2
R. Hanityo @hanityo

Self Proclaimed Alternative Historian, Championship Manager addict,Proud Father of awesome Triplet Boyz.

https://t.co/Qn86PjwrO4
R. Hanityo @hanityo
Baiklah, saya mau ngetweet sejarah Alexis -- dulunya Alexis adalah Hotel Grand Ancol
R. Hanityo @hanityo
Sebelum Alexis naik daun -- one stop male entertainment ada di Jassenburg (skarang Jembatan Batu, deket Stasiun Jakarta Kota).
R. Hanityo @hanityo
Akhir abad ke 17 -- Di Jassenburg banyak rumah2 orang Mestizo (peranakan Portugis & India), wanita Meztizo di Batavia dikenal bohai2
R. Hanityo @hanityo
Yang jago maen gitar --bawain lagu flamenco & keroncong merayu cewe2 Mestizo dgn baju kemben yang suka nongkrong di loteng rumah
R. Hanityo @hanityo
Penyanyi dengan kocokan gitar terkeren biasanya dapet "Cinta Satu Malam" dengan gadis yang berdiri di balkon rumah *ehem*
R. Hanityo @hanityo
Karena kasian sama pemuda2 yang nggak bisa ngegitar dan nyanyi -- seorang pengusaha Tionghoa menangkap peluang -- dia bikin rumah bordil
R. Hanityo @hanityo
karena pasokan Mestizo sedikit, si pengusaha ini mengimpor PSK asal Macau (ada yang Cina,Portugis & peranakan Cina-Portugis)
R. Hanityo @hanityo
Wanita2 ini dikenal dengan nama Macao Po -- yihaa.. kawasan itu lalu dikenal dengan nama Rode Lamp van Batavia tot (Red Light district)
R. Hanityo @hanityo
Karena orang pribumi nggak bisa melafalkan Rode Lamp -- mereka ambil ujungnya aja Batavia Tot -- lalu tinggal Tot doank...
R. Hanityo @hanityo
Contoh kalimat A: "Cuy, mau kemana lo? " B: "Ane mau ke Tot, gan..." A: "Oke dah, ane ngarti"
R. Hanityo @hanityo
Kalo ke Mall disingkat Nge-Mall, latihan di Gym disingkat Nge-Gym, maen ke Tot disingkat Nge-.... (ya diisi sendiri)
R. Hanityo @hanityo
Karena namanya nggak enak didenger -- kawasan itu dirubah nama lagi jadi Gang Mangga -- tenaga PSK diimpor dari mana2 Jawa,Sumatra dsb
R. Hanityo @hanityo
Akhir abad 17 dan awal 18 -- dikenal penyakit mangga (orang Betawi), sakit pehong (orang Tionghoa) -- alias sifilis sodara2
R. Hanityo @hanityo
Itu akhir abad 17 dan awal abad 18 ya. Abad ke-19 One stop male entertainment bergeser ke Petojo dan Sawah Besar
R. Hanityo @hanityo
Sampe akhirnya terkonsentrasi di Ancol, Mabes,Gajahmada/HayamWuruk & Grand Wijaya (Jaksel) sekarang.. sejarahnya ada, tweet menyusul
R. Hanityo @hanityo
Lanjut, rumah bordil di Gang Mangga perlahan2 ditinggalkan pelanggannya -- karena kehadiran rumah2 yang menawarkan PSK + musik hidup
R. Hanityo @hanityo
Kehadiran rumah2 bordil dgn musik hidup itu ada di sepanjang Jembatan Batu sampai Gunung Sari, yang lalu dikenal dgn kawasan Mangga Dua Weg
R. Hanityo @hanityo
Ya musiknya nggak kayak sekarang yg ajeb2 -- musik jaman itu paling cadas ya Keroncong dgn irama cepat (mirip lagu2 Gypsi King)
R. Hanityo @hanityo
Rumah bordil dgn musik pada abad ke-19, dimiliki oleh Oei Tamba Sia -- seorang entrepreneur pada bisnis beginian. Dia berani buka 24 jam
R. Hanityo @hanityo
Mirip kayak Stadium sekarang -- suasananya gelap, musik keroncong mengalun non-stop, liquor banyak, candu apalagi, escort melimpah
R. Hanityo @hanityo
Lanjut lagi, germo terkenal pada awal abad 20 adalah Jeanne Oort (dulunya PSK Bule) yang bekerja di rumah bordil milik Tamba Sia
R. Hanityo @hanityo
armada "nona goela-goela" Jeanne Oort kebanyakan impor dari Eropa, Macau, & Indo-Belanda. Jaman dulu belum ada Uzbek
R. Hanityo @hanityo
anak buah Jeanne Oort yg terkenal adalah : Fientje de Fenicks. Konon, service-nya ruar biasa. Sering dibooking berhari2 oleh pejabat Batavia
R. Hanityo @hanityo
sampe akhirnya si Fientje ini dibunuh oleh pelanggannya yang cemburu. Seorang pejabat pemerintah kota Batavia.
Load Remaining (23)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.