0
kumparan @kumparan
Benarkah di Zaman Soeharto Bebas Bercadar seperti Kata Fahri Hamzah? bit.ly/2D3cj6p
Iman Brotoseno @imanbr
Buku ‘ Neraka Rezim Suharto ‘ dikisahkan tahanan perempuan berjilbab dari kasus Tanjung Priok, diguntingin jilbabnya sama tentara di tahanan sambil disiksa twitter.com/kumparan/statu…
Iman Brotoseno @imanbr
Ada kisah tentara menggunting jilbab tahanan wanita dlm kasus Tanjung Priok. Ia teriak “ Allahu Akbar “ saat disiksa twitter.com/UstadTengku/st… pic.twitter.com/lsX31XA3tJ
Expand pic
Bobby Batara @sossisagaya
@imanbr bokap gue cerita kalau dia pernah ke Kremlin. hah? ternyata yg dimaksud jalan Kramat V, rupanya ikut baca buku ini...
Hendra Adiguna @jubelekete
@imanbr Jangankan cadar, Soeharto bahkan 'alergi' dengan simbol-simbol Islam seperti jilbab :)
Lebih Hansip dari Hansip @tweet_erland
Zaman Soeharto, anak sekolah dilarang pake jilbab. Beberapa temen aing nangis di SMA karena dipaksa kudu lepas jilbab. Anak-anak 90-an pasti tau. Fahri sekolah di negara mana? twitter.com/kumparan/statu…
Yudha SatryaWardhana @yudhasatriaw
Yakin lebih enak jamannya? Soeharto membiarkan para pejabatnya melarang jilbab. Dirjen Pendidikan dan Menengah... fb.me/7KIMummcR

Dikutip dalam blog Imam Brotoseno

Dalam buku “Neraka Rezim Soeharto “ dikisahkan tempat penahanan dan kisah penyiksaan terhadap yang menentang rezim orde baru. Sebuah misteri tempat penyiksaan yang tak pernah dipublikasikan. Buku ini dikisahkan oleh mereka yang selamat dan bisa keluar hidup hidup dari ‘ neraka ‘ itu.

Ada beberapa tempat yang sering dipakai sebagai ladang pembantaian terhadap tahanan seperti rumah di Jl Gunung Sahari yang disebut rumah tahanan Kalong dan bekas kantor Kodim Jakarta Timur. Kedua tempat itu umumnya untuk tahanan PKI, disamping Rumah Tahanan Militer Jl. Budi Utomo. Kemudian kantor polisi militer di Jl Guntur, rumah di Jalan Kramat yang disebut Kremlin dan bangunan di kebayoran lama yang biasa disebut Gang Buntu untuk tahanan peristiwa tanjung priok, Talang sari lampung, pemboman bank BCA, Kasus Malari atau pembajakan pesawat Garuda ‘ Woyla ‘.
Juga kisah para mahasiswa yang diculik oleh sebuah kesatuan militer yang menyekapnya di tempat kesatuannya di daerah Cijantung dan Serang, Jawa Barat.

Mereka yang ditahan mengalamai pemyiksaan secara brutal dan kejam seperti dipukuli sampai babak belur, dicambuk dengan buntut ikan pari, disetrum, kuku dicopot, direndam di bak yang penuh lintah sampai akhirnya yang bernasib sial mati ditembak atau ditenggelamkan di laut.

Tentu saja proses interogasi tidak didampingi pengacara, dan terserah kapan saja tentara yang memanggilnya. Untuk merendahkan harga diri tahanan, umumnya mereka diinterograsi sambil telanjang, tak kecuali tahanan wanita.

Sistem sel dan kamar tahanan dibuat sedemikian rupa berdekatan dengan ruang interogasi, sehingga para tahanan bisa mendengar jeritan mereka yang disiksa. Lokasi tahanan ini adalah tempat ‘ yang tak tercatat ‘ dan memang tak melewati sistem peradilan yang jujur.

Dalam ruang penyiksaan ini, mereka dipaksa untuk membongkar jaringan dan teman temannya yang belum tertangkap. Jika para penyiksa belum mendapat informasi yang mereka mau, mereka mengembalikan tahanan yang sudah babak belur ke dalam sel dan mengambil korban berikutnya. Bahkan ada seorang tahanan yang kakinya patah, setelah mendapat perawatan, kembali di siksa dengan kakinya masih dibungkus gips.

Jangan berharap Tuhan ada disini, demikian maki seorang tentara yang menggunting jilbab seorang tahanan wanita yang tersangkut kasus Tanjung Priok, saat ia berteriak “ Allahu Akbar “ ketika disiksa.
Suatu malam ada seorang tahanan yang kedinginan dalam selnya. Tiba tiba seorang tentara melempar Jaket. Ia berterima kasih, dan langsung memakainya. Karena gelap, ia tak melihat bahwa Jaket itu sudah dipenuhi oleh semut semut, sehingga sekujur badannya bengkak bengkak.

Seorang tahanan petinggi kelompok Warsidi, Lampung suatu saat kehausan. Ia langsung meminum ketika disodori air, yang ternyata air dari got selokan.

Para mahasiswa yang diculik menjelang jatuhnya rezim orde baru juga mengalami siksaan yang maha dasyat. Andi Arief, ketua Solidaritas Mahasiswa Indonesia Untuk Demokrasi mengalami siksaan psikologis dimana matanya ditutup selama sepuluh hari, sambil terus dipukuli. Mereka biasanya ditidurkan sambil telanjang diatas balok es, disetrum alat kemaluannya atau digantung dengan kepala dibawah. Beberapa dari mereka tak pernah kembali dan tak jelas dimana kuburannya seperti Bimo Petrus atau Deddy Hamdun.
Tentu saja kita tak bisa menampik bahwa ini adalah kebijakan yang direstui oleh pemimpin militer atau Presiden Soeharto, karena mereka bisa berbulan bulan atau lebih dari setahun berada dalam tahanan yang dirahasiakan. Justru sempat terjadi pergantian Pangab dari Faisal Tanjung ke Wiranto.

URL blog.imanbrotoseno.com 35 Neraka Orde Baru | Iman Brotoseno
Iman Brotoseno @imanbr
Buku ini ‘ Neraka Rezim Soeharto ‘.Ada Ulama bener disiksa, dikasih minum air got. Tahanan wanita digunting jilbabnya pic.twitter.com/spmGRvYv18
Expand pic
Penyihir @asevmuslimovic
Saat 21 Mahasiswa di penjara, dg tuduhan menghina Presiden Soeharto, mrk malah bikin kaos: "penjara tak membuat kami jera"..Ongen? mewek
......Joe! [わかるマン] ⍟ @nozomu_razgriz
buku "Neraka Rezim Soeharto" ini mau berapa kali dibaca juga tetep serem

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.