2

Di wilayah Garut, Jawa Barat terdapat seorang warga Korea Selatan yang ikut berjuang melawan Belanda. Namanya Yang Chil Seong. Berdasarkan keterangan warga Garut, Yang Chil Seong kemudian menikahi wanita Garut yang mengubah namanya menjadi Komarudin. Komarudin memiliki kemahiran membuat bom dan ikut berperang melawan Belanda.

Prasetya @panjiprasa
Salah satu Pahlawan yang saya kenang '양칠성 (Yang Chil-Seong)' Mengheningkan Cipta, Mulai! Selamat Hari Pahlawan
detikcom @detikcom
Kisah Yang Chil Seong, Pahlawan Negeri Ginseng Pembela Indonesia detik.id/6NGFsT pic.twitter.com/FqtxXrGlHM
Expand pic
Mas Loemiyono @MasLoemi
1) Kisah Warga Korea yang Masuk Islam dan Berjihad untuk Indonesia pic.twitter.com/LSxRdwchqa
Expand pic
Mas Loemiyono @MasLoemi
2) Berjuang merebut kemerdekaan maupun mempertahankannya tidak harus orang pribumi yang lahir dan tumbuh besar di Indonesia. Siapa pun dapat ikut berjuang melawan para penjajah yang melakukan tindakan tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
Mas Loemiyono @MasLoemi
3) Kisah kepahlawanan di Indonesia saat melawan penjajah Belanda maupun Jepang dan sekutunya relatif banyak. Misalnya, Pangeran Diponegoro dari Yogyakarta, Cut Nyak Dien dari Aceh, Mohammad Toha dari Bandung, dan Bung Tomo dari Surabaya.
Mas Loemiyono @MasLoemi
4) Selain itu, relatif banyak pahlawan lain yang rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk Indonesia, termasuk kisah kepahlawanan warga negara Korea bernama Yang Chil-seong.
Mas Loemiyono @MasLoemi
5) Pria kelahiran Korea pada tahun 1919 itu dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Tenjolaya, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat, sebagai penghormatan atas jasa-jasanya berjuang untuk Indonesia.
Mas Loemiyono @MasLoemi
6) Kisah perjalanan hidupnya itu tentu menjadi sesuatu yang menarik, dan menjadi tambahan pengetahuan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, terutama bagi kaum muda Indonesia saat ini.
Mas Loemiyono @MasLoemi
7) Perjalanan hidup Yang Chil-seong dari Korea hingga akhirnya tewas ditembak mati di Kabupaten Garut mendapat perhatian dari pemerintah Korea Selatan, bahkan kisahnya dituliskan menjadi bagian buku hasil penelusuran yang dilakukan oleh periset asal negaranya.
Mas Loemiyono @MasLoemi
8) Kisahnya itu bermula ketika Jepang membawanya ke Indonesia. Pada saat itu, Jepang selain menjajah Indonesia, juga menjajah kawasan Korea. Tentara Jepang membawanya ke Indonesia pada tahun 1942. Dia ditugaskan menjaga tahanan di Bandung.
Mas Loemiyono @MasLoemi
9) Ketika Jepang menyerah, tidak semua tentaranya kembali ke negara tersebut. Yang Chil-seong dan dua tentara Jepang bernama Aoki dan Hasegawa memilih tetap bertahan di Indonesia,
Mas Loemiyono @MasLoemi
10) lalu mereka pergi ke Kabupaten Garut dan memutuskan diri bergabung berjuang bersama pejuang-pejuang pribumi yang menamakan diri pasukan Pangeran Papak.
Mas Loemiyono @MasLoemi
11) Bergabungnya Yang dan dua rekan asal Jepang dengan pejuang pribumi itu menjadikan mereka harus berganti nama dari Yang Chil-seong menjadi nama Indonesia, Komarudin. Begitu pula, Aoki menjadi Abubakar dan Hasegawa menjadi Usman.
Mas Loemiyono @MasLoemi
12) Yang juga menikahi seorang perempuan Kabupaten Garut. Dia memutuskan memeluk agama Islam. Begitu juga dengan dua tentara Jepang penganut agama Islam.
Mas Loemiyono @MasLoemi
13) Mereka bertiga memiliki kepiawaian. Misalnya, Yang adalah ahli pembuat bom, sedangkan dua tentara Jepang memiliki kemampuan dalam strategi perang sehingga kekuatan pejuang di Garut makin kuat.
Mas Loemiyono @MasLoemi
14) Kisah heroik Yang dengan keahliannya membuat bom itu dibuktikan dengan peristiwa peledakan jembatan Sungai Cimanuk atau sering dikenal Jembatan PTG (Pabrik Tenun Garut) untuk menghalau tentara Belanda.
Mas Loemiyono @MasLoemi
15) Aksinya itu membuat pasukan Belanda yang bermaksud menjajah kembali Indonesia memutuskan untuk mundur. Namun, akhirnya Belanda menyerang kembali pasukan Pangeran Papak dengan berbagai strategi, termasuk menyebarkan mata-mata untuk mencari pejuang kewarganegaraan asing itu.
Mas Loemiyono @MasLoemi
16) Kisah hidup Yang dan pejuang asal Jepang berakhir tragis setelah pasukan Belanda mengetahui keberadaan mereka bertiga. Tentara Belanda itu lalu menangkapnya di Gunung Dora, daerah perbatasan Kabupaten Garut dengan Tasikmalaya.
Mas Loemiyono @MasLoemi
17) Mereka bersama seorang pejuang pribumi dibawa oleh tentara Belanda, kemudian diadili hingga diputuskan Yang dan dua tentara Jepang dihukum mati, sedangkan pejuang pribumi mendapatkan hukuman penjara seumur hidup.
Mas Loemiyono @MasLoemi
18) Takdir hidup mereka bertiga berakhir dengan cara ditembak mati oleh tentara Belanda di Lapang Kerkof, Kabupaten Garut, di hadapan warga setempat pada 10 Agustus 1949.
Mas Loemiyono @MasLoemi
19) Ketiga jasad pejuang itu dikuburkan secara Islam sesuai dengan permintaan terakhirnya di pemakaman umum Pasir Pogor, Kecamatan Tarogong Kidul. Akhirnya, Pemerintah memindahkan mereka ke Taman Makam Pahlawan Tenjolaya, Kabupaten Garut, Jawa Barat pada tahun 1982.
Mas Loemiyono @MasLoemi
20) Petugas Taman Makam Pahlawan pada Dinas Sosial Garut Imam Sukiman membenarkan ada makam pahlawan asal Korea dan dua tentara Jepang. "Ya, betul ada orang Korea yang pro Indonesia dimakamkan di Makam Pahlawan Tenjolaya sini," kata Imam Sukiman.
Mas Loemiyono @MasLoemi
21) Pahlawan asal Korea tersebut tertulis dalam batu nisannya bernama Komarudin. Makam pahlawan dari Korea tersebut, kata Imam, selalu dikunjungi oleh keluarganya yang datang langsung dari Korea Selatan,
Load Remaining (6)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.