Atas nama Tuhan, mereka Rusak citra agama

Mengutip dati Dutaislam.com / santrionline.net
0
Temporary Hiatus @OkeOnta

1. Bismillahirahmanirrahim. DutaIslam.Com - Peneliti yang serius akan mudah menemukan bahwa semua konflik sosial dimotivasi perbuatan kekeuasaan politik” (Mohammad Abduh)

01/03/2018 15:03:36 WIB
Temporary Hiatus @OkeOnta

2. Konflik, kekerasan dan perang dalam tubuh kaum muslimin masih terus berlangsung, hampir di mana-mana, di negeri-negeri muslim sampai hari ini, meski tak selalu dan tak massif. Pembantaian, penyerangan, perampasan hak-hak hidup dan kehidupan acap meledak.

01/03/2018 15:03:36 WIB
Temporary Hiatus @OkeOnta

3. Pengingkaran atas ekspresi-ekspresi pikiran masih berhamburan sewaktu-waktu, tetapi bagai bayang-bayang hantu. Individu dan kelompok-kelompok muslim berpikiran progresif dan menggugat konstruksi pemikiran keagamaan konservatif acap dituduh kafir dan menghancurkan agama.

01/03/2018 15:03:37 WIB
Temporary Hiatus @OkeOnta

4. Mereka tidak mematuhi bahkan melawan hukum-hukum Tuhan. Sebagian dari kelompok itu dituduh “munafik”, sebuah terma kafir berkedok dan dengan performa muslim. Beragam stigma lain dilekatkan kepada mereka; antek barat, sekularis, liberal, sinkretis dan lain-lain

01/03/2018 15:03:37 WIB
Temporary Hiatus @OkeOnta

5. Berbagai terma ini dianggap mereka sebagai sepenuhnya negatif, keburukan dan biang kerusakan social. Boleh jadi setan-setan gentayangan yang merontokkan keyakinan umat. Menakutkan.

01/03/2018 15:03:38 WIB
Temporary Hiatus @OkeOnta

6. Sebaliknya individu atau kelompok progresif menyebut kaum konservatif sebuah terma orang-orang yang “ngotot” mempertahankan kemapanan pikiran kuno dan tradisi yang tak lagi relevan, sebagai orang-orang yang menghambat/mematikan dinamika dan sirkuit kemajuan umat dan bangsa

01/03/2018 15:03:38 WIB
Temporary Hiatus @OkeOnta

7. Kaum konservatif dianggap paling bertanggungjawab atas keterpurukan dan ketidakberdayaan kaum muslimin dewasa ini. Penyerangan terhadap ekspresi pikiran dan kehendak intrinsik manusia adalah penghancuran potensi kemanusiaan yang dianugerahkan Tuhan kepada setiap ciptaanNya

01/03/2018 15:03:38 WIB
Temporary Hiatus @OkeOnta

8. Atas Nama Apa? Menariknya adalah bahwa dua kelompok berseberangan ini sepakat mencatut teks-teks agama untuk menopang pendiriannya. Sepanjang sejarah agama di dunia, “bersembunyi” di balik punggung teks agama merupakan pedang paling tajam untuk menebas leher lawan-lawannya

01/03/2018 15:03:39 WIB
Temporary Hiatus @OkeOnta

9. karena di balik agama ada Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Perkasa. Melawan Tuhan sama dengan merendahkan Kemuliaan dan Kekudusan-Nya. Ini adalah adalah wajah dari peradaban teks, meminjam terma Abu Zaid.

01/03/2018 15:03:39 WIB
Temporary Hiatus @OkeOnta

10. Pertanyaan krusial kita adalah apakah semua persitiwa saling menghancurkan antar kaum muslimin tersebut benar-benar dialasi oleh benturan-benturan teologis? Peristiwa-peristiwa adalah fenomena-fenomena yang selalu bisa ditafsirkan secara ambigu; “hammal awjuh”

01/03/2018 15:03:40 WIB
Temporary Hiatus @OkeOnta

11. Zaidah Soleh, dalam responnya atas catatan saya: “Khalifah yang Toleran”, misalnya, mengatakan: “saya lebih setuju bahwa hubungan-hubungan yang terjadi saat itu lebih banyak didasari oleh kepentingan-kepentingan politis dan ekonomis tertentu...

01/03/2018 15:03:40 WIB
Temporary Hiatus @OkeOnta

12. ...tidak melulu karena alasan ideologis, baik kepada yang sekeyakinan maupun yang tidak, ketika kepentingan mereka terancam”. Ini sangat menarik, dan saya tidak menolaknya, tetapi sembari mengapresiasi pendapatnya, saya juga mengapresiasi pandangan lain.

01/03/2018 15:03:40 WIB
Temporary Hiatus @OkeOnta

13. Zaidah tidak sendirian, amat banyak yang mengajukan alasan itu. Muhammad Abduh, dalam perdebatannya dengan Farah Anton, pernah mengemukakan pandangan tersebut.

01/03/2018 15:03:41 WIB
Temporary Hiatus @OkeOnta

14. Katanya: ”perang antara kaum Salafi, Asy’arian dan Mu’tazilah, sama sekali tidak karena motiv teologis, meski di antara mereka terdapat perbedaan teologis yang amat tajam.“Hurub al Khawarij”, pemberontakan kelompok Khawarij, dan peristiwa penyerangan gerakan Karamit dll

01/03/2018 15:03:41 WIB
Temporary Hiatus @OkeOnta

15. Akan tetapi perang-perang seperti ini sejatinya tidak dipicu oleh perbedaan teologis, melainkan disulut oleh kepentingan politik dalam rangka penguasaan atas rakyat”. Seperti halnya Syi’ah dan Dinasti Otoman yang Sunni atau Wahabi di Saudi Arabia terhadap kelompok muslim lain

01/03/2018 15:03:41 WIB
Temporary Hiatus @OkeOnta

16. Banyak orang yang melihat ini sebagai perang atau konflik ideologis, atau teologis, tetapi Abduh mengatakan; “peneliti yang serius akan mudah menemukan bahwa semua perang tersebut adalah perebutan kekuasaan politik”.

01/03/2018 15:03:42 WIB
Temporary Hiatus @OkeOnta

17. Penjelasan Abduh tidak sampai di sini. Ia melihat konflik dan berbagai peristiwa pergolakan dalam dinasti Abbasiah ketika mapan. “Peristiwa yg dikemudian hari melumpuhkan umat Islam itu lebih dilatarbelakangi oleh kerakusan para penguasa dan karena hasrat yang rendah mereka”

01/03/2018 15:03:42 WIB
Temporary Hiatus @OkeOnta

18. Dan masih kata Abduh, sang pembaru abad 20 itu, “Tetapi tak ada penyakit yang lebih besar yang merasuk dalam tubuh, akal dan semangat kaum muslimin kecuali masuknya orang-orang bodoh (al jahalah) ke dalam pemerintahan.

01/03/2018 15:03:43 WIB
Temporary Hiatus @OkeOnta

19. “Al-Jahalah”(orang-orang bodoh), adalah mereka yang berhati kasar (al khusyunah) dan pribadi-pribadi yang sangat arogan (al ghatrasah). Mereka tidak mengerti Islam yang benar dan keimanan mereka semu dan tak mendalam. (Farah Anton, Ibn Rusyd wa Filsafatuhu, Dar al-farabi)

01/03/2018 15:03:43 WIB
Temporary Hiatus @OkeOnta

20. Analisis Abduh adalah pikiran, pengetahuan dan pengalamannya sendiri. Meski dia hidup di zaman berbeda, tetapi kecerdasan dan ketajaman matanya tampak menjangkau banyak zaman lain. Jika kita boleh menyimpulkan tampaknya ketamakan kekuasaan telah merenggut banyak nyawa manusia

01/03/2018 15:03:43 WIB
Temporary Hiatus @OkeOnta

21. Abduh konon “frustasi” pada kehidupan politik sampai dia harus bilang: “A’udzu billah min (syarr) al Siyasah wa Ma Yata’allqu biha”(aku mohon perlindungan Allah dari (keburukan) Politik dan penopang-penopangnya) yang dimaksud “politik” adalah realitas sistem politik.

01/03/2018 15:03:44 WIB
Temporary Hiatus @OkeOnta

22. Itu sekali lagi pandangan Abduh. Kita berhak menulis dan bicara yang lain, dan saya ingin menambah analisis lain dari dua tokoh besar lain dalam sejarah Imam al-Syafi’i, pendiri aliran fiqh terkemuka, dan diamini Imam al Ghazali, sang pendekar Islam dari Thus.

01/03/2018 15:03:44 WIB
Temporary Hiatus @OkeOnta

23. Keduanya mengambil kesimpulan yang mungkin secara substantif tak berbeda dengan Imam Abduh, meski dengan bahasa yang lain. Kata mereka dalam sebuah syair: “Semua permusuhan bisa didamaikan, kecuali satu Permusuhan dari dia yang iri hati”

01/03/2018 15:03:44 WIB
Temporary Hiatus @OkeOnta

24. Iri hati adalah keinginan merampas kenikmatan orang lain dan meraihnya untuk dirinya sendiri (atau kelompoknya) sembari membiarkan yang lain menderita seperti pengalaman diri dan atau kelompok.

01/03/2018 15:03:45 WIB
Load Remaining (1)

Comment

No comments yet. Write yours!