1
Login and hide ads.
h e h e h e @justimageen
— ' : Thread “ Seminggu habis itu, tokonya hilang. Dua rumah di sebelahnya, tiba - tiba jadi tetannga-an. Rumahku juga tiba - tiba ganti nomer. ” "Toko itu nggak pernah ada, Dwi."
h e h e h e @justimageen
— Cerita ini dari pengalaman pribadi salah satu temen deket aku. Nggak dilebih atau dikurang kurangkan sama sekali. Insyaallah persis sama yang dia ceritain.
h e h e h e @justimageen
— Ceritanya bakal aku buat dari sudut pandangnya Dwi sebagai orang pertama
h e h e h e @justimageen
Malem itu, aku, bapak, sama bunda, ngumpul di meja makan. Makan sambil ngobrol ngobrol biasa. Nggak ada yang spesial, sampai bunda bilang 'Kalian makan duluan aja, bunda lupa belum sholat Isya'.
h e h e h e @justimageen
Ditengah makan berdua, bapak bilang, "Kamu lagi ada masalah?" Dengan cepat, aku geleng geleng. "Enggak, pak." "Kenapa?" "Kamu..., kalau ada masalah...," Bapak ngejeda. Diem sebentar. Ngelirik ke jendela di sebelahnya. "Dateng aja ke toko seberang jalan sana."
h e h e h e @justimageen
Entah kenapa, aura bapak beda malam itu. Nada suara bapak berat, nggak sama waktu dia mainin salam dengan bilang 'Samlekom Ya Ahli Kubur' tiap habis pulang sholat Jum'at.
h e h e h e @justimageen
aku mastiin. "Toko antik yang pager biru itu, pak?" Bapak ngedehem. "Iya." "Bilang aja pas dateng sama yang punya kalau kamu anak Bapak." Samar, aku ngelihat air mata Bapak jatuh. Air mata itu, jadi air mata pertama dan terakhir yang aku lihat dari Bapak.
h e h e h e @justimageen
Karena seminggu setelah bilang itu, Bapak meninggal. Nggak sakit, nggak kecelakaan, nggak ada baret baret luka ditubuhnya, bapak ngehembusin nafas terakhirnya di hadapan bunda.
h e h e h e @justimageen
Nggak, toko itu nggak hilang begitu bapak meninggal. Sampai bapak diliang laharkan, toko itu masih ada.
h e h e h e @justimageen
Seminggu habis itu, tokonya hilang. Dua rumah di sebelahnya, tiba - tiba jadi tetannga-an. Rumahku juga tiba - tiba ganti nomer.
h e h e h e @justimageen
Sebagai anak SD kelas 2, aku panik bukan main. Nangis seharian. Buatku ini janggal. Janggal banget. Aku inget banget tiap ke sekolah lewatin toko itu. Beneran. Aku juga inget banget rumahku itu nomor 22, tapi... kok jadi 21?
h e h e h e @justimageen
Aku nggak berani tanya siapapun. Sebab, malamnya bapak hadir di mimpi aku. Beliau bilang, "Cukup kamu yang sadar." nggak bisa disebut sebagai pengalaman magis, sih, karena mungkin bapak hadir ya karena aku hari ini terlalu mikirin bapak dan toko itu doang.
h e h e h e @justimageen
Waktupun berlalu gitu aja. Nggak kerasa aku yang masih kelas 2 SD saat itu, sekarang udah kerja aja. Idul fitri, aku dateng ke rumah bunda, Seperti biasa, bunda udah nyiapin makanan khas hari Raya di meja makan. Opor lengkap dengan pernak perniknya.
h e h e h e @justimageen
"Kok malem datenge, nduk?" "Iya, bun, dapetnya yang malem keretanya." "Ya Allah, lupa." "Apa, bun?" "Kamu makan duluan aja, bunda lupa belum sholat Isya"
h e h e h e @justimageen
Entah kenapa aku merinding. Kejadian malam itu terulang. Kalimat bunda terdengar ngeri di telinga. "Bun," Bunda yang udah di ambang pintu diem. "Opo?" "Toko di seberang jalan itu...,"
h e h e h e @justimageen
Dengan lucunya, bunda yang ada di ambang pintu duduk di depanku. "Toko yang mana?" Aku ngelirik ke jendela. Hujan. Dan..., toko itu ada. Benar benar ada. Memisah dua rumah yang bertahun tahun jadi sebelahan. Dan bapak ada di sana.
h e h e h e @justimageen
— ' : Thread Dwi nangis. Aku langsung diem, nggak berani tanya. Samar, Dwi bilang "Bapakku ada di sana, Fi." "Demi Allah, aku lihat bapakku ada di depan pager toko itu."
h e h e h e @justimageen
"Semuanya mulai ganjil buat aku." "Toko itu ada disana aja udah ganjil buat aku." "Dan... bapak juga ada di sana."
h e h e h e @justimageen
"Toko yang mana?" "Toko di seberang jalan sana." "Ssst." "Kamu ngapain jelasin sama bundamu." "Bundamu nggak tahu apa apa." Aku noleh ke jendela. Iya, bapak ada di depanku pas. Memasang senyum terbaiknya di balik jendela.
h e h e h e @justimageen
Meski hujan lebat di luar, aku bisa dengar semua kalimat bapak meski terhalang jendela. "Kamu nggak mau keluar mayungin bapak?" "Hujan lho, ini."
h e h e h e @justimageen
Dengan gemetar, aku melirik bunda. Bunda masih duduk, memandangku bingung. "Gajadi tanya? Kalo gajadi, bunda ke kamar dulu, belum sholat Isya" "Bu...," "Bapak itu sudah meninggal lama kan?" Bunda melirik ke jendela.
h e h e h e @justimageen
"Daripada nanya itu, nggak mending kamu keluar?" "Payungnya ada di deket rak sepatu."
h e h e h e @justimageen
Dengan payung polkadot biru di tangan kiri, aku buka pintu. Dan bapak sudah berdiri di sana. Pakai baju kesukaannya, kemeja biru tua dengan kerah biru muda. Pelan, aku dateng ngedeketin bapak.
h e h e h e @justimageen
Bisa dibilang dibanding takut, rasa sayang dan kangenku sama bapak jauh lebih besar. Aku pingin sungkem sama bapak. Pingin minta maaf sama bapak. Pingin minta restu sama bapak. "Udah lama, ya, nduk..." bapak bersuara. Matanya berkaca kaca saat payungku di atas kepalanya.
h e h e h e @justimageen
"Bapak kangen sama kamu." suara bapak bergetar. "Dwi juga." "Ngomong - ngomong, bapak minta maaf, ya, udah ninggalin kamu terlalu cepat." bapak berjalan masuk. Meneliti barang barang di rumah.
Load Remaining (15)
Login and hide ads.