias enak diajak kondangan.
M. Chatib Basri @ChatibBasri
@Cittairlanie Cania yg baik. Mungkin thread ini ada persamaannya dg tulisan saya tahun 2007. Mungkin tertarik diskusiekonomi.blogspot.com/2007/10/pacara…

Kutipannya, biar utuh:

Aco di cafe Salemba menulis sebuah tema yang menarik: Pacaran is Sunk Cost (biaya yang tak bisa di peroleh kembali). Intinya dalam pacaran, biaya yang sudah dikeluarkan oleh kedua pasangan -- untuk menarik satu sama lain-- tidak bisa di peroleh kembali. Oleh karena itu jika pasangan anda menyatakan bahwa dia telah menyerahkan segalanya, dan sebagai balasan dia mengharapkan bahwa anda untuk tetap bersama dia -- menurut Aco-- anda bisa mengatakan: Hei, itu adalah sunk cost !

Penggunaan analisis ekonomi dalam soal ini sangat menarik. Pertanyaan lanjutannya adalah: apa yang terjadi jika pacaran bukan sunk cost?

Dalam analisis industrial organization, sunk cost adalah salah satu penyebab hambatan untuk keluar dari pasar. Dalam suatu pasar dimana sunk cost nya tinggi, maka akan ada dis-insentif bagi perusahaan untuk keluar dari pasar, karena biaya yang telah dikeluarkan tidak bisa diperoleh kembali (not recoverable). Bayangkan anda sudah investasi besar, pabrik sudah dibangun dan semua investasi anda tidak bisa dijual kembali, maka anda akan enggan untuk keluar dari bisnis tersebut. Alasannya: saya sudah keluar uang banyak dan tidak bisa memperoleh uang yang telah saya keluarkan kembali.

Dalam kasus pacaran, bagi banyak pihak, struktur pacaran memang diharapkan memiliki hambatan untuk keluar (barrier to exit), sehingga tak mudah untuk putus hubungan dan ganti-ganti pasangan. Semakin besar sunk cost yang terjadi (baik dalam arti moneter maupun non-moneter), maka semakin besar dis-isentif untuk meninggalkan pasangannya. Apa yang terjadi jika, pacaran tidak menimbulkan sunk cost? Pasar pacaran akan menjadi persaingan bebas dengan dimana pelaku bisa keluar masuk setiap waktu (free entry dan free exit). Dalam situasi seperti ini, volatilitas hubungan akan menjadi sangat tajam, dimana nilai dari hubungan (yang dicerminkan melalui harga yang terbentuk dari demand dan supply pacaran akan cenderung berfluktuatif seperti dalam pasar persaingan. Sunk cost akan mereduksi kemungkinan untuk exit dari pasar.

Dalam pola hubungan tanpa komitment atau one night stand, sunk cost yang muncul (walaupun ada) relatif kecil. Karena itu keputusan untuk keluar dari dari pasar akan relatif mudah dan dapat dilakukan setiap waktu.

Sunk cost, sebenarnya berguna untuk menjadi signal keseriusan. Berapa besar sunk cost yang dianggap cukup sebagai barrier to exit? Jawabannya berbeda untuk tiap individu. Dan akan sangat tergantung kepada berapa besar kesediaan untuk mengeluarkan biaya yang tak bisa di peroleh kembali. Bagi mereka yang cukup well-endowed (tidak hanya dalam arti moneter), walau sunk cost yang dikeluarkan secara nominal cukup besar, tak menyebabkan hambatan berarti untuk keluar. Namun bagi individu dengan sumber daya (moneter dan non-moneter) yang terbatas, sunk cost yang relatif kecil sudah akan menjadi faktor penghambat.

Itu sebabnya, dalam proses pacaran, seringkali besar komitmen dicoba dilihat dari seberapa besar kesediaan berkorban dari masing-masing pasangan dan perhatian yang diberikan(dalam bentuk hadiah), . Dengan kata lain, keseriusan kerap dinilai dari besarnya sunk cost. Lalu secara empiris apakah signal mengenai keseriusan dapat diukur hanya dari nominal sunk cost? Mungkin tidak. Yang paling tepat mungkin mengukurnya dari seberapa besar prosentase sunk cost yang dikeluarkan terhadap total resources. Bagi banyak orang, pasar pacaran tampaknya memang tak diharapkan untuk menjadi contestable market. Itu sebabnya pacaran oleh mereka harus dibuat menjadi sunk cost, seperti analisis Aco

Cania Citta @Cittairlanie
@ChatibBasri Aku sudah baca, Mas! Nice 😉 aku pikir natur pacaran sebagai sunk cost ini menarik. Pantas saja banyak yg keberatan setiap kali aku bilang "the market is always free" ketika membahas hubungan. Aku pribadi approach itu sbg contestable market.
Cania Citta @Cittairlanie
@ChatibBasri Cara mengeliminasi barrier to exit adalah melihat proses pacaran itu sendiri sbg profit. Nah, ini urusan current profit vs future profit. Bagaimana hubungan bisa menjadi future profit ya tergantung value subjek-subjek terkait terhadap satu sama lain.
Load Remaining (34)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.
Login and hide ads.