0
Lusi @LusiHQ
Semua cerita ini berawal dari sini: 1. Once upon a time... Ada seorang presiden yg terus ingin dekat dengan rakyatnya dgn berbagai cara yang salah satunya adalah dengan membagikan sertifikat tanah yg memang hak rakyat yg memiliki tanah.... Presiden dekat dgn rakyat. pic.twitter.com/xLfjUingu1
 Expand pic
Lusi @LusiHQ
2. Rupaya... Ada Sengkuni yg tidak suka melihat Pemimpin yg terus "lengket" dengan rakyat, bersendau gurau dlm lomba menyebutkan nama ikan, menghafal Pancasila sambil bagi2 sertifikat tanah, dan Sengkuni buka mulut... Bisapun keluar pic.twitter.com/9VaIDtZ1zW
 Expand pic
Lusi @LusiHQ
3. Tentu saja tuduhan dari Sengkuni membuat pendukung pemimpin tidak suka. Masa iya langkah yang baik dikatakan pengibulan? Di mana letak pengibulannya? Maka, banyak yg bersuara utk mengcounter, termasuk si Werkudoro. pic.twitter.com/d1alz4aKLs
 Expand pic
Lusi @LusiHQ
4. Rupanya counter dr Werkudoro dll membuat anak Sengkuni tidak terima dan tidak bisa menahan diri utk tidak membuat serangan balik. Akhirnya anak Sengkuni membuat pernyataan yg mengejutkan bahwa.... pic.twitter.com/oXO5QyYhFq
 Expand pic
Lusi @LusiHQ
5. Bank Dunia... Disebut oleh anak Sengkuni sebagai pihak yg mengeluarkan data bahwa 74% lahan atau tanah di Indonesia dikuasai segelintir orangpun angkat bicara. Dan inilah yg disampaikan Bank Dunia: pic.twitter.com/GIj6mBNF9c
 Expand pic
Lusi @LusiHQ
6. Lhadalah... Sengkuni: 74% tanah dikuasai segelintir orang. Public: Datanya mana? Anak Sengkuni: Datanya dikeluarkan oleh Bank Dunia. Bank Dunia: Kami tidak mengeluarkan data seperti itu. Pertanyaan saya kpd ilmuwan: Apakah dlm kasus ini ada kemungkinan bohong itu genetic?
Login and hide ads.