0
Metamorfosis @Ronggolawe2P
1. Proklamasi 17 Agustus 1945, adalah awal dari suatu babak revolusi bersenjata. Sebuah babak baru brutalisme. Kebrutalan tentara Sekutu yang hendak menjajah kembali. Aksi teror, pembunuhan, bahkan penganiayaan kejam terjadi hampir setiap hari.
Metamorfosis @Ronggolawe2P
2. Tentara NICA bisa dengan ngawur memuntahkan peluru ke warga sipil tak berdosa di tengah kota Jakarta. Kali lain, mereka menggedor, menyeret seisi rumah, dan mengeksekusinya tanpa ampun.
Metamorfosis @Ronggolawe2P
3. Presiden pertama Indonesia, Soekarno alias Bung karno ialah orang yang paling diincar. Tentara Sekutu pimpinan Inggris menyebar pasukan elite untuk menangkap hidup-hidup Soekarno.Ia harus diadili sebagai penjahat perang, dan kolaborator Jepang.
Metamorfosis @Ronggolawe2P
4. Sementara, tentara Belanda lebih sadis, “Bunuh Soekarno, di mana pun kelihatan! ” Alhasil, Soekarno pada akhir tahun 1945, masuk-keluar rumah sahabat, lewat jalan-jalan bersemak belukar, menjauh sejauh mungkin dari jalan raya, menghindar sejauh mungkin dari tangkapan mata NICA
Metamorfosis @Ronggolawe2P
5. Tak jarang, Bung Karno menyamar dengan berpakaian surjan Jawa, berblangkon pula. Kala lain, ia menyamar sebagai rakyat miskin yang berjalan dengan gaya terpincang-pincang.
Metamorfosis @Ronggolawe2P
6. Sekalipun begitu, sebelum fajar merekah, Bung Karno sudah harus berada di Pegangsaan Timur 56, kembali sebagai Presiden Republik Indonesia. Nanti, saat matahari terbenam, ia kembali menyamar dan menuju kediaman sahabat yang lain lagi untuk bersembunyi dari buruan NICA.
Metamorfosis @Ronggolawe2P
7. Dalam penuturannya kepada Cindy Adams di buku "Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia", pernah satu kali rumah persembunyiannya tercium NICA.Tak ayal, rumah itu pun diberondong tembakan membabi buta.
Metamorfosis @Ronggolawe2P
8. Soekarno yang kebetulan tidur meringkuk dalam tikar di ubin yang lembab, lolos. Si tuan rumah, segera melarikan Bung Karno dari pintu samping, menghilang di kegelapan.
Metamorfosis @Ronggolawe2P
9. Paginya, ia sudah berada di Pegangsaan Timur, memimpin sidang-sidang kabinet serta rapat-rapat darurat. Mengatur jalannya Republik. Begitulah yang dilakukan Soekarno berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, sebelum akhirnya “hijrah” ke Yogyakarta.

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.