Apakah Ijab Qabul harus satu nafas?

Tidak ada keterangan ijab qabul harus satu nafas, melainkan harus satu majlis.
0
Temporary Hiatus @OkeOnta

Adakah Ijab Qabul harus Satu Nafas dalam Islam? pic.twitter.com/eECUpcuNz1

17/04/2018 13:31:12 WIB
Expand pic
Temporary Hiatus @OkeOnta

1. Pertama, ulama sepakat bahwa ijab qabul harus dilakukan dalam satu majlis (ijab dan qabul dilakukan dalam konteks keadaan yang sama) Misalnya, di rumah, sang wali mengatakan kepada suami:

17/04/2018 13:31:12 WIB
Temporary Hiatus @OkeOnta

’Saya nikahkan anda dengan putriku …’ kemudian mereka berpisah. Lalu ketika ketemu di masjid, si Suami menjawab: ’Saya terima nikah putri bapak…’. Akad nikah semacam ini tidak sah.

17/04/2018 13:31:12 WIB
Temporary Hiatus @OkeOnta

”Para ulama 4 madzhab sepakat ijab qabul harus dilakukan dalam satu majlis akad. Sehingga andaikan wali mengatakan tersebut, kemudian di majlis yang lain atau di tempat lain, dia baru menyatakan menerima, ijab qabul ini tidak sah.” (al-Fiqh ala al-Madzahib al-Arba’ah, 4/16).

17/04/2018 13:31:13 WIB
Temporary Hiatus @OkeOnta

2. Kedua, ulama berbeda pendapat, apakah jawaban qabul harus segera disampaikan tanpa ada jeda, ataukah boleh ada jeda beberapa saat, selama masih dalam satu majlis. Dalam kitab Fikih 4 madzhab dinyatakan;

17/04/2018 13:31:13 WIB
Temporary Hiatus @OkeOnta

”Mereka berbeda pendapat tentang hukum al-faur (bersegera dalam menyampaikan qabul) – artinya menyampaikan qabul tepat setelah ijab, tanpa ada jeda.” (al-Fiqh ala al-Madzahib al-Arba’ah, 4/16).

17/04/2018 13:31:14 WIB
Temporary Hiatus @OkeOnta

3. Ulama Hambali dan Hanafi tidak mempersyaratkan harus segera, selama ijab qabul masih dianggap terjadi dalam satu majlis. Sehingga ketika ada salah satu yang tidak konsentrasi ijab qabul dan melakukan aktivitas lain yang mengubah konteks pembicaraan, akad nikah tidak sah.

17/04/2018 13:31:14 WIB
Temporary Hiatus @OkeOnta

”Hambali dan Hanafi berpendapat bahwa ’segera’ bukan syarat, selama masih dalam satu majlis. Namun jika salah satu sibuk melakukan aktivitas lain, yang memutus konteks pembicaraan, akad nikah tidak sah.” (al-Fiqh ala al-Madzahib al-Arba’ah, 4/16).

17/04/2018 13:31:14 WIB
Temporary Hiatus @OkeOnta

“Apabila kalimat qabul tidak langsung disampaikan setelah ijab, akad tetap sah. Selama masih dalam satu majlis, dan mereka tidak menyibukkan diri sehingga tidak lagi membicarakan akad. Karena hukum satu majlis adalah hukum yang sesuai konteks akad.” (al-Mughni, 7/81).

17/04/2018 13:31:15 WIB
Temporary Hiatus @OkeOnta

Abu Thalib menukil dari Imam Ahmad, bahwa beliau ditanya, Ada seseorang (si A) yang didatangi sekelompok rekannya. Gerombolan ini mengatakan, ‘Nikahkan si B (dengan putrimu).’ Kemudian si A mengatajan, ‘Aku nikahkan si B dengan putriku, dengan mahar 1000 dirham’.....

17/04/2018 13:31:15 WIB
Temporary Hiatus @OkeOnta

Kemudian gerombolan inipun segera menyampaikan kepada si B bahwa si A telah menikahkannya dengan putrinya. Lalu si B menjawab, ’Saya terima nikahnya.’ ”Apakah akad nikah semacam ini sah?” jawab Imam Ahmad, ”Ya, sah.” (al-Mughni, 7/81).

17/04/2018 13:31:16 WIB
Temporary Hiatus @OkeOnta

4. Sementara ulama Syafiiyah dan Malikiyah berpendapat, harus segera (’ala al-Faur) dan tidak boleh ada pemisah, selain jeda ringan yang tidak sampai dianggap pemisah antara ijab dan qabul.

17/04/2018 13:31:16 WIB
Temporary Hiatus @OkeOnta

”Syafiiyah dan Malikiyah mempersyaratkan harus segera. Namun tidak masalah jika ada pemisah ringan, yang tidak sampai dianggap telah memutus sikap ’segera’ dalam menyampaikan qabul.” (al-Fiqh ala al-Madzahib al-Arba’ah, 4/16).

17/04/2018 13:31:16 WIB
Temporary Hiatus @OkeOnta

Karena itu, sebagian ulama syafiiyah melarang ketika antara ijab dan qabul diselingi ucapan apapun yang tidak ada hubungannya dengan akad nikah. ”Jika antara ijab dan qabul dipisahkan dengan membaca hamdalah dan shalawat, misalnya, seorang wali mengatakan, ’Saya nikahkan kamu’...

17/04/2018 13:31:17 WIB
Temporary Hiatus @OkeOnta

Kemudian suami mengucapkan, ‘Bismillah wal hamdu lillah, was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, Saya terima nikahnya.’ Dalam kasus ini ada dua pendapat ulama, (pertama) Nikah sah. Dan ini pendapat Syaikh Abu Hamid al-Isfirayini. Karena bacaan hamdalah dan shalawat.....

17/04/2018 13:31:17 WIB
Temporary Hiatus @OkeOnta

disyariatkan ketika akad, sehingga tidak menghalangi keabsahannya. Sebagaimana orang yang melakukan tayamum di sela-sela antara dua shalat yang dijamak. (kedua) tidak sah. Karena dia memisahkan antara ijab dan qabul, sehingga akad nikah tidak sah” (Fikih Sunah, Sayid Sabiq, 2/35)

17/04/2018 13:31:17 WIB
Temporary Hiatus @OkeOnta

5. Untuk itu, sejatinya tidak ada keterangan ijab qabul harus satu nafas. Yang ada adalah harus satu majlis dan harus bersambung, menurut pendapat Syafiiyah dan Malikiyah. Meskipun boleh ada pemisah ringan, dan boleh tidak bersambung, menurut ulama Hambali dan Hanafi.

17/04/2018 13:31:18 WIB

Comment

No comments yet. Write yours!