3
Story ~~> "Berbagi Cerita Pengalaman Pertama Dengan Seorang 'Sugar Daddy'" <~~ Chirpified By @M4ngU5il BACA ~~> https://chirpstory.com/li/378814 71491 pv 4
// Jax @JackVardan
Lagi ramai bahas "Sugar Daddy" ini artikel gua yang nyerempet istilah Gadun. "Kalau orang jaman now bilang yang dipake pelet eropa atau pelet jepang. Yg juga penting; wibawa; wibawa mobil, wibawa dompet tebel, wibawa gadget kekinian" Baca Selengkapnya: thejacksound.wordpress.com/2018/02/02/soc…

Jack – Judul yang agak rese gua tulis kali ini, tulisan lebih ngehek dibanding tulisan propaganda atau analisa start up bahkan nyinyir politik.

Gua mau nulis dengan bahasa non formil biar kesannya gak macam orang birokrasi. padahal ditulisan gua yang lain gaya gue sok pakai bahasa birokrat atau gaya macam akademisi. itu cuma tuntutan tema formil. “Kelas Kebawah Terlalu” enggak boleh banyak gaya. Tapi kalo masalah nulis bahasa formil belajar jadi warga negara yang baik, sesekali santai macam tulisan sekarang.

Judul tulisan mengenai Social Climber dan Gadun. Gua mau coba kupas dari sudut pandang gua sebagai warganet yang bersahaja dan gemar menabung. Apaan sih Social Climber? Social climber secara singkat dan nggak ribet adalah orang-orang yang pakai segala cara supaya bisa diterima oleh orang-orang yang memiliki status sosial yang lebih tinggi.

Manjat tebing sudah ada, ini manjat sosial istilahnya. Apalagi di dunia digital yaitu medsos nih, gua rasa banyak orang yang enggak mau tampil dengan karakter apa adanya dan coba kemas dirinya golongan kelas menengah atas ngehek. Kalo di dunia medsos indikasinya bisa dilihat sih nih. Sebagai berikut nih;

  1. Biasanya pamer gaya hidupnya yang “wah” pingin nunjukim bahwa dirinya kaya raya dengan pamer lokasi dia makan, menu makanan mahalnya, sepaket dengan caption “waw” dengan terus menerus.

  2. ‘Melumuri’ seluruh tubuh dengan label terkenal dari kepala hingga ujung kaki. Kemudian selfi di tempat high class bersama orang-orang yang dianggapnya berkelas.

  3. Selalu memposting petualangan mewah di media sosial.

  4. Selalu memaksakan tingkahnya agar terlihat elegan di depan teman-temannya meski itu bukan naluri yang sebenarnya.

  5. Cuma mau berkawan saat teman pas lagi dipuncak karir atau lagi dikagumi banyak orang.

  6. Mereka mencoba meyakinkan orang lain betapa mengagumkan dan inspirasionalnya mereka dengan segala kemewahan dan gaya hidup kelas menengah atas ngeheknya.

  7. Biasanya pilih-pilih dalam berkawan baik di medsos atau di dunia nyata.

Cukup tujuh biji yang gua bisa paparin di tulisan ini. Manjat sosial agar dianggap oleh orang banyak dengan dibuat-buat terutama kaitannya dengan gaya hidup. Fenomena kayak gini yang sedang menimpa kalangan pemuda pemudi. Tapi gua mau lebih dalam kupas tentang gimana tuntutan gaya hidup yang kadang buat orang pakai cara instan buat memenuhi kehidupan, tuntutan gaya hidup agar diakui golongan kelas menengah atas ngehek.

Jujur aja tulisan ini gua bikin karena gua sempat baca segelintiran orang di medsos bahas masalah “Open BO” alamak gua kaget pas research lebih dalem fenomena open bo di medsos. Rupanya banyak wanita-wanita muda, bahasa kecenya “ranum”, dengan gaya hidup yang terlihat high class, dan lokasi foto di tempat mewah mereka menjajakan dirinya dengan tarif bahkan istilahnya uang panjer yang gak sedikit.

Gua pernah lihat tulisan di medsos dari akun yang gua follow, “iklan ngewe komersil melintas” gua ngakak baca narasi kayak gitu. Enggak taunya maksudnya waktunya iklan jasa prostitusi dari akun-akun wanita muda yang menjajakan service kasur alias prostitusi high class.

Gua mulai research dan diskusi dengan kawan-kawan di group telegram sambil ngebanyol masalah Open Bo. Banyak informasi yang gua dapetin juga. Terutama ada istilah “Gadun” atau Om-Om senang. Pria mapan dengan batasan umur yang enggak muda lagi yang punya banyak duit. Entah “Gadun” itu berprofesi sebagai pengusaha, punya peternakan tuyul kek, ngepet, atau bisa jadi pejabat negara, pokoknya duit mereka banyak.

Emang repot kalau urusannya udah komersialitas selangkangan. Kadang banyak motif juga buat orang jadi terjerumus ke gaya hidup ditopang dengan hasil dari bisnis lendir. Ini yang perlub diwaspadain buat para orang tua, kakak atau adik yang punya saudara perempuan. Jangan karena tuntutan gaya hidup dan memaksakan kehendak jadi terjerumus ke lingkaran gadun.

Banyak apartemen yang jadi lokasi bisnis kayak gini. Wanita muda yang udah terjangkit social climber umumnya hidup di tempat semacam apartemen atau cluster mewah.

Gua gak pukul rata bahwa semua wanita yang pamer kemewahan itu bisa jadi punya hubungan sama gadun. Gue bicara menyoal social climber, memaksakan kehendak gaya hidup dengan menghalalkan segala cara. Komersialitas selangkangan dan dalam dekapan gadun salah satunya. Ini realita dan bisa ditelusiri jejaknya.

Kadang kalau gadun sudah cocok dengan wanita muda, enggak segan wanita muda bahkan remaja itu dipelihara diberi fasilitas yang diinginkan, termasuk smartphone mahal terbaru, mobil, hunian berkelas, dan uang saku lumayan buat beli berbagai asesoris dengan brand terkemuka.

Kalau orang jaman now bilang yang dipake pelet eropa atau pelet jepang. Pelet eropa yaitu fasilitas hidup standar eropa buat para wanita yang terkontaminasi social climber. Pelet jepang yaitu fasilitas mobil mewah, motor, bahkan perabotan mahal asal jepang yang mengisi hunian sang simpanan gadun.

Mungkin adanya istilah “pelakor” (perebut laki orang) di jaman now bisa jadi karena virus social climber untuk memenuhi standar hidup dengan cara cepat bak sosialita. Enggak aneh kalau di kota-kota besar banyak remaja putri belia yang jadi simpanan gadun.

Biasanya dilakukan secara tertutup, dan kebanyakan orang tua hanya tau anaknya sekolah, kuliah, atau sekadar merantau saja. Ini sebuah fenomena juga dan menjadi viral di dunia gemerlap. Bukan gue menghakimi tapi memang dari akun-akun Open BO banyak memamerkan gaya hidup mewah. Itu yang kelihatan, yang pakai kedok gua rasa masih banyak dan itu ada.

Hedonisme adalah biang kerok dari adanya social climber ini, juga dimanfaatkan oleh om-om senang tajir melintir atau gadun untuk memenuhi hasrat hidung belangnya. Puber ke dua mungkin. Maka semua itu jadi satu kesatuan.

Gadun ini memang tipikal predator daun muda gak heran kalau mereka adakan party atau event kerja atau bahkan sebatas entertain mitra bisnis mereka kerap gunakan jasa Open Bo.

Tapi jangan salah social climber dan fenomena Open BO ini juga kadang pelakunya pasangan kekasih. Ada juga pria muda atau abg memasarkan pacarnya sendiri. Kadang juga istilah perintah “morotin” gadun diberikan. Hal gila di jaman now cuma karena gaya hidup, status sosial yang maksa rela berbuat apa saja.

Wajar juga kadang wanita muda lebih nyaman dalam dekapan gadun.

Segini aja dulu, kapan-kapan gue research lagi dan gue tanya-tanya dwngan pertanyaan jebakan ke mereka yang emang terindikasi social climber dan terindikasi gadun.

Sekian.

SOURCE

URL The Jack Sound 2 Social Climber Dalam Dekapan Gadun Jack – Judul yang agak rese gua tulis kali ini, tulisan lebih ngehek dibanding tulisan propaganda atau analisa start up bahkan nyinyir politik.
// Jax @JackVardan
Ya gua gak kaget istilah gadun. Tapi emang ada permintaan juga ada penawaran. Baik gadun dan suggar daddy yang punya makna beda menurut netijen jaman now. Dua-duanya adalah tempat ngasih peluang tumbuh kembangnya "pelakor". Kasihan gua.
// Jax @JackVardan
"Gadun dan Sugar Daddy" bagi gua dua-duanya tipikal laki-laki yang terlambat nakal. Nakal diusia yang gak lagi muda cuma ngandalin harta. Begitu harta abis, ya say good bye.
// Jax @JackVardan
Mereka yang kena jerat gadun atau sugar daddy, biasanya tipikal "social climber". Hidup dengan aroma hedonis yang dipaksakan. Kadang suka kasihan, tapi ya gimana lagin akhirnya juga mereka nikmatin. Mesti kadang, cinta sejatinya dikorbanin.
// Jax @JackVardan
Laki nakal / cewe nakal diusia kenakalan ya wajar. Tapi kalo ada laki yang udah bau tanah tetap nakal namanya terlambat nakal. Sayangnya cewe-cewe belia yang dalam fase kenakalan, jatuh ke pelukan lelaki bau tanah yang nakal.
// Jax @JackVardan
Ini tulisan gua tentang "Terlambat Nakal". Jadi kalau mau ngomong kenakalan laki dan cewe harus lengkap. Ada permintaan ya juga ada penawaran. "Gadun" or "Super Daddy" must read. Hidup itu sederhana, goreng, angkat, lalu tiriskan. Baca selengkapnya: thejacksound.wordpress.com/2018/02/08/ter…

Terlambat sekolah? Wajar.

Gua mau bahas fenomena yang memang jarang jadi sorotan atau terlalu tabu kalau dibicarakan ke ruang publik. Bisa juga memang enggak mau ada yang bahas.

Malu, mungkin? Bisa jadi.

Hidup itu sederhana, goreng, angkat, lalu tiriskan
Terlalu jaim?

Maybe yes, maybe no.

Banyak orang yang menghabiskan masa muda atau remaja yang mungkin bisa dibilang nakal. Kenakalan remaja yang beraneka ragam. Mungkin era jadul atau era jaman old kenakalan remaja atau pemuda biasanya masih bisa dikategorikan wajar. Meski dinilai relatif bagi sebagian banyak orang.

Jaman old, masih ada batas-batas malu. Misalkan ketika anak muda di jaman old yang doyan nongkrong, kumpul bareng, kongkow, biasanya bermain gitar atau merokok. Bahkan sekadar minum minuman keras.

Tapi di jaman old, mau bergaya seperti jagoan macam apa, nongkrong seliar apapun, ketika ada tokoh agama atau orang tua melintas mereka akan malu, menunduk, tak bersuara, menyembunyikan rokok, bahkan senyum sapa sebagai rasa hormat.

Wanita di tongkrongan jaman old?

Sulit ditemui kalau ada wanita kongkow bareng sama laki-laki, masih ada batas malu dan juga masih takut dengan norma susila.

Jaman now?

Ampun bahasnya. Kita mulai saja dari kasus sex bebas, hamil diluar nikah, sampai kasus prostitusi demi memenuhi gaya hidup hedonis.

Kadang gua juga bingung lihat anak muda jaman now. Berboncengan naik motor begitu lengket mirip karet dan papan karambol. Luar biasa pokoknya. Berganti pasangan sudah jadi rahasia umum, giliran hamil kompak dan sepakat untuk aborsi, mau enak gak mau tanggung jawab.

Belum lagi narkoba yang gila-gilaan, dan rasa hormat yang lenyap dengan orang tua atau guru. Belum lama, sampai ada kasus murid bunuh guru. Giliran guru menghukum murid langsung kena sangsi.

Tapi, itu semua hanya perbandingan antara jaman old dan jaman now, pembaca.

Kenakalan diusia remaja emang sudah biasa didengar. Begitu repot kalau ada orang yang dari kecil soleh, terdidik, pintar, dan cerdas. Tapi begitu sukses punya jabatan dan uang berlimpah, nakalnya jadi kelihatan lucu.

Lu kemana aja baru bandel?

Ada kemungkinan-kemungkinan yang mau gua bahas. Kemungkinan pertama, dulu mungkin tinggal di daerah, bukan gua mau meremehkan orang daerah tapi di setiap daerah ada pelosok dan ada wilayah perkotaan.

Kalau yang tipe begini, biasanya dari kecil taat ibadah, polos, masih junjung adat serta budaya, ketika menempuh pendidikan lanjutan dia ke kota. Terkontaminasilah dengan hal baru. Baik pergaulan bebas dan gaya hidup yang berbeda.

Ada juga yang merantau dari pelosok atau daerah, kemudian berkarir di kota besar saat belum terkontaminasi dengan gaya hidup begitu biasa-biasa saja. Sampai akhirnya gaya hidup perkotaan hingga pergaulan yang kota sekali. Kadang bablas dan lupa dari mana dia berasal.

Cafe, mall, resto, butik, hingga gadget menjadi orientasi pergaulan. Mungkin eksistensi dianggap penting dan ingin menunjukan hal berbeda dengan kawan-kawannya di daerah. Hal-hal nakal mulailah dicoba, hingga saat umur yang tak lagi muda berubah gaya hidup dan dinilai begitu terlambat nakal saat usianya masuk jenjang karir yang hampir selesai.

Bisa saja diawal karir, padahal usia tak remaja lagi. Tapi karena melihat hal baru dan dirasa bisa dipamerkan di daerah asalnya kesan ekslusif pun terjadi.

Yeah, gua bilang dia terlambat nakal. Diumur yang gak remaja lagi baru ngerasain hal baru, mengasah fantasi dan imajinasi nafsu. Terlambat, yang lain sudah tinggalkan itu.

Selanjutnya nih,

orang-orang baik, pintar, soleh disaat masa pendidikan kemudian berkarir sukses, punya banyak uang.

Lantas punya posisi penting di perusahaan, bahkan jadi politisi sekalipun.

Ini yang konyol. Saat sukses dia punya kekuasaan, dia korupsi, jadi gadun dan gonta-ganti wanita muda, party gaya eksklusif, menikah lagi dan punga istri simpanan, mabuk sampai narkoba.

Dulunya cupu.

Tapi dia baru merasakan dunia gemerlap diusia yang enggak lagi muda atau remaja. Ini fenomena yang emang gua tulis berdasarkan apa yang gua lihat. Bahkan menimpa temen-temen gua.

Semua karena ke-aku-an yang datang terlambat. Puber pertama yang liar digabung puber kedua yang liar, jadi terlambat nakal.

Menurut gua harusnya biasa-biasa aja kalau udah sukses. Gak perlu merasa paling eksklusif bahkan gengsi segede gunung semeru. Jadi diri sendiri dan tetap biasa walau punya kekuasaan dan harta berlimpah.

Sebab, kalau kata ababil-ababil, jatuh itu sakit. Gak mau jatuhkan? Jatuh biasa, tapi kalau jatuh saat posisi lagi dipuncak? Modyar sampean.

Gua lihat orang-orang yang dulunya rusak sekarang malah kelihatan lebih baik. Sudah puas jadi nakal makanya akan ketawa kalau lihat manusia yang baru coba-coba nakal.

Kalau yang lain yang sekarang sok kelihatan alim nih, bukan berarti dulunya orang baik. Malahan kalau lihat gaya orang yang nakalnha tanggung tapi gayanya segudang, suka ketawa dalam hati sambil berdoa buat orang yang diketawain.

Sudah jamannya orang bertato belajar mengaji bahkan jago ngaji. Susah jamannya orang yang dulu brutal terus berubah malah bela agama dan ulamanya.

Baru mau nakal, sekarang?

Dulu kemana aja?

Mati enggak kenal umur sih, tapi umur yang udah banyak harusnya enggak coba-coba baru jadi nakal.

Itulah yang gua sebut,

“Terlambat Nakal”.

Oh iya, gua mau kasih tau nih. Mau seberapa banyak duit, sebanyak apapun harta, sebagus apapun mobil atau gadget. Tempat yang paling enak buat nongkrong itu ya WC, asik dah.

Produksi sendiri, distribusi sendiri, harumnya konsumsi sendiri. Egois, pelit yang dianjurkan.

Sekian.

SOURCE

URL The Jack Sound 29 Terlambat Nakal Terlambat sekolah? Wajar. Gua mau bahas fenomena yang memang jarang jadi sorotan atau terlalu tabu kalau dibicarakan ke ruang publik. Bisa juga memang enggak mau ada yang bahas. Malu, mungkin? Bisa…
// Jax @JackVardan
Gua nunjukin thread "suggar daddy" ame "sugar baby" ke adek gua yang cewek. Dia bilang, "itu gatel namanya". Kenapa dia ngomong gitu? Adek gua buat penuhin hobi dan kesukaannya dia main adsense via youtube dan review gadget. Usaha bukan ngemis "komersialitas selangkangan".
// Jax @JackVardan
Lagi pula, manusia banyak gaya emang selalu akan tersiksa dengan apa yang dia lakuin. Maksa, bukan perkara SJW gua jadinya. Tapi ini emang hal biasa, karena orientasi pertemanan jaman now, lebih ke hal-hal yang waw. Kagak banget. Fakyu.
// Jax @JackVardan
Ya emang, didikan orang tua tentang disiplin itu penting, terutama kaitannya sama gaya hidup, Bersyukur diajarin nabung, punya celengan bekas air mineral / celengan ayam. Mau apa-apa nabung, dan puas. Itu usaha.
// Jax @JackVardan
Hidup emang pilihan, Tuhan akan kasih apa yang diperlukan, bukan apa yang kita mau. Masalah keinginan itu kodrat manusia, gak ada yang gak mau hidup kagak enak. Tapi ukur dengan kemampuan keringet yang mengalir dan sejauh mana usaha.
// Jax @JackVardan
Gua punya kenalan beberapa SPG yang bahkan identik dengan (tanda kutip). Gak semuanya gitu, Sebagian dari mereka justeru pekerja keras, ada yang kuliah, ada yang emang tulang punggung. Ya hidup dan kerja keras.
// Jax @JackVardan
Jadi istilah "Sugar Daddy" ame "Sugar Baby" jadinya "Sugar Basi". Mau punya barang bagus ya kerja keras, nabung, jangan korbanin perasaan cuma buat numpang dibilang tajir. Main main ke UGD, gak ada yang teriak "gua tajir", yang ada cuma doa-doa dan teriakan sakit.

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.