Add to Favorite
0
Login and hide ads.
claradevi handriatmadja @claradevi 11/03/2018 19:32:29 WIB
Minggu saya diawali dengan perasaan gelisah tanpa alasan jelas. Cek tanggalan, ternyata udah masuk masa PMS —seperti biasa, hormon mulai suka banyak gaya 😂 Nah kebetulan semalem habis kondangan dan rambut-setelah-hairdo saya otomatis masih berantakan. Buka IG, ada post ini:
claradevi handriatmadja @claradevi 11/03/2018 19:32:51 WIB
Foto dgn caption yg jujur dan inspiratif, dari mbak @riapapermoon. Mengenai rambut keritingnya dan dilema masa muda, kala diterpa oleh industri yg berlomba mendefinisikan cantik itu apa —bukan menurut hati kita, tapi menurut apa kata media. (Post saya share dgn seijin beliau.) pic.twitter.com/nguCoqG7G4
 Expand pic
 Expand pic
 Expand pic
claradevi handriatmadja @claradevi 11/03/2018 19:32:52 WIB
Sbg perempuan yg terlahir dengan rambut lurus, mungkin masa kecil saya “terselamatkan” dari kesedihan dan cobaan yg diberikan oleh lingkungan sekeliling. Rambut lurus lumayan dianggap “normal”. Nggak pernah dipermasalahkan. Tapi dalam hati, saya pengen bgt punya rambut keriting!
claradevi handriatmadja @claradevi 11/03/2018 19:32:54 WIB
Entah kenapa buat saya rambut bergelombang dan keriting itu “berkarakter”. Mungkin karena keluarga dan sekeliling saya banyakan rambutnya lurus, ya. Jadi kagum kalo ada temen rambutnya kriwil, pengen punya rambut gitu juga. Rambut lurus saya jadi terkesan membosankan.
claradevi handriatmadja @claradevi 11/03/2018 19:32:57 WIB
Jaman SMA dulu lagi hangat-hangatnya style “rebonding” dan “smoothing” di salon. Nggak lama, ada tren rambut keriting gantung ala Agnes Monica di film Amanda 😂 Dua-duanya pernah cobain. Ya seneng sesaat aja, trus bosen juga ujungnya; namanya juga cuma ngikutin tren.
claradevi handriatmadja @claradevi 11/03/2018 19:32:58 WIB
Tapi baca tulisan mbak Ria tadi, rasanya jadi nostalgia. Betapa di dunia ini para perempuan tanpa sadar dibuat seakan berlomba untuk mencari definisi cantik baginya, melalui banyak hal: ya bentuk badan, bentuk rambut, warna kulit, bentuk wajah... tanpa ada akhirnya.
claradevi handriatmadja @claradevi 11/03/2018 19:33:00 WIB
Mau rambut keriting atau lurus, masing-masing orang sbnrnya punya sisi sedih dan gembira mengenainya. Tapi sering perempuan ditampilkan dalam bentuk bersaing, seolah untuk merasa lebih baik kita harus mengalahkan/menjatuhkan orang lain ke posisi “kurang baik” dibanding kita.
claradevi handriatmadja @claradevi 11/03/2018 19:33:01 WIB
Ditambah dengan standar kecantikan yang dalam otak kita terlihat seperti hierarkis. Ada paling cantik, ada kurang cantik. Kadang juga kecantikan bagi kita malah berbentuk oposisi biner yang kaku: yang ini cantik, yang ini jelek. Kenapa harus saling bertolak?
claradevi handriatmadja @claradevi 11/03/2018 19:33:02 WIB
Bukan ranah saya bicara tentang mengubah sistem dimana kecantikan adalah komoditas yang bisa dinilai oleh angka. “The world 10 most beautiful women”, misalnya —bacanya sih seolah enteng aja, tapi suka nggak sadar bahwa penomoran itu masuk ke kepala kita tanpa sadar. Terbawa.
claradevi handriatmadja @claradevi 11/03/2018 19:33:03 WIB
Dalam mimpi dan sore-sore yang diam itu, kita membuat sendiri rapor kecantikan dalam hati. Terkadang kita kejam pada nilai untuk diri sendiri, terkadang kita tergoda untuk kejam pada memberi penilaian ke orang (perempuan) lain. Seakan angka akan pernah bisa memuaskan diri.
claradevi handriatmadja @claradevi 11/03/2018 19:33:04 WIB
Beberapa teman perempuan dengan fisik mendekati sempurna (bagi saya) justru memiliki tendensi untuk lebih tidak percaya diri, dibandingkan dengan teman yang selama ini tidak terlalu diposisikan dengan predikat “tercantik” atau “paling cakep”. Kurang bersyukur? Belum tentu.
claradevi handriatmadja @claradevi 11/03/2018 19:33:04 WIB
Saat berdiskusi dengan teman, kami sadar, bahwa semakin sering predikat tertentu diberikan pada seseorang, semakin besar pula ekspektasi publik terhadap dirinya. Pernah nggak, punya temen SD yg dulu kembang sekolah, trus sekarang pas ketemu dibilangin “eh kok dia biasa aja ya”.
claradevi handriatmadja @claradevi 11/03/2018 19:33:05 WIB
Atau punya nggak, temen masa kecil yang pada masanya dinilai paling cantik, kemudian sekian tahun berlalu dan pas reunian dia dapat komentar dari kebanyakan teman lain semacam: “nggak secantik dulu”, “badannya gendut sekarang”, “kenapa dia nggak tambah cantik ya sekarang”...?
claradevi handriatmadja @claradevi 11/03/2018 19:33:06 WIB
Sedangkan teman lain yang dulunya mungkin cenderung “biasa aja” karena tidak terlalu menonjol, tiba-tiba pas kuliah atau udah kerja jadi manglingin banget? Sampai biasanya dikomentarin, “yaampun si A cantik banget sekarang”, “wah gila sih nggak ngenalin, cakep banget”?
claradevi handriatmadja @claradevi 11/03/2018 19:33:07 WIB
Padahal mungkin yang dulunya dibilang cantik itu tetep cantik, tapi dalam otak teman lain “seharusnya” dia nambah dong, cantiknya. (Luar biasa ya kita manusia, bisa mengharuskan org lain 😂) Dan yg sesungguhnya membunuh kecantikan itu toh ekspektasi kita sendiri terhadapnya.
claradevi handriatmadja @claradevi 11/03/2018 19:33:07 WIB
Kembali pada sepenggal kisah rambut keriting. Mbak ria bilang: penyeragaman oleh sistem masyarakat kita kadang tak mengijinkan kita untuk tumbuh berbeda, bahkan untuk mencintai tubuh yang kita miliki sejak lahir sekalipun. Tapi adalah awal yg baik, untuk menyadarinya sekarang.
claradevi handriatmadja @claradevi 11/03/2018 19:33:08 WIB
Yangti saya, seorang wanita Jawa yg sangat nrimo & sederhana, pernah bilang begini pada cucunya yang sering nggak pede sama jerawat dan ini itu: “Lha wong ayu ki ra ana sing kudu.” (Lha, emang perkara jadi cantik itu nggak ada yang “harus” kok.” Nggak ada yg harus. Nikmati aja.
claradevi handriatmadja @claradevi 11/03/2018 19:33:09 WIB
Nikmati aja suka dukanya, nikmati pas jerawatan, nikmati pas merasa cantik, nikmati ketika tidak... Karena sekalinya kita merasa terjebak dgn perasaan “harus”, disitulah masalah sebenarnya muncul. “Jelek kamu!” Lha yg bilang harus nggak jelek siapa... Gitu kalo yangti saya 😂
claradevi handriatmadja @claradevi 11/03/2018 19:33:11 WIB
Mungkin saya belum bisa merasa selalu “cukup” dengan diri saya seperti yangti. Mungkin juga masih butuh bertahun-tahun bagi saya untuk bisa berdamai dengan definisi cantik apapun itu. Tapi di hari ini, dua cerita dari wanita yang saya kagumi tadi, menjadi penguat di hati.
claradevi handriatmadja @claradevi 11/03/2018 19:33:13 WIB
“Cantik itu tidak ada yang harus.” ♥️
Alexander Thian @aMrazing 11/03/2018 19:38:25 WIB
@claradevi @riapapermoon This is so genuine and beautiful. Thank you for sharing. 💓
claradevi handriatmadja @claradevi 11/03/2018 19:39:47 WIB
@aMrazing @riapapermoon Thank you, Lexy! Hatiku juga hangat tadi bacanya. Lalu keingetan nasehat yangti kok serupa dgn mbak Ria. Aku sayang sekali sama mereka 🤗♥️
Alexander Thian @aMrazing 12/03/2018 00:04:14 WIB
@claradevi @riapapermoon Aku belum upload di ig karena ini salah satu foto favoritku. But look, look! Keren parah rambutnya! pic.twitter.com/oBCwBU5EYF
 Expand pic
Story Gigi 😀 @tesapratiwiS 11/03/2018 19:49:33 WIB
@claradevi @aMrazing @riapapermoon Wahhh 😭 this is so mee 😢 terima kasih kaa sharingnya. 10000% Sangat sangat sependapat ka🙋🙋
Pradana Allent @Allent_Pradana 11/03/2018 19:45:12 WIB
@claradevi @aMrazing @riapapermoon Aq yg cowo pun ngalami masa2 ini. Minder. sempat ngilang ga pernah mau dtg reunian sekolah. Akhirnya dateng ke salahbsatu reuni, dan ada yg nyletuk “eh dia kok gantengan skrg”
Load Remaining (12)

Bookmarked tags

No tags
Login and hide ads.