1
Jeng Goesti @gustidha
Pertamina mau di bawa ke mana sebenarnya. Setahun, 5 kali rombak direksi. Dua tahun, dua kali ganti dirut. Rombak acak kebijakan. Gimana mau ngalahin Petronas kalo kaya gini. Heu. #dirutpertaminadicopot
Jeng Goesti @gustidha
Beberapa direksi Pertamina, seperti Massa Manik dan Iskandar beberapa bulan terakhir udah pasang badan emang. Bodo amat, mereka blak2an bilang soal kerugian, soal plin plan-nya aturan premium. "Pemerintah maunya apa," kata Massa di DPR.
Jeng Goesti @gustidha
Statement Massa (ex Bos Pertamina) ini merujuk ke aturan KLHK sediakan Euro 4 dan aturan Presiden buat wajib pasok bbm premium. Kilang cuma ada 6, tua semua. Gak cukup pun. Jadi maunya produksi bensin yang mana?
Jeng Goesti @gustidha
Ada 3 alasan pencopotan Dirut Pertamina dan rombak direksi. 1. Holding Migas 2. BBM premium langka 3. Pembangunan kilang Tiga tiganya, buat saya, terasa ganjil dan terlalu maksa.
Jeng Goesti @gustidha
Alasan 1, Holding Migas. BUMN padahal udah berjanji sblmnya tidak ada perombakan direksi. Toh, Pertamina bakal jd induk dan hanya perlu sinkronisasi roadmap dgn PGN. Sebelumnya, BUMN juga udah bubarkan direktur gas Pertamina.
Jeng Goesti @gustidha
Februari 2018, BUMN putuskan bubarkan direktorat gas. Alasan demi holding migas di sini masih bisa diterima. Toh nanti PGN jd subholding gas, jd urusan gas di bawah PGN. Eh taunya merembet ke direktur utama juga. Beklah.
Jeng Goesti @gustidha
Alasan 2 BBM premium langka. Pertamina sesuai aturan cuma wajib pasok BBM premium di luar Jawa-Madura-Bali (Jamali) dgn kuota 7,4 juta KL. Dan ini dipenuhi. Kenapa Jamali gak wajib? Karena BBM premium bukan bensin subsidi Cuy. Heboh langka di mana? Di Jamali!
Jeng Goesti @gustidha
Kenapa BBM di Jamali langka? Gak langka sebenernya, tp Jamali ini lbh maju dibanding wilayah lainnya. Dikasih lah opsi Pertalite, bensin rada sehat harga bersaing. Eh harga minyak naik. Pertalite naik harga, premium ditahan. Akibatnya? Ada disparitas harga.
Jeng Goesti @gustidha
Tau sendiri dong kalo ada disparitas? Apalagi Pertalite dah naik 2x dalam 3 bulan. Yang tadinya pake Pertalite berbondong2 lah pindah ke Premium lagi (yang masih murah). Di sinilah supply n demand ndak sinkron. Muncul isu kelangkaan.
Jeng Goesti @gustidha
FYI, premium mang bukan bensin subsidi. Tapi harganya ga boleh naek ama pemerintah. Harga riilnya bisa nambah Rp 2000an dr harga skrg. Lah, kalo ga naek harga kurangnya siapa yg nombok? Ya Pertamina. Makanya Pertamina bilang rugi Rp 3,9 T jual premium di 2 bln awal taon ini.
Jeng Goesti @gustidha
Balik lagi. Jd yang ribut langka itu Jamali, yang bensinnya dinikmati 70% oleh orang yang punya kendaraan (krg layak subsidi). Akhirnya pemerentah bilang, Ya udah Jamali juga wajib ada lagi bensin premium. Nah, di sini Pertamina kayang.
Jeng Goesti @gustidha
Alasan ke 3 adalah percepatan pembangunan kilang. Sumpey lo, rencana bangun Kilang itu udah ada dari zaman SBY jadi Menteri Pertambangan. Hampir Mustahal kebangun. Kilang itu kuncinya di istana. Bukan di BUMN-nya.
Jeng Goesti @gustidha
Indonesia produksi minyak di bawah 800rb barel per hari. Konsumsinya di rata-rata 1,4 juta barel per hari. Lihat selisihnya, itu kita impor. Kita itu PASAR BESAR BANGET BUAT TRADER MINYAK. kalo sampe bangun kilang, negara tetangga ga bakal suka. Ini politik dagang.
Jeng Goesti @gustidha
Dengan tekanan besar kaya gini. Ya tidaklah mungkin bebankan pembangunan kilang hanya ke Pertamina. Harus didukung kementerian teknis, keuangan, dan tekad bulad pimpinan negara. Baru kebangun tuh kilang.
Jeng Goesti @gustidha
Jadi mo Dirut berapa kali diganti, 3 masalah tadi ga bakal kelar. Kalo; kebijakan BBM dari pusat masih maju mundur, dan agenda reformasi energi terhalang agenda politik. Cukup sekian dan terima kasih.

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.