Dulu Pernah “Cinta,” Gambar Langka Poster Ajakan PKS untuk Pilih Pak Jokowi di Pilwakot Solo

Di Pilwakot Solo PKS mendukung Jokowi-Rudy lho.
0
Presiden Runner Up @P3nj3l4j4h

Ini ketika dulu Pak Jokowi belum jadi Anak PKI makanya di dukung PeKaEs.😑 Bisa berubah ya DNA dulu dg skrg.😂 pic.twitter.com/ZkFpj5Cncj

02/10/2017 08:48:08 WIB
Expand pic
Paul Iman Parasi Pandjaitan @IPMANBATAK

@P3nj3l4j4h @4Y4NKZ @PurbaSr @femimoza @triwul82 @CH_chotimah @sewordcom @AdellaWibawa @Aryprasetyo85 @Am0k4 @putri_teratai76 Dlm politik sdh biasa. Mangkanya heran kok msh ada yg "meng-agung2kan" partai politik dan jajaran pengurusnya.

02/10/2017 15:13:52 WIB
mrmnt @zvxbcnvm

@P3nj3l4j4h ah biasa. Dalam politik ga ada musuh ga ada kawan. Pembenci maupun pemuja wajib sadari itu. Kecuali buzzer, krn urusan materi

02/10/2017 19:19:22 WIB

Kemenangan Fenomenal Jokowi-Rudy

Joko Widodo (Jokowi), yang berpasangan dengan FX Hadi Rudyatmo, meraih kemenangan fenomenal dalam Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Solo 2010, 26 April. Keduanya meraup suara 90,09 persen. Berdasarkan catatan pilkada, perolehan suara itu beda sedikit dengan kemenangan pasangan petahana Herman Sutrisno-Akhmad Dimyati di Pilkada Banjar, Kalimantan Selatan, pada 2008, sebesar 92,19 persen.

Pasangan petahana yang terkenal dengan panggilan Jokowi-Rudy ini diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) serta didukung Partai Amanat Nasional dan Partai Keadilan Sejahtera. Pasangan ini hanya kalah di satu tempat pemungutan suara (TPS) dari 932 TPS.

Read more:
http://regional.kompas.com/read/2010/05/21/03402631/Kemenangan.Fenomenal.Jokowi-Rudy

Jokowi-PKS, di Solo Kawan di Jakarta Lawan (Agustus 2012)

Mesra di Solo, tidak di Jakarta. Kini secara terang-terangan Hidayat Nur Wahid dan PKS mendukung Fauzi Bowo untuk mengalahkan Jokowi-Ahok dalam perebutan kursi DKI 1. Mengantongi suara kisaran 10 persen pada Pilgub DKI Jakarta putaran pertama, PKS memberikannya kepada Foke dengan sejumlah \\'mahar\\'.

\\"Pertimbangan putaran kedua ini bukan masalah agama tapi terkait dengan kepastian kemampuan mereka untuk mengakomodasi program kerja yang kami perjuangkan pada waktu pilgub,\\" ujar Hidayat usai jumpa pers PKS dalam mendukung pasangan Foke-Nara di Kantor DPP PKS Jl TB Simatupang, Jakarta, Sabtu (11\/8\/2012).

Lalu apa kata Jokowi atas perubahan peta politik ini?

\\"Ya nggak apa-apa. Mereka punya hak untuk memilih,\\" ujar Jokowi di sela-sela acara silahturahmi dengan para pedagang di Pasar Tanah Abang, Jakarta

Read more:
https://m.detik.com/news/berita/1989197/jokowi-pks-di-solo-kawan-di-jakarta-lawan

Kompasianer Ungkap Mengapa PKS Begitu Membenci Jokowi (Desember 2015)

Tulisan dipublikasikan atas nama Sint Jan yang dipublikasikan 2 Agustus 2014 dan diperbarui 18 Juni 2015. Penulis mensinyalir hal itu terjadi pada pemilihan Gubernur DKI 2012. Saat itu PKS mengusung calon sendiri Hidayat Nurwahid (HNW).
“PKS sebenarnya sudah memiliki rencana jangka panjang, dengan HNW sebagai gubernur DKI, maka jalan untuk memenangkan pemilu akan semakin mulus, apalagi dengan sokongan Jabar dan daerah lainnya.” tulisnya.
Sayangnya mimpi PKS itu tak terwujud. Pasangan Jokowi-Ahok yang diusung PDIP-Gerindra memenangkan Pilgub dengan raihan 42% jauh meninggalkan HNW-Didik Rachbini hanya mampu meraup 12%. Padahal DKI Jakarta adalah basis PKS di Pemilu 2009.

Menurut penulis beberapa penyebab kebencian PKS terhadap Jokowi, pertama karena Jokowi menghalangi niat PKS untuk menguasai Jakarta dan Indonesia. Kedua, Jokowi tidak menanggapi permintaan mahar dari PKS Menjelang Pilpres 2014 terjadi peristiwa penting yaitu ditangkapnya LHI oleh KPK terkait kasus korupsi daging.
“Peristiwa ini sangat mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap PKS sehingga partai itu seringkali diidentikan dengan "sapi". Berbeda dengan sikap partai-partai lainnya yang seringkali tidak melawan tindakan KPK, PKS secara lantang menuduh terjadinya konspirasi di balik tindakan tersebut. Hingga saat ini, tokoh PKS seperti Fahri Hamzah terus menyuarakan pelemahan atau pembubaran KPK yang dianggapnya telah mencoreng nama baik PKS. Fahri mungkin lupa kalau lebih banyak masyarakat yang bersimpati terhadap KPK daripada PKS. Akibatnya kepercayaan masyarakat terhadap PKS semakin melemah. Simpatisan non kader yang tadinya mempercayai kebersihan PKS mulai merasa ragu dan mencari tokoh lain yang dianggap bersih,” tulisnya.
Dia menambahkan, Kemenangan Jokowi di Pilpres merupakan mimpi buruk bagi kader PKS. “Kenyataan ini mengganggu keimanan mereka karena selama ini mereka percaya Tuhan selalu berada di pihaknya. Akibatnya hingga sekarang masih banyak kita temukan kader PKS yang menyuarakan sumpah serapah terhadap Jokowi. Mereka lupa kalau PKS merupakan bagian dari sistem demokrasi dan harus menerima segala keputusan yang dihasilkan sistem itu. Di tingkat elite, kemenangan Jokowi akan menyulitkan pembiayaan mesin partai. Tanpa menteri di pemerintahan, kas PKS akan berkurang.”

Read more:
http://makassar.tribunnews.com/amp/2015/12/17/kompasianer-ungkap-mengapa-pks-begitu-membenci-jokowi

Comment

No comments yet. Write yours!