Kisah Laksamana Madya TNI Soedibyo Rahardjo Menolak Mbak Tutut Yang Meminta Semua Pembelian Senjata Dipegang Oleh Grup Perusahaannya

Pengakuan Kepala Staf Umum ABRI yang menolak permintaan keluarga Cendana untuk menguasai seluruh pembelian senjata.
Soedibyo Rahardjo soeharto senjata HISTORY Mbak Tutut bisnis Siti Hardiyanti Rukmana Keluarga Cendana
1
Iman Brotoseno @imanbr
Kisah Mbak Tutut meminta semua pembelian senjata dipegang oleh grup perusahaannya. Alasannya, masalah persenjataan sangat strategis dan tak bisa dipegang oleh sembarang orang. “Itu perintah presiden,” kata Mbak Tutut —> google.com/amp/historia.i…
⠠⠁⠗⠊ @arinrchm
Masa2 keajaiban katabelece "Perintah bapak" 😁😁 twitter.com/imanbr/status/…
Rio17 @RioantoroY
@historia_id Berusaha, nek kabeh dipek, yo dudu berusaha iku. Monopoli, Pak. (Berusaha, tapi kalau semua diambil, itu monopoli),” kata Soedibyo.> keren bapak ini
Alhiratan @AlexHrw
historia.id/modern/bisnis-… Betapa serakah nya yah... kaya kurang Kaya... Sekarang bikin partai trus ada yang milih gak yah... #PengenTahu
adit andito @anditoaja
Bisnis senjata keluarga Cendana @HMSoeharto1921. Atas nama stabilitas politik, harga alutsista dimark-up 4 x lipat. Kini berevolusi menjadi @partaigaruda @Partaiberkarya? historia.id/m/modern/bisni…
Poltak Hotradero @hotradero
@imanbr Jadi ingat kasus pesawat tempur Hawk dan tank Scorpion. Dokumen ini di halaman 8 caat.org.uk/resources/caat…
kopi ga ditubrukin👹🇮🇩 @arabicaturnover
@imanbr Markupnya sampai 4x lipat wew.. menurut wikipedia jumlah tank scorpion milik TNI 275 unit Misalkan hrga 1 unit nya 1M dimarkup jadi 5M kalo dikali kan 275 unit..markupnya aj dpt 1.1T...😲😲 Itu baru dr tank scorpion blm yg lain..ck..ck..ck
Tweet Militer @tweetmiliter
Hasilnya Tank Scorpion seharga MBT Challenger, BAe Hawk seharga Hornet twitter.com/imanbr/status/…
M Rainhard S @mrainhards
“You are rich, tapi you are poor in hearth,” kata Soedibyo ke Mbak Tutut pd Januari 1988, saat putri Soeharto itu minta semua pembelian senjata dipegang oleh grup perusahaannya. Ada anak Jokowi yg model gitu? #T3tapJokowi Bisnis Senjata Keluarga Cendana historia.id/m/modern/bisni…
Edwin Rizwansyah @rizwansyah
@imanbr Trus itu ujungnya gmn mas? Pak dibyo dipecat dan proyek dikasih ke mbak tutut atau gmn?
Robby Aryadi @aryadi_robby
@imanbr Tak lama Benny dicopot dari Pangab kalo ga salah
Iman Brotoseno @imanbr
Yang jelas kelak suatu saat sambil bermain bilyar bersama, Benny Moerdani memberi tahu Pak Harto bahwa bisnis anak anaknya sudah ‘ mencemaskan ‘. Serta merta Pak Harto diam, kzl dan masuk ke dalam rumah, meninggalkan Benny yang termangu mangu twitter.com/rizwansyah/sta…
Tobagus Manshor @mas_stein
@imanbr Dan di kemudian hari Pak Harto mengakui, "Kowe sing bener, Ben."
Iman Brotoseno @imanbr
Iya ksatria. Pak Harto jujur mengakui salah ke Benny Moerdani. Obrolan orang orang tersisih. twitter.com/mas_stein/stat…
Janget Kinatelon @kuntorosuwung
@imanbr Ktk Benny sakit dan hampir meninggal, babe dtg kekamar Benny, minta maaf sambil mengatakan: ''Kamu benar Ben''. Babe sdr anaknya jahat.
Janget Kinatelon @kuntorosuwung
@imanbr Konon Benny nasehatin babe: ''Tolong anakmu dikendalikan''. Dan babe tidak mau lagi bicara dgn Benny.
Arif Wahyudi @massayib
@imanbr masih mending Benny Moerdani, kalau Prof Soemitro yg bilang, langsung putus hubungan diplomatis dng besan 😀

Kisah lengkapnya dari historia.id

LAKSAMANA Madya TNI Soedibyo Rahardjo dilantik menjadi Kepala Staf Umum (Kasum) ABRI pada Januari 1988. Beberapa hari kemudian ada permintaan menghadap dari Siti Hardiyanti Rukmana atau Mbak Tutut. Dia prioritaskan untuk menerima putri sulung Presiden Soeharto itu. Soedibyo kenal baik dan Mbak Tutut memanggilnya dengan sebutan “Mas.”

Mbak Tutut meminta semua pembelian senjata dipegang oleh grup perusahaannya. Alasannya, masalah persenjataan sangat strategis dan tak bisa dipegang oleh sembarang orang. “Itu perintah presiden,” kata Mbak Tutut.

Saat itu, Soedibyo memperkirakan ada 350 perusahaan yang menjadi rekanan Mabes ABRI/Dephankam dalam pengadaan senjata.

“Saya sih, bisa saja,” kata Soedibyo dalam memoarnya, The Admiral, “tapi jangan lupa, 350 pengusaha ini tiap satu perusahaan ada lima pensiunan ABRI yang duduk di dalamnya. Jadi, coba hitung 5 x 350 = 1750 pensiunan yang dengan anak lima, itu yang akan terkena aturan seperti you inginkan ini, seperti yang diinginkan Bapak Presiden.”

“Kalau itu terjadi, ya mungkin mereka tidak akan berbuat apa-apa, cuma kan, masa sih Tut, Anda masih kurang duit,” kata Soedibyo.

Mbak Tutut tadinya diam saja tapi akhirnya menjawab juga, “Lho, ojo ngono to Mas (jangan begitulah Mas).”

“You are rich, tapi you are poor in hearth (Anda kaya tapi miskin di hati),” kata Soedibyo.

“Wah, gak enak ki ngomonge, Mas Dibyo (Wah, gak enak ngomongnya, Mas Dibyo),” kata Mbak Tutut.

“Kan, kita bekerja untuk kepentingan banyak orang,” kata Soedibyo. “Gini deh saya bikin aturan, projek di atas 20 juta dolar, it’s your area. Ini saya akan keluarkan SK yang begitu bunyinya, saya tanggung jawab. Ini solusi. Kalau semua you pegang, saya keberatan, karena saya ada banyak ekor yang di sini. Sing kepengen sugih dudu kowe dewe lho, Tut. (yang mau menjadi kaya itu banyak),” kata Soedibyo.

“Lho kok ngono (Lho, kok begitu)?” kata Mba Tutut.

“Saya juga ingin kaya,” kata Soedibyo. “Asop (Asiste Operasi) saya juga ingin kaya. Aspers (Asisten Personalia) saya juga ingin kaya. Tetapi kalau semua tadi tidak mendapat apa-apa dan yang kaya hanya satu, tidak cocok saya. Mana demokrasi.”

Mbak Tutut tidak mendebat lagi dan pamit pulang. Soedibyo yakin, Mbak Tutut akan melaporkan percakapan itu, entah kepada ayahnya atau kepada Panglima ABRI Jenderal TNI L.B. Moerdani.

Benar saja. Pagi-pagi, Soedibyo dipanggil Benny. Soedibyo sudah menebak pasti karena urusan sehari sebelumnya.

“Cangkemmu ngomong opo? (Mulutmu ngomong apa?),” tanya Benny.

“Tutut, Pak?”

“Yo. Kowe ngomong opo? (Kamu ngomong apa?).”

Rupanya, Presiden Soeharto berkata kepada Benny, “Yo, karepe Dibyo iku yo bener (mungkin keinginan Dibyo itu benar), tapi masak orang tidak boleh berusaha. Kan semua punya hak untuk berusaha.”

Soedibyo menjelaskan percakapannya dengan Mbak Tutut. Dia membantah telah mematikan usaha Mbak Tutut. Dia hanya menolak menyerahkan semua pembelian senjata dan menawarkan projek di atas 20 juta dolar menjadi milik Mbak Tutut.

“Berusaha, nek kabeh dipek, yo dudu berusaha iku. Monopoli, Pak. (Berusaha, tapi kalau semua diambil, itu monopoli),” kata Soedibyo.

“Wis, koen ojo kakehan cangkem ngono, lho (Ya sudah, tapi jangan kebanyakan ngomong),” kata Benny menasihati Soedibyo.

“Ya, nggak apa-apa, pokoke saya disalahkan juga nggak apa-apa,” kata Soedibyo menutup percakapan.

Soal bisnis senjata, Sumitro Djojohadikusumo, mengungkapkan bahwa anaknya, Prabowo Subianto, pernah amat prihatin dengan sepak terjang bisnis anak-anak presiden. “Dia pernah menentang pembelian tank dan pesawat lantaran mark up-nya mencapai empat kali lipat dari harga sebenarnya. Prabowo dengan ketus menyebut perbuatan itu sebagai penjarahan,” kata Sumitro dalam biografinya, Jejak Perlawanan Begawan Pejuang (Baca: Kala Prabowo Mempersunting Putri Soeharto).

Dalam Korupsi Kepresidenan, George Junus Aditjondro menyebutkan bahwa selama sepuluh tahun terakhir kekuasaannya, anak-anak Soeharto memperoleh hak untuk mengimpor senjata-senjata standar militer untuk ABRI.

“Dengan demikian,” kata Aditjondro, “mereka mengambil keuntungan dari kendaraan lapis baja Scorpion yang memenuhi jalan-jalan Jakarta pada Mei 1998, pada saat kejatuhan ayah mereka dari tampuk kekuasaannya.”

URL historia.id 2896 Bisnis Senjata Keluarga Cendana Pengakuan Kepala Staf Umum ABRI yang menolak permintaan keluarga Cendana untuk menguasai seluruh pembelian senjata.

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.
Login and hide ads.