0
Asmara Wreksono @miund
“Bu, kenapa laki-laki ada yang rambutnya panjang kaya girl?” “Ya ga apa-apa, mereka suka kok.” “Mereka gak jahat?” “Kenapa mesti jahat?” “Karena di filem-filem kalo boy rambut panjang suka jahat.” “Yang rambut pendek juga ada yg jahat.” “Oiya juga.”
Asmara Wreksono @miund
Seminggu penuh nemenin anak yang lagi sakit, 24 jam bersamanya, mendengar dan menjawab pertanyaan2nya membuat gw sadar kalo mengajari untuk tidak menilai orang berdasarkan atribut itu mesti dimulai sejak amat dini.
Asmara Wreksono @miund
Dan pertanyaan2 anak gw ini sungguh innocent, tidak tendensius apalagi terpolitisir. Semua muncul saat kami nonton film atau baca buku bareng. Gw jadi mesti puter otak banget untuk menjawab satu-satu dengan tepat. Tepat dalam standar 2018, bukan 1996.
Asmara Wreksono @miund
Salah satu pertanyaan tersulit: “Bu, kok Hunchback of Notre Dame kepalanya mendelep, matanya satu melek satu merem dan mukanya jelek?” I could have answered: “Ya namanya juga film, udah nonton ajalah.” But instead, like I always do in life, I took a harder route and said...
Asmara Wreksono @miund
“Hunchback terlahir dengan kondisi punggung bongkok dan wajah yang deformed. Buat kita kelihatannya tidak biasa, jadi biar gampang, orang sering langsung bilang itu jelek. Padahal tidak. Tampilannya saja berbeda. Tapi dia juga kan manusia...
Asmara Wreksono @miund
...sama seperti kamu. Coba lihat matanya berapa?” “Dua.” “Hidungnya?” “Satu.” “Mulutnya?” “Satu.” “Sama nggak sama kamu?” “Sama.” “Jadi sama-sama apa?” “Manusia.” “Pinter!”
Asmara Wreksono @miund
Pertanyaan2 anak umur 5 tahun itu sering mengejutkan karena mereka bertanya hal-hal yang di usia gw ini udah masuk ke kategori “gausah ditanyain lah gak enak.” These questions make us say the inconvenient truths.
Asmara Wreksono @miund
Liat video klip Bruno Mars: “Bu, om Bruno ga bisa bahasa Indonesia, ya?” “Gak bisalah, dia kan orang Amerika.” “Kok mukanya ga kaya bule?” “Karena dia darahnya Filipina. Mirip orang Indonesia.” “Tapi gak usah bule ya kalo jadi orang Amerika?” “Enggak.”
Asmara Wreksono @miund
“Tapi kok di YouTube orang Amerika banyaknya bule?” “Banyak, tapi gak semua.” “Kalo Dora dari Amerika?” “Dora dari Mexico. Masih di benua Amerika.” See people, five year-olds already understand differences. We have to nurture this with love. Not hate.
Asmara Wreksono @miund
Membedakan fantasi dan kenyataan juga jadi tantangan buat gw sebagai ortu. Nonton Ponyo, anak gw tanya: “Bu, kok ombak lautnya bisa tinggi? Kota-kotanya kok bisa di bawah laut?” “Itu Tsunami namanya. Ketika ombak tinggi dan menenggelamkan kota.” “Orangnya pada meninggal?”
Asmara Wreksono @miund
“Kalau di film Ponyo enggak, pada ngungsi. Kalau tsunami beneran ya iya, makanya tsunami itu berbahaya.” “Tapi kok di film enggak malah pada ngobrol di bawah laut?” A part of me want to say “Namanya juga film.” And be done with the discussion. Instead I said:
Asmara Wreksono @miund
“Kalau di film, hal-hal yang nggak bisa terjadi di kehidupan nyata itu bisa dibikin seakan-akan terjadi. Makanya belajar yang bener, nanti kamu bisa bikin cerita pakai imajinasi terus bikin film sendiri.” “Oh. Emang bisa bikin film sendiri?” “Bisa dong. Tapi sekolah dulu.”
Asmara Wreksono @miund
((((TAPI SEKOLAH DULU))) iya aku memang bukan ortu masa kini yang membiarkan anak merengkuh impian begitu saja. Akademik tetap nomer satu. Monmaap untuk urusan yang ini Ibu Asmara sangat kolonial 😂
Asmara Wreksono @miund
Balik lagi soal ngejelasin fantasi vs reality, gampang2 susah buat gw karena walau gw suka banget cerita fantasi, gw pengen anak gw tau kalo itu ya cuma cerita. Tapi gw ga mau juga dia terlalu realistis sehingga skeptis sama perihal fantasy fiction dan merusak daya imajinasinya.
Asmara Wreksono @miund
Akhirnya cara gw untuk tetap bikin dia imajinatif walau tetap realistis adalah ajak gambar-gambar bareng. Sambil gambar sambil ngoceh aja. Biarin aja dia gambar rumah yang di atap ada ayamnya misalnya. It’s her thoughts and I have to respect them.
Asmara Wreksono @miund
And that’s another thing: respect. As parents we often forget that in order to be respected, we have to respect first. Buat gw, self-reminder paling gampang ya itu. Gambar2 bareng. Whatever she draws, I learn to respect. Apa sih contohnya?
Asmara Wreksono @miund
Semisal dia gambar yang dia bilang burung tapi di mata gw bentuknya kaya amoeba. Ya gw mesti acknowledge bahwa itu burung menurut pemikiran -dan skill dia yang masih berkembang. Gak tau-tau ngecap anak gw ga bisa gambar apalagi bilang “Ih masa burung kaya gitu? Salah!”
Asmara Wreksono @miund
Yang gw lakukan adalah: “Wah burungnya bagus. Paruhnya yang mana?” “Yang ini.” “Waw. Ekornya?” “Ini.” “Sayapnya?” “Ini.” “Hm. Kalo Ibu gambar burung begini nih...” Lalu gambar dengan kaidah yang benar. Tanpa perlu menyalahkan gambar anak. Next time pasti dia ngikutin kita 😃
Asmara Wreksono @miund
Egile jarang2 ngetwit “parenting” kok malem ini cerewet banget? Ya sesekali lah ya. Bukan expert kok, cuma lagi cerita aja apa yg gw dapet dari seminggu bareng anak terus 24 jam sehari. Semoga bermanfaat 😃
Ian Septian @ian_septians
Suka banget baca thread/sambungan twit doi, kagum sama caranya ngajarin anaknya mengetahui how the world works tanpa ngomelin anaknya ketika salah mengintepretasikan sesuatu. Awesome! Like dulu ah buat reminder suatu hari nanti punya anak hehe. twitter.com/miund/status/9…
Load Remaining (2)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.
Login and hide ads.