0
Pourquoi @JohnySibuea
1. Dalam demokrasi sekarang ini, sepertinya banyak kontrak politik yang dilakukan sesuai hukum “supply and demand”.
Pourquoi @JohnySibuea
2. Kami akan memberi sesuai permintaan anda, asalkan anda mendukung untuk kemenangan kami (sisi supply).
Pourquoi @JohnySibuea
3. Kami akan mengantarkan anda pada kemenangan asalkan kami diberikan sesuai yg kami minta (sisi demand)
Pourquoi @JohnySibuea
4. Berkembangnya hukum supply and demand tsb adlh fenomena yg lahir karena manusia yg selalu berpamrih untuk apapun yg dilakukannya: pic.twitter.com/3vrhZlcjgl
Expand pic
Pourquoi @JohnySibuea
5. Tetapi, antara pamrih yg merupakan harapan, seringkali berbeda dengan kenyataannya .
Pourquoi @JohnySibuea
6. Jika sudah seperti itu, maka yang muncul kemudian adalah “masalah” yg merupakan gap antara harapan dan kenyataannya.
Pourquoi @JohnySibuea
7. Karena janji hanya tinggal janji. Janji yg saat kontrak politik diberikan, tetapi kemudian tidak indah pada waktu realisasinya.
Pourquoi @JohnySibuea
8. Ini ada berita di media on-line Jawa Pos tgl 2/11-2017 ttg masalah kontrak politik dan realisasinya itu:jawapos.com/read/2017/11/0…
Pourquoi @JohnySibuea
9. Dlm berita itu disebutkan “Tuntutan buruh utk kenaikan UMP 2018 hingga Rp. 3,9 Juta , dttpkn Gub Anies hanya sampai angka Rp.3,6 Juta.
Pourquoi @JohnySibuea
10. Ini adalah pernyataan Said Iqbal tentang penetapan UMP 2018 Provinsi DKI itu; pic.twitter.com/HX0GhCosbo
Expand pic
Pourquoi @JohnySibuea
11. Jika dulu KSPI sampai membuat kontrak politik dg Anies, dan Anies melanggarnya, siapa yg paling bersalah dlm hal ini?
Pourquoi @JohnySibuea
12. Hidup adlh pilihan. Saat kita membeli suatu produk yg selalu di-puji2 iklan, siapa yg salah jk kemudian produk itu tdk sesuai harapan?
Pourquoi @JohnySibuea
13. Tentu yang salah adlh kita yang keliru saat membuat keputusan untuk memilih dan membelinya.
Pourquoi @JohnySibuea
14. Bukankah sering kita mendengar nasihat“pikir dulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna”
Pourquoi @JohnySibuea
15. Dan nasihat itu sangat sesuai dengan jargon yang dulu sering ditayangkan pada iklan2 di TV “Teliti sebelum membeli”.
Pourquoi @JohnySibuea
16. Tapi ya sudahlah, konsekuensi dari keputusan thdp pilihan saat pilgub yang lalu, ya hrs ditanggung sekarang ini.
Pourquoi @JohnySibuea
17. Jika banyak janji Gub Anies yg melenceng, ya itu konsekuensi pilihan. Gak usah disesali .
Pourquoi @JohnySibuea
18. Ttg janji UMP itu, mungkin dulu saat kampanye Anies tidak membaca apa itu yang namanya PP 78/2015.
Pourquoi @JohnySibuea
19. Tapi setelah dia menjabat, mungkin Anies ter- kaget2 dg sanksi yang terdapat pada PP 78/2015 : pic.twitter.com/zzmkrfuiN6
Expand pic
Pourquoi @JohnySibuea
20. Walau karena motif kemarahan terhadap Anies, tapi ada suatu pengakuan Said Iqbal yg membandingkan Anies dg Ahok. pic.twitter.com/1ezdN6Odt4
Expand pic
Pourquoi @JohnySibuea
21. Pengakuan itu memang sangat memprihatinkan. Kasihan saja sama Anies, karena pendukungnyapun skrg sdh mengakui kehebatan Ahok.
Pourquoi @JohnySibuea
22. Tapi sekali lagi ya sudahlah, nasi memang sudah jadi bubur. Bukankah bubur kalau dikasih ayam enak juga untuk dimakan?
Pourquoi @JohnySibuea
23. Bagi saya, sekalipun dikasih ayam, bubur tetaplah bubur, karena bubur tidak sama dengan nasi. Bubur tidak pernah mengenyangkan. pic.twitter.com/7hVMsqIY34
Expand pic
Pourquoi @JohnySibuea
24. Karenanya, saya tetap akan menyukai nasi apalagi nasi capcay, sekalipun sekarang ini, tukang masaknya lagi ada di Mako Brimob. pic.twitter.com/ZP4MuKxpQs
Expand pic
Load Remaining (1)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.