Ratu Shima, Teladan Kejujuran dari Jawa Kuno

Setelah mengangkat seorang putri menjadi ratu, ketertiban dan kebijakan kerajaan benar-benar dijalankan dengan keras.
1

Koran Sulindo – Setelah mengangkat seorang putri menjadi ratu, ketertiban dan kebijakan kerajaan benar-benar dijalankan dengan keras.

Termasuk jika sebuah barang tertinggal di jalanan, ia akan tetap di sana tanpa pernah ada orang yang berniat mengambilnya.

Hingga ketika kisah itu mampir ke telinga seorang raja, ia penasaran dan ingin mengujinya. Sepundi emas sengaja dibuangnya di jalananan.

Hari demi hari berlalu, pundi penuh berisi emas itu tetap tergeletak di jalanan. Jangankan berpindah tempat, bahkan pundi itu bergeming dari posisinyapun tidak. Orang yang lalu lalang memilih menjauhi pundi itu.

Bukan karena emas tak bernilai, namun mereka terlalu jujur dan bebas dari watak melik barang yang bukan miliknya.

Hingga tahun ketiga lewat tanpa sengaja kaki sang putra mahkota mengusik pundi itu. Ratu yang dilapori sangat murka dan langsung memerintahkan kepala putra mahkota itu dipancung. Ia menganggap tindakan putranya itu tak ubahnya sebuah pencurian.

Iba dengan nasib sang pangeran beberapa menteri lantas mengajukan pembelaan. Selain memohon ampun, kepada Ratu mereka meminta hukuman mati itu dibatalkan.

“Karena perbuatan memalukan itu berasal dari kakinya, maka potonglah kakinya,” titah Sri Ratu pada para menteri yang membela putra mahkota.

Ketika, para menteri kembali datang untuk memohon ampunan Sri Ratu akhirnya melunak dan hukuman diperingan menjadi ‘hanya’ potong jari kaki. Dan vonis itu sudah final karena potong jari kaki dijalankan sebagai menjadi peringatan khalayak ramai.

Siapa ibu yang tega membuat anaknya menderita untuk menegakkan nilai-nilai kejujuran itu?

Berita Cina

Meski tak disebutkan dari mana sumber informasinya, catatan dalam Xin Tang Shu atau Kepustakaan Dinasti Tang Baru menyebut Sang Ratu yang tegas itu sebagai Xi Mo dari kerajaan He Ling atau Ho Ling. Dalam literature Nusantara, ia dikenal sebagai Ratu Shima penguasa tunggal dari Kerajaan Kalingga.

Jika kisah tentang kejujuran itu masih menjadi perdebatan, para ahli sepakat Kalingga merupakan kerajaan Hindu-Budha tertua di Jawa Tengah setelah Tarumanegara di Jawa Barat dan Kutai Kertanegara di Kalimantan Timur.

Meski hanya sedikit temuan arkeologis yang mengkomfirmasi cerita tentang Kalingga, namun kisahnya gampang ditemukan dalam sumber-sumber yang berasal dari kronik Cina dan manuskrip lokal serta tradisi lisan setempat. Berita dari Cina seperti yang tertulis dalam Xin Tang Shu umumnya merujuk era Dinasti Tang dan catatan-catatan perjalanan I-Tsing.

Xin Tang Shu juga mencatat hubungan Kalingga dengan Cina sudah berlangsung jauh sebelum penobatan Ratu Shima. Pada rentang tahun 627-650 utusan Kalingga berkali-kali sampai di Cina.

Bahkan dalam catatan itu disebut Kaisar Tai Zong memerintahkan agar para utusan itu diberi perlakuan yang tinggi. Hubungan itu bahkan terus berlanjut hingga abad-abad berikutnya termasuk perdagangan. Dari Kalingga, dijual kulit, penyu, emas, perak, cula badak, dan gading serta garam.

Sementara itu, dalam Jiu Tang Shu atau Kepustakaan Dinasti Tang Lama juga secara rinci menyebut ibu kota kerajaan yang dikelilingi banteng dengan tonggak kayu, rumahnya warga dan raja yang bersemayam di tengah dengan peraduan terbuat dari gading.

Disebut juga orang-orang Kalingga makan hanya menggunakan tangan tanpa sendok atau sumpit, memiliki aksara sendiri, paham ilmu falak dan biasa minum arak yang terbuat dari bunga pohon kelapa yang rata-rata setinggi tiga ela yang disadap niranya. Arak itu memiliki rasa yang manis dan bisa sangat memabukkan.

Jiu Tang Shu juga merujuk lokasi Kalingga di tengah Laut Selatan bersepadan dengan Po Li atau Bali di timur, Duo Po Deng di barat dan Zhen La atau Khmer di utara. Meski tak merujuk lokasi tepat ibu kota Kerajaan Kalingga, diperkirakan ibu kota terletak di suatu tempat antara Pekalongan hingga Jepara.

Sebuah tempat bernama Keling ditemukan di pantai utara Kabupaten Jepara sementara beberapa temuan arkeologi dekat Pekalongan dan Batang menunjukkan bahwa Pekalongan merupakan pelabuhan kuno. Beberapa ahli memperkirakan bahwa Pekalongan mungkin merupakan nama yang diubah dari Pe-Kaling-an.

Lokasi itu dibenarkan NJ Kroom yang menyebut bahwa letak Kerajaan Kalingga memang berlokasi di pesisir Jawa Tengah bagian utara.

Xin Tang Shu juga menuliskan tentang sebuah bukit Lang Pi Ya yang sering digunakan raja-raja di Kalingga untuk melihat laut. Disebut juga oleh penulis Xin Tang Shu apabila pada pertengahan musim panas orang mendirikan gnomon setinggi 8 kaki, bayangannya bakal jatuh di sebelah selatannya dengan panjang dua kaki empat inci.

Dengan panjang bayangan itu penulis Xin Tang Shu menghitung letak Kalingga berada di antara 6˚ 8’ Lintang Utara yang menegasikan keberadaan Kalingga di Jawa. Namun, ada dua kekeliruan mendasar yang dibuat dalam perhitungan itu. Pertama, penghitungan seharusnya dilakukan pada pertengahan musin dingin. Kedua, dengan perhitungan itu bayangan bakal jatuh di sebelah utara.

Jika koreksi ini bisa diterima, maka letak Kalingga ada di pada 6 ˚ 8’ Lintang Selatan, tepat di pantai utara Jawa. Lagipula, koreksi tersebut itu sesuai dengan penunjukan lokasi Lang Pi Ya yang terletak di Desa Krapyak dekat Gunung Lasem.

Pembenaran itu diperkuat catatan perjalanan pendeta Budha, I-Tsing. Dalam catatan itu ia menyebut pada tahun 664 M datang pendeta bernama Hwi-Ning di Kalingga bersama pembantunya Yun-Ki. Ia datang dan tinggal selama 3 tahun dan dibantu pendeta Kalingga bernama Jnanabhadra menerjemahkan Kitab Nirwana bagian akhir.

Kitab itu menceritakan pembakaran jenazah sang Budha dengan sisa tulang yang tak habis terbakar dan dikumpulkan menjadi relik suci.

Terjemahan itulah yang kemudian dibawa pulang I-Tsing ke Cina sekaligus menegaskan bahwa Budha yang dianut di Kalingga bukan dari Mahayana, namun Hinayana dari aliran Mulasaratiwasa.

Moyang Raja-raja

Ratu Shima semula adalah istri dari Kartikeyasinga yang menjadi Raja Kalingga sejak tahun 648 hingga 674. Mereka mempunyai dua orang anak, yaitu Parwati dan Narayana atau Iswara.

Ayah Kartikeyasinga adalah Raja Kalingga yang memerintah antara tahun 632 sampai dengan 648. Sementara ibunya berasal dari Kerajaan Melayu Sribuja yang beribukota di Palembang. Kerajaan inilah yang dikalahkan Sriwijaya pada tahun 683 M.

Menghadapi ancaman Sriwijaya yang bersekutu dengan Tarumanegara di Sunda, Kalingga menggandeng Kerajaan Galuh Purba dan menguatkannya menjodohkan anaknya Parwati dengan putra bungsu Raja Galuh Wretikandayun yang bernama Mandiminyak.

Perkawinan tersebut melahirkan anak perempuan bernama Sanaha pada tahun 661 M. Sanaha inilah yang kelak mempunyai anak bernama Sanjaya yang kelak menjadi raja pertama di Medang dan bergelar Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya.

Ketika Kartikeyasinga mangkat pada tahun 674, Ratu Shima dinobatkan menggantikan suaminya sebagai raja sampai dengan tahun 695 M sekaligus memakai gelar Sri Maharani Mahissasuramardini Satyaputikeswara.

Selama masa pemerintahannya itu, Ratu Shima mengangkat Mandiminyak sebagai pembantunya, sementara tata kelola di kutaraja didelegasikan kepada 4 orang menteri yang mengatur negara dan 28 negara taklukan yang tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Ketika Ratu Shima dinobatkan, di bawah Sri Jayanasa Sriwijaya kala itu tengah gencar-gencarnya melakukan ekspansi. Selain menduduki Melayu Sribuja, Jayanasa juga mengincar Kalingga. Jayanasa sempat meminang Ratu Shima namun ditolak yang memicu rencana penyerangan Sriwijaya ke Kalingga pada tahun 686 M.

Rencana itu hanya urung setelah campur tangan Raja Tarumanegara Sri Maharaja Tarusbawa. Ia menyebut jangan timbul kesan gara-gara pinangannya ditolak Sriwijaya harus berperang dengan Kalingga. Jayanasa terpaksa mendengar keberatan Tarusbawa yang notabene adalah saudaranya.

Baca juga: Yavadwipa, Sejak Ramayana Hingga Kronik China

Sebelum Ratu Shima mangkat Kerajaan Kalingga dibagi dua yakni di wilayah utara yang disebut sebagai Bumi Mataram diserahkan kepada Parwati dan Mandiminyak suaminya.

Sementara wilayah selatan yang disebut Bumi Sambara diserahkan kepada Narayana yang kemudian bergelar Iswarakesawa Lingga Jagatnata Buwanatala.

Sementara itu, karena kedua kakaknya Rahiyang Sempakwaja dan Rahiyang Kidul menjadi resi, Mandiminyak tampil sebagai Raja Galuh menggantikan ayahnya.

Selain beristri Parwati, Mandiminyak juga mempunyai anak dari Nay Pwahaci Rababu yang diberi nama Sena. Sena menjadi raja di Galuh namun Sena terusir dan melarikan diri ke sekitar lereng Gunung Merapi ketika anak-anak Sempakwaja merebut kekuasaan.

Nama Sena inilah yang disebut oleh Sanjaya dalam Prasasti Canggal sebagai pendahulunya. Sementara itu dari Prasasti Tuk Mas yang ditulis dengan huruf Pallawa dan dalam bahasa Sanskerta diperkirakan berasal dari masa abad ke-6 hingga abad ke-7 atau era Kerajaan Kalingga.

Meski sebagian aksara pada prasasti tersebut banyak yang rusak, namun pada beberapa bagian masih bisa dibaca menyebutkan adanya sebuah sungai yang mengalir bagaikan Sungai Gangga di India. ada prasasti ini terdapat pula lukisan alat-alat, seperti trisula, kendi, kapak, sangkha, cakra, dan bunga tunjung.(TGU)

Comment

No comments yet. Write yours!