Ketika Kicauan Lawas Prof @na_dirs Soal "Cebok" Kembali Dipermasalahkan Karena Dianggap Menghina Rasulullah

Kicauan lama prof @na_dirs kembali dipermasalahkan karena dianggap menghina Rasulullah
1
Sastrawan Modus @MbahTonno_

Belajar sampe melbourne cm bikin analogi cebok. Mending kejar paket C di bekasi @Nadir_Monash pic.twitter.com/Mms4kN6XAw

30/10/2016 21:10:27 WIB
Expand pic
Priyo Mukti @PriyoMukti

@na_dirs Assalamualaikum Gus, Apakah jenengan punya akun twitter lain selain ini? Saya mendapatkan Pict tweet atas nama jenengan tp beda akun dengan akun ini, dan pict tersebut di share d fb.. maaf Gus, saya tabayyun aja pic.twitter.com/Wz5fI4AMix

23/06/2018 12:04:42 WIB
Expand pic
something~ @KamilFarhan

@PriyoMukti @na_dirs Di dalam twit ini tatabahasanya kurang baik, sehingga apa yang ingin di sampaikan kurang terserap baik oleh yang membacanya

23/06/2018 23:33:21 WIB
Khazanah GNH @na_dirs

Itu akun lama saya. Gara2 kemarin saya nulis soal riba, banyak yg marah dan terus membongkar twit2 lama saya. Gak apa2 terusin aja modus kayak gitu hehehhe Ini sudah saya jawab pelintiran model kayak gitu di sini: nadirhosen.net/renungan/akhla… twitter.com/priyomukti/sta…

23/06/2018 13:11:22 WIB

*Dikutip dari nadirhosen.net

  • Pelintirisasi Para Haters: dari cebok sampai liberal

    Berulangkali tulisan, ceramah maupun vlog saya dipelintir oleh para haters yang dasarnya adalah kebencian, dan ini yang menyebabkan mereka gagal paham. Saya ingin kasih 3 contoh saja:

Pertama, beberapa waktu lalu ada seorang ibu di sebuah pengajian di Australia yang menganggap saya mengatakan membaca al-Qur’an itu tidak penting buat mahasiswa. Tentu saja ini tuduhan serius. Saya mengasuh majelis khataman al-Qur’an setiap bulan sejak tahun 2005 di Brisbane, kemudian di kota Wollongong dan sekarang di Melbourne. Selepas khataman Qur’an saya lanjutkan dengan pengajian tafsir. Pesertanya mahasiswa dan juga masyarakat umum. Jadi bagaimana mungkin saya dianggap mengatakan membaca al-Qur!an itu tidak penting? Dua belas tahun saya mengajak kawan-kawan untuk khataman Qur’an setiap bulannya! Ini fakta yang terang benderang.

Ibu itu keliru memahami salah satu ceramah saya tentang melakukan prioritas amal. Saya sampaikan: kalau anda masih pelajar atau mahasiswa, maka amalan utama itu adakah belajar dan menyelesaikan sekolah anda dengan baik, bukan riyadhah amalan wirid, atau baca Qur’an seharian. Kalau anda seorang pengusaha, amalan prioritas buat anda itu banyak bersedekah, bukan malah duduk berzikir di masjid. Kalau anda seorang ulama, maka amalan utama itu ya berzikir dan mengaji. Sekarang ini kok semuanya mau jadi ulama? Lantas siapa yang akan menjadi ilmuwan dan menjadi pengusaha?

Apakah mereka dilarang melalukan ibadah sunnah di atas? Tentu tidak. Namun masing-masing punya amalan prioritas, sesuai amanah dan kondisinya. Kalau anda sedang dapat amanah menyeleaikan disertasi, maka selesaikan disertasi, bukan malah ‘ngeles’ dengan mengerjakan amalan lainnya. Belajar dan bekerja itu juga bagian dari ibadah.

Itu konteks pembicaraan saya. Berbeda jauh kan dengan pelintiran jamaah tersebut?

Kedua, saya menyampaikan di vlog saya: “apapun aliran anda, dan siapapun anda, mari kita berusaha untuk terus menjadi orang baik!” Ajakan yang simpatik ini justru dipersoalkan oleh sebagian mahasiswa UIN Pekanbaru. Ada yang bilang kalimat saya benar tapi bertujuan batil. Mereka mempertanyakan “baik menurut siapa?” Atau “mau mengarahkan kebaikan ke versi siapa? Versi liberal?” Ada yang bilang: “Inilah cara halus Nadirsyah Hosen menggiring orang masuk paham liberal!”

Saya terus terang bingung dengan reaksi mereka: mengajak berbuat baik saja kok dipelintir kesana-kemari yah? Dan apa hubungannya dengan liberal? Konteks ucapan saya adalah: Ada Muslim yang berbuat baik. Ada pula yang tidak berbuat baik. Begitu juga dengan pemeluk agama lain. Maka mari kita semua, apapun agama kita, berusaha untuk terus berbuat baik. Kalau anda Muslim, jaidlah Muslim yang baik. kalau anda Hindu, jadilah orang Hindu yang baik. Kalau anda orang Indonesia, jadilah warga negara yang baik. Begitu seterusnya. Berbuat baiklah kepada sesama, siapapun anda, dan siapapun mereka. Begitu sulitkah memahami konsep berbuat baik ini sampai harus dipelintir kesana kemari?

Ketiga, beberapa waktu lalu ada yang yakin saya pasti masuk neraka karena saya dianggap menghina Nabi Muhammad. Apa pasal? Saya mentwit bahwa “Yg ngotot mau Islam murni spt jaman Rasul ada baiknya introspeksi diri: dulu Rasul cebok pakai batu, ente mau gitu juga sekarang? Mikirr”

Sejumlah pihak menuduh saya menghina Nabi karena mengatakan Nabi cebok dengan batu. Kemudian digoreng dan dipelintir sedemikian rupa twit saya dan dikepcer disebar kemana-mana. Konteks pembicaraan tidak mereka pahami dan tidak diikutsertakan dalam twit saya yang dikepcer itu. Buat sebagian pihak yang penting mereka bisa membunuh karakter saya; masalah konteks dan kebenaran isi twit mereka gak peduli. Entah mereka belajar akhlak Islam dimana yah?

Konteks kicauan saya di twitter itu adalah soal sebagian pihak yang ingin 100% praktek Islamnya seperti jaman Rasul tanpa memilah mana yang memang wajib kita ikuti dan mana yang berupa anjuran dan mana yang kita bisa modifikasi sesuai perkembangan jaman. Untuk mereka itulah saya ingatkan bahwa di jaman Nabi beliau SAW cebok dengan 3 batu. Kalau kita tidak paham ilmunya dan hanya mau mengikuti apapun yang Rasul perbuat ya silakan sekarang mereka cebok dengan 3 batu.

Tapi kan sekarang air banyak? Jaman Nabi air susah? Exactly this is my point. Berarti anda sudah memikirkan perbedaan situasi dan kondisi. Hal ini yang sering ditolak oleh mereka yang menganut paham Islam murni: mereka tidak peduli dengan perbedaan situasi. Nah, twit saya itu meminta mereka berpikir dengan memberi contoh yang praktis. Mungkin mereka kaget dengan contoh praktis yang menohok ini. Karena gak bisa bantah, akhirnya marah-marah dan fitnah sana-sini.

Lantas kenapa saya dianggap menghina Rasul dengan mengatakan Rasul dulu cebok dengan 3 batu. Ada yang menganggap kata cebok tidak pantas. Anda buka Kamus sajalah, istinja itu diterjemahkan sebagai cebok. Jadi kalau istinja karena bahasa Arab dianggap sopan, tapi kalau pakai bahasa Indonesia cebok dianggap gak sopan? Sebagian lagi ternyata menganggap saya berbohong bahwa Nabi pernah cebok (maaf, istinja yah?) dengan batu. Ini penghinaan, kata mereka. Tidak benar Nabi pernah cebok dengan batu. Nadirsyah Hosen mengarang cerita untuk menyesatkan umat dan menistakan Nabi!

Ternyata kawan-kawan kita itu belum pernah belajar bab istinja (cebok). Mereka tidak tahu sekian banyak Hadis Nabi yang shahih menceritakan Nabi pernah cebok dengan batu dan pernah juga dengan air. Masalah ini dibahas oleh kitab fiqh dengan detil. Yang pernah belajar di madrasah pasti paham. Jadi, sekali lagi, dimana menghinanya? Kok dipelintir kesana kemari: sampai yakin sekali saya bakal masuk api neraka?

Kalau gitu kita ngaji bab cebok dulu deh dari kitab fiqh, al-Umm karya Imam Syafi’i –biar pada ngeh bahwa saya tidak mengada-ngada, apalagi menghina Nabi. Berani antum bilang Imam Syafi’i bohong dan menghina Nabi karena membahas Nabi cebok dengan batu?

Ayo ngaji duluuuuu

Dari kitab al-Umm karangan Imam Syafi’i

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya aku bagaikan bapak kalian, (maka aku beritahukan) jika kalian hendak membuang hajat janganlah menghadap kiblat dan tidak pula membelakanginya baik buang air besar atau kecil, dan hendaklah kamu cebok dengan tiga batu”. Dalam riwayat lain disebutkan, “saat cebok, pakailah 3 batu, dilarang pakai kotoran hewan, atau tulang dan jangan pula cebok menggunakan tangan kanan“.

Berkata Imam Syafi’i: “sesiapa yang buang air besar atau kecil maka cukup baginya mengusap dengan tiga batu tiga kali, bisa pakai batu bata, kayu bakar, atau barang yang suci dan bersih yang bisa membersihkan seperti tanah, rumput, tembikar dan yang lainnya. Dan jika ia menemukan sebuah batu yang memiliki tiga sisi lalu mengusap dengan masing-masing sisi maka itu sama dengan tiga batu. Tapi kalau masih ada bekas kotorannya, maka itu tidak cukup kecuali mengusapnya kembali hingga bersih tak terlihat kotorannya lagi. Kalau bekas kotoran itu tidak bisa hilang kecuali dengan air, maka harus dibersihkan dengan air.”

Demikian klarifikasi saya terhadap tiga kasus pelintirisasi. Masih banyak sebenarnya ucapan atau tulisan saya yang dipelintir. Bahkan ada pula yang menganggap saya berkata sesuatu dan memaki-maki saya karena ucapan itu, padahal saya tidak pernah bicara demikian. Kenapa anda tidak tabayun saja sih? Kebencian itu merusak kebeningan hati dan kejernihan akal pikiran.

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah Nahdlatul Ulama Australia – New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

URL Gus Nadirsyah Hosen Pelintirisasi Para Haters: dari cebok sampai liberal | Gus Nadirsyah Hosen Berulangkali tulisan, ceramah maupun vlog saya dipelintir oleh para haters yang dasarnya adalah kebencian, dan ini yang menyebabkan mereka gagal paham. Say 39
Ersa Tri Wahyuni @ErsaTriWahyuni

@na_dirs Lah saya yg share tulisan Prof Nadir Di FB saya juga ikutan dibully. Dalam 4 jam saja komennya ada 46. Bahkan Ada yg japri segala. Kalau sy posting tulisan ttg akuntansi (yg jadi keahlian saya), seppiii komentar.

24/06/2018 00:07:26 WIB
Khomsa @KhomsaSiti

@ErsaTriWahyuni @na_dirs Bu Ersa, menurut sy banyak yg tidak menangkap pesan tulisan gus Nadir, mungkin karena sudah antipati duluan, padahal itu lah adanya... Sy banyak sepakat dg status2 bu Ersa...

24/06/2018 10:37:27 WIB
Ersa Tri Wahyuni @ErsaTriWahyuni

@KhomsaSiti @na_dirs Fitnah terhadap beliau memang luar biasa Mbak. Orang kok gampang amat ya menberikan label 'liberal' ke orang lain. Apaan sih yg namanya Islam liberal itu gak ngerti juga saya.

24/06/2018 14:47:18 WIB
Khomsa @KhomsaSiti

@ErsaTriWahyuni @na_dirs Nah... Itu lah, Bu, dikit dikit liberal, trus syi'ah lah, yg parah itu dibilang munafik lah atau apa lah.. Ngelus dada.

24/06/2018 15:37:22 WIB
hen @henlim83

@na_dirs Nice Wonderful Seandainya semua nya seperti pemikiran prof @na_dirs damai tentram dan maju bangsa ini Salut untuk prof @na_dirs atas penulisan nya

23/06/2018 13:26:30 WIB
Kristian Pradipa @yuth_uf_today

@na_dirs Itu gus sampean di bicarain kadal2 di akun indonesia bertauhid di IG

24/06/2018 12:09:35 WIB
umami @mii_umami

Gus @na_dirs , adminnya minta diajak ngopi nih prof pic.twitter.com/07e3Y4f1ON

26/06/2018 10:18:30 WIB
Expand pic
Expand pic
Khazanah GNH @na_dirs

Hahhaha biarkan saja. Diajak mikir kok malah dibilang menghina Rasulullah. Dulu mereka gak pernah belajar bab istinja’ (cebok). twitter.com/naa_diyana/sta…

26/06/2018 11:12:51 WIB
Widas 🐊 @WidasSatyo

@na_dirs Orang2 seperti itu kenapa ya kalo gak bisa menjawab argumen orang lain, justru melintir argumennya dan coba membunuh karakter orangnya? Krna mereka fakir ilmu? Fakir adab? Atau emg doktrinnya begitu? Coba membungkam mereka yg beda pandangan dgn narasi keji.

26/06/2018 11:16:47 WIB
Widas 🐊 @WidasSatyo

@na_dirs Dua gambar yg dishare mbak @naa_diyana itu sampe saya baca berkali-kali. Sama sekali ndak ada diksi yg mengarahkan benci sesama muslim dan menghina Rasul.. Itu cuma brainstorming biasa. Perjuangan mencerdaskan umat masih panjang, Gus. 🙏

26/06/2018 11:26:41 WIB

Comment

No comments yet. Write yours!