0
putiliona909 @putiliona909
Masjid Memang Bukan Panggung untuk Politik-Politik Busuk by @islamidotco pic.twitter.com/4yOL2og1hg
Expand pic
putiliona909 @putiliona909
Saya ingat sekali, sore itu pelantang mesjid kampung memanggil jamaah pengajian ibu-ibu berkumpul. Ada pengajian rutin bulanan. Biasanya, setelah membaca tahlil dan doa, akan ada materi tausiyah dari pembicara undangan dari luar kampung.
putiliona909 @putiliona909
Sore itu, pematerinya adalah seorang ibu yang ternyata sekaligus mencalonkan diri sebagai bakal anggota legislatif pada helatan pesta demokrasi.
putiliona909 @putiliona909
Layaknya tradisi mayoritas, materi pengajian sore itu dapat didengar oleh seisi kampung melalui pengeras suara dengan volume maksimal.
putiliona909 @putiliona909
Dari rumah, saya mendengar ibu caleg itu mengakhiri ceramah dengan meminta dukungan kepada ibu-ibu jamaah pengajian, lengkap menyebut nama partai yang mengusungnya serta nomor urut pencalonannya.
putiliona909 @putiliona909
Saya nggak mau galak-galak amatlah jadi warga kampung. Biar saja kalau seorang yang punya niat baik meminta dukungan doa. Eh, niat maju pencalonan legislatif itu masih sesuatu yang baik, kan? Tetapi, masalahnya adalah, si ibu caleg ternyata kalah.
putiliona909 @putiliona909
Ketika itu ada caleg lain yang terbukti lebih dekat dengan warga kampung. Kiprahnya di kampung bagus, seperti rajin datang kerja bakti dan rajin ngasih sumbangan untuk masjid serta apa saja kebutuhan kampung.
putiliona909 @putiliona909
Meskipun si calon lain itu bukan ustaz, tentu saja warga kampung lebih memilihnya. Ibu caleg yang tadi itu, nuwun sewu, beliau memang ustazah, pintar berorasi, tapi menurut warga kampung ternyata kurang membumi alias kurang bergaul.
putiliona909 @putiliona909
Alkisah, ibu caleg itu kemudian marah kpd jamaah ibu-ibu. Ia tidakmau menghadiri pengajian bulanan pada bulan berikutnya. Menurut desasdesus, ia merasa dikhianati. Lho, kemarin itu kan ia hanya minta didoakan, toh para ibu juga sudah mendoakan. Kalah atau menang, kan urusan lain?
putiliona909 @putiliona909
Hal semacam inilah yang membuat kicauan Pak Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menjadi relevan. pic.twitter.com/SjgzmBzXIQ
Expand pic
putiliona909 @putiliona909
Kata beliau, “Politik substantif sprt tegakkan keadilan dan kejujuran, penuhi hak dasar manusia, cegah kemunkaran dll adalah ajaran agama yg wajib diperjuangkan dimanapun dan kapanpun. Namun berkampanye untuk pilih paslon ini, partai itu di rumah ibadah harus dicegah.”
putiliona909 @putiliona909
Luhur dan perlu betul kan kicauan beliau ini, bukan? Rasulullah memang membangun peradaban madani dari mesjid. Rasulullah berpolitik di mesjid, memang benar. Tapi, politik ala Rasulullah itu politik substantif seperti yang dibilang Pak menteri.
putiliona909 @putiliona909
Dari proses ta’dib di mesjid, Rasulullah mengampanyekan keadilan, kejujuran, hak dasar manusia, toleransi antar manusia dan lain-lain dalam rangka mewujudkan masyarakat yang baldatun tayyibatun warabbun ghafuur.
putiliona909 @putiliona909
Anehnya, banyak orang yang merespons cuitan Pak Menteri dengan respons negatif. Lagi-lagi, mereka mengarusutamakan gagasan bahwa Pemerintah anti Islam, Pemerintah menekan gerak umat Islam, Pemerintah zalim kepada umat Islam.
putiliona909 @putiliona909
Yang lebih lucu, mereka bilang mereka akan membuat gerakan salat subuh di mesjid agar semakin besar untuk menunjukkan bahwa semakin ditekan, umat Islam akan semakin kuat.
putiliona909 @putiliona909
Pertama, segala amal ibadah kita saja sebetulnya Allah nggak butuh-butuh amat, melainkan manusia sebagai hamba yang perlu beribadah agar senantiasa mendapat petunjuk yang lurus.
putiliona909 @putiliona909
Kedua, ya silakan kalau mau membesarkan gerakan salat subuh berjamaah, tapi sekali lagi, ibadah itu untuk memperoleh keridaan Allah, bukan buat adu kuat.
putiliona909 @putiliona909
Ketiga, mbok ya jangan halusinasi terus perihal kondisi umat. Hobi kok merasa mewakili banyak orang dan merasa terancam.
putiliona909 @putiliona909
Lagian, sebelum ini, mereka yang meramaikan mesjid adalah orang-orang tua dan orang-orang kampung yang sejak sunyi telah sampai ke masjid. Sejak dulu, ada orang yang memakmurkan mesjid dengan tanpa perlu hiruk pikuk, tidak digaji dan tidak perlu pengakuan.
putiliona909 @putiliona909
Sejak dulu, banyak orang yang menggunakan masjid sebagai media untuk mengeratkan persaudaraan bermasyarakat, bukan malah mengembus-embuskan permusuhan kepada golongan lain yang tidak sependapat.
putiliona909 @putiliona909
Mesjid dikampung saya tinggal di Sleman,Yogyakarta, punya kebijakan yang cukup bagus. Ta’mir mesjid tegas dalam menyeleksi poster yang ditempel di papan pengumuman juga buletin yang beredar ketika salat Jumat. Kata kepala ta’mir, pokoknya yang diutamakan adalah kerukunan bersama.
putiliona909 @putiliona909
Masyarakat bukannya tidak beragam. Ketika kerja bakti, saya lihat ibu-ibu mulai dari rambut digelung, kerudung instan pet, kain disampirkan ke bahu, hingga hijab yang panjang sampai ke lutut.
putiliona909 @putiliona909
Para bapaknya pun beragam, ada yang bertopi, berpeci hitam, berpeci putih, hingga berjubah. Toh, mereka rukun-rukun saja.
putiliona909 @putiliona909
Sejak dulu, soal imam salat pun bergantian. Tiap imam punya aturan berbeda dlm salat yg menandakan berbedanya pemahaman agama. tetapi, mereka yg makmum tetap memosisikan diri sbg makmum yang baik, menghormati imam yg berbeda dan yakin jika Allah tetap akan menerima ibadah mereka.
putiliona909 @putiliona909
Tetapi, soal politik nanti dulu. Aplg jika politik yg dimaksud politik yg hanya bermaksud memenangkan 1golongan. Aduh, banyak GeeR kalau Allah hanya menyukai golongan mereka saja. Tidak ada golongan yang Allah suka, sebab sama saja. Sama-sama tidak berpikir kemaslahatan umat!

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.