Protes Seseorang dg "Mental Illness" pada Sebutan "Orang gila" yang Dijadikan Lelucon oleh Seorang Dokter

Mewajarkan "orang gila" dengan menjadikannya lelucon bukan cara yang tepat?
dr Gia Pratama Rumah Sakit Jiwa Penyakit Jiwa viralnow rsj
0
dr. Gia Pratama @GiaPratamaMD
Waktu Koass dulu, saya stase di Rumah sakit Jiwa, RSJ itu temen2, isi ruang rawatnya orang Gilaaa semua (yaiyalah 😁). Total waktu itu ada 70 org Gila, tmn2 klo ketemu satu org gila aja di jalanan, kabur ga? Ini 70. 🤐
dr. Gia Pratama @GiaPratamaMD
Di rumah sakit itu ada Lobby besar yg di kerangkengin jeruji besi, jd mereka bebas berkeliling di dlm sana, kami koass ber7 (khususnya saya) deg2annya setengah mati utk masuk Lobby itu
Detha Prastyphylia @prastyphylia
Sebagai seseorang dengan mental illness, sedih rasanya melihat stigmatisasi gangguan jiwa dengan istilah "gila" masih dilanggengkan dan dijadikan bahan bercandaan oleh seseorang dengan gelar Dokter yang (sudah seharusnya) lebih berpengetahuan dibanding masyarakat awam. twitter.com/GiaPratamaMD/s…
Detha Prastyphylia @prastyphylia
Tiap kontrol — baik di RSJ atau di RS Umum — tiap bilang kalo mau menemui dokter spesialis kejiwaan, selalu dapet pandangan gaenak banget dari bagian administrasi. I hate it, it's the worst part of going to hospital. I want to get help and get better, not be judged and shunned.
Detha Prastyphylia @prastyphylia
Sedihnya lagi, ada limitasi tersendiri saat ingin mencari pertolongan. Suatu hari waktu panic attack kambuh dan lagi parah banget to the point that I did self-harm, saya gak kuat dan segera berangkat ke RSJ yang ada di kotaku. Saya dateng ke IGD karena saat itu weekend malam.
Detha Prastyphylia @prastyphylia
Ternyata waktu udah dateng, bagian administrasi heran ketika aku dateng dengan penampilan "baik-baik saja". Mereka tanya, ada apa? Saya bilang, panic attack parah. Mereka malah bingung sendiri sambil minta saya menjelaskan panic attack yang kaya gimana.
Detha Prastyphylia @prastyphylia
Saya berusaha menjelaskan kepada mereka sambil menahan tangis. Kemudian mereka bilang, kalau saya tidak bisa mendapatkan perawatan di IGD tanpa ada anggota keluarga yang menemani. Mereka bilang, karena ada obat yang penggunaannya harus dalam pengawasan keluarga.
Detha Prastyphylia @prastyphylia
Padahal saat itu orang serumah lagi ke luar kota karena om saya barusan saja meninggal dunia, jadi saya sendirian di Surabaya. Mereka tetap bersikukuh harus ada anggota keluarga yang hadir menemani saya, kalau tidak mereka tidak akan bisa memberi saya perawatan.
Detha Prastyphylia @prastyphylia
Saya kemudian menunjukkan seluruh resep dokter dan lembar diagnosa dari kontrol saya sebelumnya di RS yang berbeda, sebagai bukti bahwa saya benar-benar ODGJ yang terdiagnosa dan memang membutuhkan bantuan, bukan yang ingin menyalahgunakan obat-obatan.
Detha Prastyphylia @prastyphylia
But of course, they resisted and persisted. At that moment, I was desperate. I desperately needed to get help, I needed to be treated before I did something worse to myself. Turned out, my panic attack only got even worse after going there.
Detha Prastyphylia @prastyphylia
This is what I deal with every time. The terrible, horrible stigma that mental illness isn't as valid as physical illness. That mental illness doesn't deserve immediate attention and care without having to fulfill a certain condition. I'm sick of it.
Detha Prastyphylia @prastyphylia
Udah gitu waktu pulang dan lagi nunggu Gojek di pinggir jalan, eh kena catcall orang motoran yang lagi lewat. Bangke.
Detha Prastyphylia @prastyphylia
Waktu telpon mama kalo harus ada anggota keluarga yang nemenin, sampe mama ikutan panik sendiri dan bilang, "udah kamu ajak Alfin aja, bilang dia tunanganmu." Yah, mana percaya mereka. Lagian udah terlanjur males, sebel, bete 😒 Bukannya membaik, yang ada malah tambah parah 💩
Detha Prastyphylia @prastyphylia
Yakali ke UGD, sakit fisik, terus ditolak kalo dateng sendirian dan gaada anggota keluarganya hehehehehehehehe. Sesebapak administrasinya bilang, "ditahan aja dulu mbak, dikontrol." Yee si bapak, kalo saya merasa bisa mengontrol diri sendiri biar gak bundir mah gabakal kesini.
Detha Prastyphylia @prastyphylia
Ini pula, memperlakukan orang dengan OCD seakan-akan lucu. Padahal mereka ngelakuin "habit"-nya berkali-kali tuh kaya lagi diteror habis-habisan. Gaada yang lucu dari yang namanya obsesi dan kompulsi. twitter.com/GiaPratamaMD/s…
Detha Prastyphylia @prastyphylia
Are our illnesses so dismissed that we're reduced into merely as an entertainment for you to laugh at?
Detha Prastyphylia @prastyphylia
Banyak reply di tweet dr. Gia yang membantah, bahwa thread tersebut justru memberikan mereka sudut pandang yang berbeda terhadap "orang gila" karena ternyata tidak "seseram" yang dibayangkan… …dengan menjadikan mereka bahan tertawaan. Eksistensi ODGJ tak lebih dari hiburan.
Detha Prastyphylia @prastyphylia
Sikap tersebut sama halnya dengan masyarakat awam yang mereduksi eksistensi waria hanya sebagai sebatas comic relief dan bahan tertawaan di media. Selain itu, mereka tetap dialienasi. Saya sempat menulis soal hal ini: plasticdeath.com/2017/07/silahk…
Detha Prastyphylia @prastyphylia
Mereka yang bisa tertawa membaca tweet dr. Gia tentang seorang pasien yang menyamar jadi lampu taman… apakah masih bisa tetap tertawa bila nanti mereka melihat, say, ODGJ yang berusaha melakukan self-harm? It might be funny to you, but for us with the illness… it's not.
Detha Prastyphylia @prastyphylia
Anyway, ini lembar diagnosa saya. Just in case someone out there is questioning my credibility in having a say about mental illness as a diagnosed patient. pic.twitter.com/QmXE4WojZg
Expand pic
Detha Prastyphylia @prastyphylia
This is what I wore that day. Orang-orang yang masih terjebak dalam stigma mengenai ODGJ dan "orang gila" gabakal sadar/mengira kalau saya lah pasiennya, saya lah yang butuh pertolongan & perawatan medis. "Orang gila" kok dandan, catokan, parfuman, makeupan 😁 Mungkin begitu. pic.twitter.com/H8Dcqwdhmb
Expand pic
Detha Prastyphylia @prastyphylia
Seeing all the colorful responses, we as a nation still have a long way to go. Apalagi ketika stigma dan sebutan yang bersangkutan masih tetap dinormalisasi bahkan di kalangan yang seharusnya mengedukasi. Belum lagi mencap yang bersuara sebagai SJW dan "kurang humor". Oh well.
Load Remaining (7)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.
Login and hide ads.