0
Temporary Hiatus @OkeOnta
Amien Rais: Dulu Menolak Politisasi Agama, Kini Jadi Politisi Labil by @islamidotco pic.twitter.com/HzDWArtjB7
Expand pic
Temporary Hiatus @OkeOnta
Agama memang tidak secara sistematis mengajarkan praktek demokrasi, namun secara esensi telah memberi etos dan spirit yang mendorong terwujudnya kehidupan demokratis.
Temporary Hiatus @OkeOnta
Menurut Gus Dur, dalam aspek pemikiran politik, umat Islam terbagi menjadi dua, yaitu subtantif inklusif dan legal eksklusif. Dalam paradigma pemikiran, legal eksklusif mempunyai ciri-ciri pemikiran sebagai berikut:
Temporary Hiatus @OkeOnta
Pertama, Islam bukan hanya agama, tetapi sebuah sistem hukum yang lengkap menyangkut “tiga d” : din (agama), daulah (negara), dan dunya (dunia), sebuah sistem yang lengkap dan paling sempurna yang mampu memecahkan seluruh permasaahan.
Temporary Hiatus @OkeOnta
Kedua, mewajibkan para Muslimin mendirikan negara Islam, karena mencontoh Nabi Muhammad dan sahabat dalam mengatur tatanan kemasyarakatan. Hal ini dijadikan refrensi utama dan modal untuk mendirikan “negara Islam ideal”.
Temporary Hiatus @OkeOnta
Ketiga, formalisasi syariat sebagai landasan agama dan negara yang mengatur seluruh tatanan masyarakat. Keempat, aktualiasasi Islam dalam bidang politik (partai Islam) dan eksklusif terhadap perbedaan, serta Memiliki jargon “amr ma`ruf nahyi munkar”
Temporary Hiatus @OkeOnta
Dari kedua ciri di atas, kita bisa melihat bahwa pemikiran Amien Rais mendekati pemikiran legal eksklusif. Hal ini dapat dilihat dari ciri yang keempat yang tercermin melalui sikapnya, yakni aktualisasi Islam dalam bidang politik bukan budaya.
Temporary Hiatus @OkeOnta
Pernyataan amien rais terkait partai Setan atau partai Allah sebenarnya bertentangan dengan tulisannya sendiri pada awal-awal reformasi Indonesia. Amien Rais pernah mengatakan, “jika ungkapan-ungkapan dan simbol-simbol keagamaan di gunakan untuk meningkatkan dukungan politik.....
Temporary Hiatus @OkeOnta
agama akan menjadi sebuah isu yang memecah belah kaum muslimin, dan prinsip-prinsip serta keyakinan-keyakinan yang sensitif yang mungkin tidak dapat dinegosiasikan akan membebani politik pemilu.” (Amien Rais, “Islam and Politics in Contemporary Indonesia”)
Temporary Hiatus @OkeOnta
Bisa kita lihat ada sebuah perbedaan antara dulu dan sekarang, dulu bisa dikatakan Amien menolak politisasi agama untuk kepentingan politik, namun sekarang sebaliknya.
Temporary Hiatus @OkeOnta
Apa ini memang sebuah mental politisi yang faham agama kemudian bisa mengatur agama untuk kepentingan politik? Atau ini merupakan Amien Rais yang sesungguhnya? Wallahu A’lam
Temporary Hiatus @OkeOnta
Tulisan ini merupakan sambungan dari tulisan sebelumnya: Menguji Relevansi Partai Allah dan Partai Setan ala Amien Rais islami.co/menguji-releva…

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.