1
Temporary Hiatus @OkeOnta
Tertidur saat Khutbah Jumat, Bolehkah Langsung Shalat tanpa Wudhu Lagi? by @nu_online #JumatBerkah pic.twitter.com/f4ddPcOEev
Expand pic
Temporary Hiatus @OkeOnta
1. Rasa kantuk bisa datang kapan saja, tidak mengenal waktu. Terlebih saat kondisi capek di siang hari, termasuk saat pelaksanaan shalat Jumat atau di tengah-tengah mendengarkan khutbah Jumat. Batalkah wudlunya jamaah yang tertidur tersebut dan sahkah shalat Jumatnya?
Temporary Hiatus @OkeOnta
2. Dalam fiqih mazhab Syafi’i, tidur yang tidak sampai membatalkan wudlu’ adalah tidur dengan posisi duduk disertai merekatkan pantat di lantai atau alas duduknya.
Temporary Hiatus @OkeOnta
3. Sehingga bila tidur tidak dilakukan dalam posisi tersebut, semisal duduk tengkurap, berdiri, tidur telentang, tidur miring atau posisi lainnya, maka dapat menyebabkan batalnya wudlu’.
Temporary Hiatus @OkeOnta
4. “Yang kedua (dari hal yang membatalkan wudlu’) adalah tidur selain tidurnya orang yang duduk merekatkan pantatnya. Dalam sebagian naskah terdapat tambahan redaksi dari lantai yang menjadi alas duduknya. Lantai dalam konteks ini tidak menjadi acuan.....
Temporary Hiatus @OkeOnta
Mengecualikan dari ketentuan merekatkan pantat yaitu tidur dalam posisi duduk namun tidak merekatkan pantat atau tidur berdiri atau menyandarkan tengkuk meskipun disertai merekatkan pantat”. (Syekh Ibnu Qasim al-Ghuzzi, Fathul Qarib al-Mujib, hal.6, Semarang-Toha Putera).
Temporary Hiatus @OkeOnta
5. Setidaknya kesimpulan ini berlandaskan dua dalil hadits Nabi. Yang pertama hadits riwayat Abu Dawud sebagai berikut: “Dua mata adalah penjaga lubang dubur, maka barangsiapa tidur berwudlulah.” (HR. Abu Dawud)
Temporary Hiatus @OkeOnta
6. Syekh al-Khatib al-Syarbini menjelaskan: “Makna hadits tersebut adalah bahwa kondisi terjaga (dari tidur) dapat menjaga perkara yang keluar dari pantat. Orang yang tidur terkadang keluar dari dirinya sesuatu yang membatalkan wudlu’ saat ia tidak sadarkan diri.....
Temporary Hiatus @OkeOnta
Selain tidur dari kondisi yang telah disebutkan (ayan, gila dsb) lebih parah dari tidur dalam hal kacaunya pikiran yang merupakan potensi untuk keluarnya sesuatu dari dubur sebagaimana dijelaskan oleh hadits.” (Syekh Khatib al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, Beirut, Dar al-Fikr)
Temporary Hiatus @OkeOnta
7. Hadits yang kedua adalah riwayat Imam Muslim sebagai berikut: “Sahabat Anas berkata, para sahabat Nabi tertidur kemudian melaksanakan shalat dan mereka tidak berwudlu’. (HR.Muslim).
Temporary Hiatus @OkeOnta
8. Hadits riwayat Imam Muslim ini diarahkan pada kondisi tidur seseorang yang duduk merekatkan pantatnya di alas tidurnya, sebagai salah satu pengamalan kaidah ushul fiqih yaitu “mengompromikan di antara dua dalil” saat ada dua dalil yang terkesan bertentangan.
Temporary Hiatus @OkeOnta
9. Syekh Khatib al-Syarbini mengatakan: “Hadits sahabat Anas ini diarahkan kepada kondisi tidurnya seseorang yang merekatkan pantatnya di lantai, untuk mengompromikan dua hadits.” (Syekh Khatib al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, Beirut, Dar al-Fikr, 1987, juz 1, halaman 34)
Temporary Hiatus @OkeOnta
10. Dari penjelasan di atas dapat dipahami bila seseorang tidur dalam posisi yang membatalkan, akan berakibat pada ketidakabsahannya shalat Jumat yang ia kerjakan. Sebab salah satu syarat sahnya shalat adalah suci dari hadats. Demikian wassalamualaikum wr wb.

Comment

Vitangel Janinna @Vita_ngel 17/03/2018 08:07:22 WIB
Selamat Kepada Member kami yg Memenangkan iPhone X dan Galaxy Note 8 Hanya dengan cara bermain game saja sudah bisa bawa pulang hadiah nya http://www.anapoker.com/ref.php?ref=ANAPOKER1 BBM : D8B84EE1 WhatsApp : 0877-8922-1725
Login and hide ads.