Lompatan Progresif, Kuba Bergerak Meninggalkan Sekat Rasisme

Lompatan dan kebijakan Kuba dinilai lebih progresif dibanding negara-negara lain termasuk Amerika Serikat (AS) yang acap mendaku sebagai negara paling demokratis.
international amerika serikat kuba York NEW
0

Koran Sulindo – Lompatan dan kebijakan Kuba dinilai lebih progresif dibanding negara-negara lain termasuk Amerika Serikat (AS) yang acap mendaku sebagai negara paling demokratis. Pasalnya, setelah pemilihan presiden baru pada bulan April, Kuba kini punya dua perempuan kulit hitam yang menjabat sebagai Wakil Presiden.

Mereka adalah Ines Maria Chapman dan Beatriz Jhonson. Setelah resmi mengumumkan kedua wanita itu sebagai Wakil Presiden, Kuba membuat sebuah kemajuan yang begitu menghargai keragaman dan bergerak meninggalkan sekat-sekat rasisme.

Laporan New York Times menyebutkan, kehadiran dua wanita itu menambah jumlah perempuan kulit hitam menduduki jabatan di pemerintahan Kuba. Ini menjadi bukti dan tanda perubahan di Kuba ketika perempuan-perempuan tersebut diberi kepercayaan memimpin sebuah jabatan di pemerintahan.

Selain Chapman dan Jhonson, perempuan kulit hitam lainnya yang dipilih sebagai Wakil Presiden Pertama adalah Salvador Valdes Mesa yang berusia sekitar 70 tahun. Perubahan ini menyusul pergantian kepemimpinan presiden Kuba pada April lalu. Setelah Raul Castro resmi mundur, Majelis Nasional Kuba memilih Miguel Mario Diaz-Canel Bermudez sebagai presiden baru Kuba.

Sejarah Castro
Perubahan kepemimpinan di Kuba menjadi sejarah baru lantaran tak satu pun pimpinan negara itu berasal dari keturunan keluarga Castro. Sementara Raul akan fokus menjadi Ketua Partai Komunis Kuba.

Castro seperti yang dilaporkan Time, menyebutkan, pemilihan wanita-wanita berkulit hitam itu tidak saja hanya karena mereka berkulit hitam. Tapi, itu terutama karena kualitas dan rekam jejak mereka. Pertarungan di Kuba tidak hanya soal proporsi etnis melainkan soal kualitas kepemimpinan dalam pembuatan keputusan.

Setelah disumpah menjadi Presiden Kuba pada pertengahan April lalu, Miguel Diaz-Canel berjanji akan melanjutkan revolusi sosialis yang telah dimulai Fidel Castro sejak 1959. Akan tetapi, pada masa pemerintahannya, ia akan memodernisasi ekonomi dan sistem sosial Kuba sebagai ciri khas pemerintahan periode baru.

Laporan Washington Post menuliskan, sebagian masyarakat Kuba sulit untuk membayangkan negara mereka tanpa keluarga Castro. Mereka sulit membayangkan kenyataan tersebut. Bahkan ketika keluarga Castro tidak ada lagi di pemerintahan, menurut Giraldo Baez, seorang bekas buruh pabrik, warga Kuba merasa masih perlu mengikuti ide-ide keluarga Raul dan Fidel Castro. [KRG]

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.