"[Selayang Pandang]: Mahatir Dan Kepemimpinan Sisipus" by @IndraJPiliang

minister Malaysia prime politician
3
#SiJundai🕳️🌠🕊️ @IndraJPiliang
Tahniah Dr M. Parti Pikatan sbg partai oposisi menang pemilu nasional di M'sia. Stlh 60 thn UMNO berkuasa. Dr M bakal jd Perdana Menteri dg usia 92 thn. Usia boleh tua, gagasan ternyata disetujui pemilih millenials M'sia. Hebat!!! #SketsaGerilyawan
#SiJundai🕳️🌠🕊️ @IndraJPiliang
Anwar sbg organizer, Dr M sbg peniup terompet dg tingkat kepercayaan tertinggi: "Oh, apa yg diucap itu betul betul betul?" Biasanya sih ada bantuan jg dari pemilih2 gelap asal negeri kita 😋😋😋 twitter.com/estananto/stat…
#SiJundai🕳️🌠🕊️ @IndraJPiliang
Msh. Pak JK 75 thn. Pas Pak JK lahir, Dr M sdh menginjak masa remaja: 17 thn. twitter.com/AbbasciputAbba…
#SiJundai🕳️🌠🕊️ @IndraJPiliang
Bisa jadi, sih. China jg makin tua usia pemimpinnya. Philipina jg tua. USA tua. Generasi Millenials lbh demen sama kakek2, drpd sama om2. twitter.com/shmeysarah/sta…
#SiJundai🕳️🌠🕊️ @IndraJPiliang
Presiden S'pore skrg seorg perempuan & muslim. Dlm dua thn lg, Wan Azizah Wan Ismail jd PM M"sia, Anwar Ibrahim jd Bapak Negaranya. Ada tanda2 Indonesia bakal punya Presiden Srikandi juga? twitter.com/mangkuto78/sta…
#SiJundai🕳️🌠🕊️ @IndraJPiliang
Gak juga ah. Bukan soal kapasitas, tp soal kerja keras dan daya tahan (endurance) dlm politik dg segala resikonya. Cth Presiden S'pore skrg yg punya bisnis restoran Padang & Wan Azizah yg berani ke dpn saat Anwar Ibrahim diobok-obok. twitter.com/mangkuto78/sta…

Mahathir Mohamad dan Kepemimpinan Sisipus

Mahathir Mohamad dilantik menjadi Perdana Menteri (PM) ke-7 Kerajaan Malaysia kemarin, di hadapan Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V asal negara bagian Kelantan. Berbeda dengan jabatan PM yang dipilih secara langsung dalam pemilihan umum, posisi sebagai Yang di-Pertuan Agong dijalankan secara bergiliran di antara sultan-sultan negara bagian. Sekalipun berbentuk kerajaan, Malaysia menganut sistem pemerintahan federal, sebagaimana terjadi di negara-negara bekas jajahan Inggris (Britania) Raya. Jadi, Yang di-Pertuan Agong bukanlah jabatan seumur hidup, sehingga usia Raja Malaysia itu tidak setua Dr M, panggilan akrab Mahathir. Sejumlah rekor baru dipecahkan oleh Dr M, salah satunya tercatat sebagai Kepala Pemerintahan Tertua se-planet Bumi.

Kalau hanya terpilih kembali sebagai kepala pemerintahan, sudah banyak di dunia. Benjamin Netanyahu di Israel dan Vladimir Putin di Russia adalah contoh terdepan dari tokoh yang balik lagi ke posisi semula. Dr M bukanlah pemecah rekor di bidang ini. Sehingga, peristiwa politik di negara jiran itu tak perlu dipandang sebagai angin perubahan ataupun trend setter baru yang luar biasa. Keterpilihan kembali itu tak tepat disambut dengan nada euforia, sebagaimana disampaikan sejumlah politisi.

Bukankah sebelum memutuskan mundur dari jabatan politik di pemerintahan, Dr M sudah berkali-kali dilantik sebagai PM, usai kemenangan demi kemenangan dalam pemilu yang diraih oleh Barisan Nasional sepanjang pemerintahannya? Dr M bukan sekali saja dilantik sebagai PM, lalu memerintah selama 22 tahun dari 1981 hingga 2013. Tak ada siklus pergantian kepala pemerintahan selama itu, apalagi Malaysia termasuk rutin dalam menyelenggarakan pemilu.

Sebaliknya, kehadiran Dr M --alu nanti Wan Azizah Wan Ismail, apalagi Anwar Ibrahim, sebagai pengganti-- di podium itu justru makin menciptakan ketersendatan dalam proses regenerasi kepemimpinan federal di Malaysia. Bakal terjadi kemacetan yang teramat parah dalam jalur politik, apabila Dr M juga ikut-ikutan mengangkut skuad lamanya ke kursi kabinet, misalnya Rafidah Azis yang legendaris itu. Padahal, Dr M juga yang menyusun Visi Malaysia 2020 sebagai negara modern yang bakal dijalankan oleh generasi yang lebih muda, terdidik, dan terbiasa berkomunikasi dalam kancah pergaulan internasional. Bagaimana Dr M memberikan saluran kepada "pasukan kalah perang" ini adalah kunci bagi keberhasilan atau kegagalan reputasi yang hendak ia catatkan dengan tinta emas.

Upaya tumpas kelor sama sekali akan membuat lobang-lobang masalah baru bagi masa depan Malaysia. Apalagi, lapisan politisi muda berbakat di Malaysia tidak setebal tetangganya di Indonesia. Jumlahnya sangat terbatas, terutama yang menempuh jalur resmi lewat Barisan Muda UMNO yang "meniru" model kaderisasi ala Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI). Jauh lebih banyak anak-anak muda Malaysia yang menempuh jalur profesional dan dunia usaha, termasuk dalam mengelola korporasi-korporasi besar yang mendunia, ketimbang yang terjun ke lapangan politik praktis. Biasanya, lapisan muda politisi Malaysia ini berasal dari kalangan keluarga dekat PM yang sedang menjabat. Mereka bukanlah kalangan aktivis kampus, cendekiawan independen ataupun aktor lembaga swadaya masyarakat yang pindah jalur ke dunia politik praktis.

Mengapa ini terjadi? Lagi-lagi, berbeda dengan di Indonesia, bahkan mahasiswa perguruan tinggi negeri di Malaysia sama sekali tak dibolehkan menyentuh atau melibatkan diri dalam kegiatan politik. Walau Abdullah Badawi (Pak Lah) terkenal dengan program "Satu Keluarga, Satu Sarjana"-nya, tetap saja para sarjana itu tak memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam berpolitik. Katakanlah menjalankan aksi-aksi demonstrasi di kampus-kampus atau menyemai organisasi-organisasi mahasiswa demokratis. Sikap kritis masih jauh dari kaum yang di Indonesia dikenal sebagai agent of social change itu.

Di luar itu, semakin banyak mahasiswa-mahasiswa Malaysia yang kuliah di kampus-kampus luar negaranya, sebut saja yang menjadi mahasiswa kedokteran di kampus-kampus Indonesia. Apalagi, terdapat sejumlah kemudahan atau keistimewaan yang diperoleh mahasiswa-mahasiswa asal Malaysia, apabila mereka menempuh pendidikan tinggi di negara-negara persemakmuran. Asal, itu tadi, mereka benar-benar mengejar ilmu pengetahuan dan teknologi yang diajarkan di kampus-kampus itu, dan tentu menjauhi dunia politik.

Nah, bagaimana bisa tidak khawatir, apabila generasi "Kakek Segala Tahu" atau "Sito Gendeng" inilah yang memimpin Malaysia, dengan melupakan sama sekali penggemblengan atas Wiro Sableng yang lebih muda. Apabila generasi Dr M, Anwar Ibrahim, atau Rafidah Azis benar-benar hilang dari politik (dan pemerintahan) akibat dimakan usia, dari mana Malaysia mencari lapisan penggantinya? Kalaulah sosok seperti Khairy Jamaluddin, menantu Pak Lah, ikut digusur dan disingkirkan dalam gerbong kepemimpinan resmi sebagai menteri, misalnya, sanggupkah Dr M "mencetak" kader-kader pemimpin politik muda yang baru hanya dalam waktu dua atau tiga tahun ke depan? Dari mana Dr M mendapatkan kader-kader itu, ketika kampus-kampus ternama di Malaysiapun tak diberi hak intelektual guna "menyetak" mereka?

Di sinilah letak masalah yang patut segera dipecahkan oleh Dr M. Bukan hanya ia bakal disibukkan dengan upaya konsolidasi partai-partai pembangkang yang kini menjadi partai pemerintah, tetapi sekaligus menata lingkungan demokratis di dalam regulasi-regulasi kampus, masyarakat sipil, dan organisasi kaum muda. Di banyak negara, apabila orang yang "lama puasa" diberi kesempatan untuk memakan apa saja atas nama hak, bakal sakit perut atau malah berubah menjadi pendekar-pendekar yang bertarung tanpa paradigma. Bahkan ada yang langsung jatuh sakit, atau menjalankan pemerintahan secara lamban demi alasan balik modal dan balas dendam. Dr M punya pekerjaan rumah yang lebih banyak, sebagian akibat dari kebijakan yang ia ambil ketika 22 tahun menjadi PM Malaysia.

Langkah-langkah utama apa yang dilakukan Dr M bakal terlihat dalam satu-dua minggu ke depan. Apabila ia mendahukan agenda-agenda hukum atau ekonomi, dengan membelakangkan upaya terencana guna memunculkan bintang-bintang pemimpin baru Malaysia, berarti ia bakal beradu siasat dengan waktu yang kian kasip. Kompetisi dan kontestasi kehadiran politisi yang lebih muda dan piawai, perlu diinisiasi Dr M dengan menyingkirkan penyakit-penyakit lama yang khas negara-negara penganut kapitalisme semu (ersatz capitalism) di Asia Tenggara. Dr M tidak patut lagi menolong siapapun, bahkan jangan sampai hendak bersikap seperti orang yang ingin meninggalkan warisan nilai-nilai pribadi. Satu-satunya yang ia wajib bantu adalah masa depan Malaysia, terutama puak Melayu yang menjadi warga negara "boemipoetra-"nya.

Sebaliknya, apabila Dr M langsung menggebrak dengan cara memburu sosok-sosok yang ditengarai menggelapkan hutang negara demi kepentingan pribadi, alamat kerja besar Dr M sama sekali tak bakal sempat (juga) dipulihkan. Momentum yang jarang datang tentang arti kehadiran Mahathir bakal dengan cepat tak penting lagi. Dr M sama saja dengan dirinya yang dulu berkuasa, yakni tak membangun infrastruktur keberlanjutan (lapisan) kepemimpinan sipil demokratis untuk masa depan Malaysia. Perseteruan Dr M dengan Anwar Ibrahim --pun dengan Pak Lah-- di masa lalu, menyita begitu banyak energi bangsa Malaysia. Akibat kelalaian itu, bukan hanya rakyat Malaysia yang menanggungnya, bahkan langsung diletakkan di punggung Dr M di usia pensiunnya. Seperti Sisipus yang terus menggulirkan batu ke arah Gunung Olimpus, ternyata batu itu kembali menggelondong ke dasar lembah.

Mampukah Dr M mematahkan tragedi Sisipus itu? Mari kita lihat....

Indra J Piliang Ketua Dewan Pendiri Sang Gerilya Institute dan Anggota Dewan Pakar Partai Golkar

SOURCE

URL detiknews 35 Mahathir Mohamad dan Kepemimpinan Sisipus Selain menimbulkan euforia, kehadiran kembali Mahathir Mohamad sebagai Perdana Menteri Malaysia juga memunculkan pesimisme. Kenapa?

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.
Login and hide ads.