Matikan TV Anda, Demi Sang Buah Hati by @majalahfahma

Chirpified
psychology
534 View 0 comments
Add to Favorite
0
Login and hide ads.
Majalah Fahma @majalahfahma 14/02/2018 20:01:35 WIB
1. Bismillaah... Kembali lagi malam ini kita akan berbagi inspirasi, kali ini kami akan menyampaikan tentang TV bagusnya diapakan sih? @yuliasfita pic.twitter.com/Xwl8a8mWHt
 Expand pic
Majalah Fahma @majalahfahma 14/02/2018 20:02:20 WIB
2. Maka "Matikan TV Demi Sang Buah Hati"
Majalah Fahma @majalahfahma 14/02/2018 20:02:36 WIB
3. Entah mengapa sudah sejak lama saya tak berniat lagi dengan televisi. Acara yang ditayangkan dari kotak segi empat itu tak lebih dari tontonan membosankan, penuh kekerasan, dan vulgar secara visual.
Majalah Fahma @majalahfahma 14/02/2018 20:02:51 WIB
4. Pendek kata, tayangan televisi tak lagi mendidik. Tontonan yang ada sudah tak dapat lagi dijadikan tuntunan bagi pemirsanya.
Majalah Fahma @majalahfahma 14/02/2018 20:03:22 WIB
5. Tampaknya kurang obyektif apabila penulis gebyah uyah semua tayangan. Benar, ada satu-dua tayangan televisi yang sejatinya bagus untuk dilihat.
Majalah Fahma @majalahfahma 14/02/2018 20:03:45 WIB
6. Misalnya saja acara tausiyah 'Damai Indonesiaku' di salah satu televisi swasta. Atau beberapa acara pengajian termasuk di TVRI. Sayangnya, acara pengajian tersebut kebanyakan disiarkan waktu pagi atau ba'da shubuh.
Majalah Fahma @majalahfahma 14/02/2018 20:03:54 WIB
7. Kita dapat menebak. Pemirsa yang menyaksikan acara tersebut hanya mereka yang telah terbiasa bangun pagi. Lebih dari itu, saya yakin tidak.
Majalah Fahma @majalahfahma 14/02/2018 20:04:25 WIB
8. Selebihnya, hampir 24 jam nonstop televisi menghadirkan pelbagai tayangan yang ibarat makanan fast food, bergizi rendah namun anehnya digemari begitu banyak orang. Sinetron tak lagi dapat dijadikan pijakan, jalan ceritanya aneh dan sangat tidak masuk akal.
Majalah Fahma @majalahfahma 14/02/2018 20:04:52 WIB
9. Di pagi hari, televisi sudah menyuguhi kita dengan tayangan infotainment. Program ghibah yang tidak lebih sekadar mengulik dan mengumbar kekurangan orang lain.
Majalah Fahma @majalahfahma 14/02/2018 20:05:13 WIB
10. Parahnya lagi, aib yang seharusnya ditutupi malah diumbar layaknya barang dagangan. Anehnya, sebagian pesohor kita justru jumawa saat tampil di infotainment.
Majalah Fahma @majalahfahma 14/02/2018 20:05:34 WIB
11. Pun demikian pula dengan berita. Nyaris nihil dari liputan aksi dakwah. Apalagi pengajian atau aksi menolak kemaksiatan, hampir mustahil untuk diberitakan oleh televisi.
Majalah Fahma @majalahfahma 14/02/2018 20:05:56 WIB
12. Yang ada justru pemberitaan tentang sisi negatif ormas Islam tertentu, seperti anarkhisme, perbedaan pendapat yang dibesar-besarkan, serta propaganda sekulerisme, liberalism, dan pluralisme.
Majalah Fahma @majalahfahma 14/02/2018 20:06:07 WIB
13. Debat wacana pertikaian politisi, koalisi penuh tipu-tipu, saling ngotot dan jegal satu sama lain pun juga lazim mewarnai tayangan televisi di Indonesia. Tayangan yang mengumbar aurat dan pergaulan bebas pun dianggap wajar di berbagai program televisi.
Majalah Fahma @majalahfahma 14/02/2018 20:06:36 WIB
14. Begitulah wajah televisi kita hari ini. Pada titik ini, rasanya televisi tidak kalah berbahaya dibanding narkoba. Anehnya, dan ini terjadi di negara kita, tiap kanal televisi boleh ditonton tanpa limit pemirsa.
Majalah Fahma @majalahfahma 14/02/2018 20:07:00 WIB
15. Padahal, dalam studi ilmu komunikasi kontemporer, diketahui bahwa di negara liberal sekalipun seperti AS, tiap channel televisi hanya dapat diakses sekian juta orang. Ada batasnya, ada limitnya.
Majalah Fahma @majalahfahma 14/02/2018 20:07:33 WIB
16. Beda dengan negara kita, televisi dapat merasuk sampai bilik kamar anak-anak kita. Nihil dari pengawasan orang tua.
Majalah Fahma @majalahfahma 14/02/2018 20:08:01 WIB
17. Maka tak aneh jika pengusaha yang akan berlaga di pentas politik dapat dipastikan ia bernafsu untuk memiliki/mendirikan stasiun televisi. Memang demikianlah yang terjadi di negeri ini. Lalu apa yang dapat kita lakukan?
Majalah Fahma @majalahfahma 14/02/2018 20:08:28 WIB
18. Matikan televisi demi buah hati. Penulis kerap berpikir seperti ini. Kita dapat mencobanya dengan 2 jam tanpa televisi. Kemudian sehari tanpa televisi, lalu selang-seling (ibarat puasa Daud atau Senin-Kamis) dan akhirnya kita tak lagi bergantung dengan televisi.
Majalah Fahma @majalahfahma 14/02/2018 20:08:44 WIB
19. Tak usah ragu, pasalnya informasi dapat kita gapai melalui media lainnya (koran, majalah, internet, dan sebagainya). Salah seorang Ustaz dalam sebuah tausiyahnya pernah mengatakan, bahwa televisi itu baru bermanfaat kalau dimatikan.
Majalah Fahma @majalahfahma 14/02/2018 20:09:13 WIB
20. Anda. Alhasil putra-putri tetap dapat memantau perkembangan informasi, menggali ilmu pengetahuan dan bebas dari ancaman televisi. Tentu saja jika diletakkan di ruang terbuka, kemungkinan penyalahgunaan internet dapat ditekan seminimal mungkin.
Majalah Fahma @majalahfahma 14/02/2018 20:09:23 WIB
21. Anda mau mencoba? Mari matikan televisi demi buah hati. Salam hangat untuk buah hati Anda, generasi masa depan bangsa.
Majalah Fahma @majalahfahma 14/02/2018 20:10:05 WIB
22. Demikian, silahkan bisa berkunjung ke website kami >>> Matikan Televisi Demi Sang Buah Hati | Majalah Fahma majalahfahma.com/2018/02/matika…

Bookmarked tags

No tags
Login and hide ads.