0
Dunia Militer @DuniaMiliter
Pasukan Dumil, kali ini akan sedikit kami kisahkan tentang siasat perang gerilya Panglima Besar Jenderal Sudirman saat agresi belanda 1948.
Dunia Militer @DuniaMiliter
Kala menghadapi serangan militer Belanda tahun 1948, Jenderal Sudirman mengeluarkan Perintah Siasat. Apa maksudnya?
Dunia Militer @DuniaMiliter
Kala Belanda menghantam Yogyakarta dengan Operasi Militer-nya, Jenderal Sudirman menggunakan taktik gerilya untuk mengecoh mereka.
Dunia Militer @DuniaMiliter
Pada bulan Desember 1948, militer Belanda masih bercokol di Indonesia khususnya di Pulau Jawa,
Dunia Militer @DuniaMiliter
Militer Belanda kala itu melancarkan agresi militer kedua bersandi "Operation Kraai".
Dunia Militer @DuniaMiliter
Serbuan militer Belanda tersebut dirancang oleh Kepala Staf Angkatan Darat Belanda yang berkuasa di Indonesia, Jenderal Simon Spoor.
Dunia Militer @DuniaMiliter
Jenderal Simon Hendrik Spoor (1902-25 Mei 1949). pic.twitter.com/caJCIF3frt
Expand pic
Dunia Militer @DuniaMiliter
Operasi militer Belanda itu langsung menggegerkan rakyat Indonesia yang baru tiga tahun memproklamirkan kemerdekaan.
Dunia Militer @DuniaMiliter
Operasi serbuan udara dilanjutkan serbuan darat oleh pasukan Belanda itu segera diketahui oleh Panglima Besar Sudirman (Pak Dirman).
Dunia Militer @DuniaMiliter
Pak Dirman sedang berada di markasnya, Jalan Bintaran, Yogyakarta, sebelah selatan Keraton Yogyakarta.
Dunia Militer @DuniaMiliter
Pada saat itu Pak Dirman sedang dalam kondisi sakit setelah menjalani operasi paru-parunya akibat terserang penyakit TBC.
Dunia Militer @DuniaMiliter
Atas serangan Belanda itu, Pak Dirman mengeluarkan Perintah Siasat agar semua pasukan BKR tetap melakukan perlawanan melalui perang gerilya.
Dunia Militer @DuniaMiliter
Panglima Besar Sudirman juga sempat menghubungi Presiden, Wapres, dan para stafnya untuk segera meninggalkan Yogyakarta,
Dunia Militer @DuniaMiliter
Tapi semua himbauan Pak Dirman itu ternyata ditolak.
Dunia Militer @DuniaMiliter
Presiden Sukarno dan para staf seperti sejumlah menteri memilih bertahan di kota dan akhirnya ditawan oleh militer Belanda,
Dunia Militer @DuniaMiliter
Mereka selanjutnya diasingkan di Sumatra serta Bangka.
Dunia Militer @DuniaMiliter
Ada salah seorang anggota staf penting di lingkungan Sekretariat Markas Panglima Besar yang juga pengawal pribadi Pak Dirman,
Dunia Militer @DuniaMiliter
Yaitu Kapten Tjokropranolo, yang lebih akrab dipanggil Pak Nolly, segera mengontak Penasehat Politik Panglima Besar, Harsono Tjokroaminoto,
Dunia Militer @DuniaMiliter
Harsono Tjokroaminoto, yang merupakan mantan Menteri Muda Pertahanan semasa Kabinet Sjahrir III (1946-1947) diperintahkan segera menghadap.
Dunia Militer @DuniaMiliter
Kebetulan Harsono waktu itu juga sedang terserang penyakit desentri dan selama seminggu hanya bisa terkapar di tempat tidur.
Dunia Militer @DuniaMiliter
Istri Harsono yang menerima telepon dari Nolly kemudian menjawab bahwa suaminya masih sakit dan belum bisa bangkit dari tempat tidur.
Dunia Militer @DuniaMiliter
Tapi karena kondisi sedang genting Nolly tetap mengharuskan Harsono untuk hadir di markas,
Dunia Militer @DuniaMiliter
dan Harsono akan dijemput oleh sopir menggunakan mobil Panglima Besar Sudirman.
Dunia Militer @DuniaMiliter
Selama perjalanan menuju Bintaran, bom-bom yang dijatuhkan dari pesawat tempur Belanda
Load Remaining (23)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.