0
Pejuang Keadilan @BuniYani
Massa gampang ditipu. Asal berbau agama, semua produk laku: mulai sinetron, lagu, merchandise, ayat. Hati2 ada kapitalisme di baliknya.
Pejuang Keadilan @BuniYani
Sbg negara muslim terbesar, indonesia adalah pasar terbesar produk berbau islam. Di sini apa saja bisa laku asal mengatasnamakan islam.
Pejuang Keadilan @BuniYani
Di amerika, konservatisme kristiani dimanfaatkan para pedagang sampai batas paling jauh utk meraup untung. Ada kapitalisme di baliknya.
Pejuang Keadilan @BuniYani
Para produsen, kalau mau jujur, tidak sungguh2 mau menyebarkan kebaikan melalui agama. Mereka cuma berpikir laba.
Pejuang Keadilan @BuniYani
Dlm hal ini kapitalisme tdk buruk dlm dirinya. Ia buruk karena melampaui batas2 mana yg bisa dikomodifikasi mana yg tdk.
Pejuang Keadilan @BuniYani
Di amerika pengunjil jd seleb dan kaya raya, di indonesia kyai dan dai tampil sbg pesohor dan berlimpah rejeki. Ada kapitalisme di baliknya.
Pejuang Keadilan @BuniYani
Agama jadi barang dagangan yang laku keras. Tapi sebagian besar orang tak paham kalau ada bisnis di baliknya.
Pejuang Keadilan @BuniYani
Perkawinan agama, dai/penginjil, media dan komprador kapitalisme melahirkan komodifikasi berskala tinggi yg susah dibendung.
Pejuang Keadilan @BuniYani
Media menangkap psikologi massa yg ingin masuk surga semua lalu mencari org yg bisa menjual agama untuk menaikkan rating.
Pejuang Keadilan @BuniYani
Penginjil/dai tak harus pintar, alim apalagi menguasai ilmu agama. Yg penting apa bisa ia menaikkan rating.
Pejuang Keadilan @BuniYani
Situasi ini membuat semua org senang: media dpt uang, dai jd terkenal dan kaya, penonton merasa mendapat pencerahan relijius. Klop.
Pejuang Keadilan @BuniYani
Mungkin hal2 inilah yg jadi perhatian dan kritik cultural studies yg bertolak dari pemikiran sekolah frankfurt thd pop culture.
Pejuang Keadilan @BuniYani
Kritik yg tampak begitu suram tapi kalau direnungkan ada banyak benarnya.
Pejuang Keadilan @BuniYani
Adorno bahkan dg pedas mengkritik pop culture tak punya nilai budaya dan seni karena terstandardisasi sesuai selera massal.

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.
Login and hide ads.