0
Zíα Ulhαq @zulhaq_

a part-time blogger and a full time father, yang setiap hari merayakan kehidupan dengan cara bersyukur; sesederhana itu kemewahan saya

https://t.co/ZKotqBOkdK
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Inilah 3 penyebab, kenapa seseorang tidak berhasil maksimal ketika beralih profesi atau pindah kerjaan. Catatan: berdasarkan pengamatan pribadi saya 7 tahun terakhir. [thread April 2018]
Zíα Ulhαq @zulhaq_
1. Meninggalkan profesi atau tempat kerja lama penuh kebencian hingga sumpah serapah.
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Saat seseorang mau resign atau beralih profesi, banyak kasus yang disebabkan oleh masalah yang tak (bisa) diselesaikan. Personal atau profesional. Daripada berusaha menyelesaikan konflik atau masalah, resign adalah pilihan instant yang tampaknya lebih baik dari pilihan lainnya.
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Ketika resign, muncul momen pamitan via email atau langsung. Hampir di semua kasus, berpamitan penuh kata manis. Terimakasih dan minta maaf. Alasan: lanjut pendidikan, usaha di rumah, atau cari tantangan baru. Dalam hati penuh benci. Di situ saja sudah membohongi hati sendiri.
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Kebencian dan kekesalan yang dibawa itulah yang menjadi penghambat langkah maju berikutnya. Setiap melakukan sesuatu yang mirip dengan profesi atau kerjaan lama, keingat masalah yang gak kelar. Suasana hati jadi tak sehat. Dan, itu terjadi berulang kali.
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Logika sederhana: kalau resign masih membawa rasa benci dan kekesalah, berarti kan tidak menyelesaikan masalah. Itu hanya sikap melarikan diri. Muncul masalah serupa di tempat atau profesi baru, resign lagi? Mau sampai kiamat begitu?
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Kalau sekiranya resign tidak melegakan kita dari kebencian dan kekesalan, sebaiknya stay to fix it. Usaha. Sampaikan segala sesuatu yang mengganjal. Pun gak terselesaikan, paling tidak sudah berusaha. Dan lega sudah mengeluarkannya. Habis itu baru deh resign. Totally move on.
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Singkatnya, ketika ada masalah kerjaan di tempat sekarang atau profesi sekarang, pilihannya hanya dua: - stay, dan beresin - resign, dengan kelegaan hati Dengan begitu, kita bisa maju dan berkembang. Bukan sekadar tahu kalimat 'take it or leave it'.
Zíα Ulhαq @zulhaq_
2. Lupa kalau 'dunia' ini sempit adanya. Jadinya: kurang menjaga hubungan baik, lupa kalau manusia itu terhubung ke mana saja dengan siapa saja, lupa kalau tempat kerja atau profesi baru pasti ada kemungkinan akan berurusan dengan orang di tempat kerja atau profesi lama.
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Sebaran informasi dari mulut ke mulut tentang 'personal branding' seseorang jauh lebih powerful, lebih dipercaya, ketimbang CV dan image di media sosial. Hubungan baik dan kesan baik yang kita tinggalkan, adalah koentji!
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Banyak orang terjebak masalah profesi dan kerjaan, sehingga meluluhlantahkan hubungan baik dengan manusia lainnya. Semua terjadi karena kita tak mampu mengelola emosi, tak sanggup menahan diri, atau tak bisa menghadapi konflik dengan cara elegan.
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Saat mendebat kasar orang lain, merespon tak positif, bisa saja kita merasa puas karena merasa emosi tersalurkan. Atau, merasa menang dan puas melihat orang lain kalah. Tapi apa ujungnya? Luka bathin orang lain akan memebekas, dan itu akan menjadi hambatan perkembangan kita!
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Apalagi kesan negatif yang ditinggalkan ke orang lain di tempat kerja atau profesi lama sampai dibawa ke media sosial. Ujung-ujungnya ketahuan, atau dilaporin sehingga ketahuan. Yang rugi ya kita sendiri yang mengumpat atau tak bisa mengelola emosi dengan bijak.
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Orang lain yang tadinya tidak berurusan pun jadi ikutan geram oleh status umpatan yang gak banget itu. "Amit-amit deh kerjasama dengan orang ngomong ngawur begitu, nanti kita pula yang dibombardir dengan umpatan" Makin rugi!
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Naasnya lagi, ketika niat move on gagal di tengah jalan, mau balik ke tempat kerja atau profesi lama jadinya gak diterima. Paling-paling ditanggepin: "mendingan kerja sama orang yang biasa tapi solid daripada sama orang pintar tapi tak mau diatur sama sekali."
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Lagian nih ya. Kebanyakan perusahaan atau instansi yang merekrut karyawan berpengalaman, akan mengorek informasi ke tempat lama. Semua proses seleksi umum terlewati, MCU lolos, eh kesangkut masalah tidak direkomendasikan orang di tempat lama. "Trouble maker itu!" Nah loh!
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Terkadang hubungannya dengan orang lama tidak melulu saat proses mau masuk, tapi ketika kita sudah bekerja. Tiba-tiba bos lama kamu ketemu dengan bos barumu--di suatu waktu dan tempat tak terduga--dan ngobrolin kamu. Bisa kebayang potensi hilangnya kesempatan promosi?
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Iya, paham. Mungkin bos lama atau rekan kerja lama busuk, tapi masalahnya dia berteman dengan bos barumu. Dunia kejam? Hahaha! Dunia ini menuntut daya juang dan kesabaran. Mari menyadari realita saja.
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Atau, karena pindah profesi lantas menganggap dunia dan manusianya akan putus sama sekali dengan orang-orang lama? Helaw?! Mimpi, kalau kamu berpikiran begitu. Kecuali kamu pindah ke planet lain. Selama di Bumi, kamu akan terhubung entah lewat apapun urusannya.
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Itulah kenapa di dunia ini dimunculkan quotes: "siapapun yang (merasa) menang dalam pertikaian, maka mereka harus sadar bahwa keduanya tetap saja kalah."
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Marah boleh. Menyalurkan emosi silakan. Tetapi usahakan tidak meninggalkan kesan negatif. Ingat-ingat saja: orang kau musuhi bisa saja suatu saat menyelamatkanmu, sama halnya dengan orang yang kau kagumi bisa menyakiti di waktu lainnya.
Zíα Ulhαq @zulhaq_
3. Menyepelekan tempat kerja atau profesi lama. Orang yang begitu biasanya melihat hidup ini sepotong-sepotong. Yang dilihat obyek kasat mata, demi kepuasan indera. Jadinya, lupa bahwa tempat kerja di mana pun atau profesi apapun merupakan saluran rezeki dari Tuhan.
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Jenis orang yang menyepelekan, contoh: Saat sudah jadi freelance lantas menertawai orang lain yang bekerja terikat waktu kerja. "Haish, apaan kerja jadi budak korporat begitu? Enakan gue, mau kerja kapan saja bebas. Mau tidur sampai siang, suka-suka gue."
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Kalau konteksnya becanda sama kawan sih oke saja. Tapi hati-hati juga, kalimat yang kita ucapkan lama-lama akan menjadi sebuah keyakinan. Di saat omongan begitu jadi keyakinan, kamu sudah masuk dalam perangkap kesombongan diri.
Load Remaining (10)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.