1
Login and hide ads.
Rachland Nashidik @RachlanNashidik 16/08/2017 06:27:06 WIB
Bila Pancasila buah pikiran Soekarno, etisnya tak boleh anaknya sendiri jadi kepala lembaga negara penafsir Pancasila. Conflict of interest.
Rachland Nashidik @RachlanNashidik 16/08/2017 06:48:23 WIB
Pancasila jangan jatuh pada piramida penafsiran yang puncaknya dikuasai subyektivitas politik berbasis klaim biologis sebagai anak Soekarno.
Rachland Nashidik @RachlanNashidik 16/08/2017 06:54:50 WIB
Apakah Pancasilais: Megawati jadi Kepala Pengarah lembaga pemerintah penafsir Pancasila cuma lantaran ia anak Soekarno?
Rachland Nashidik @RachlanNashidik 16/08/2017 07:12:54 WIB
Memilih Kepala Pengarah lembaga penafsir Pancasila atas dasar klaim biologis adalah sangat feodalistik. Padahal Pancasila milik publik.
Rachland Nashidik @RachlanNashidik 16/08/2017 07:28:26 WIB
Megawati bukan cuma anak biologis Soekarno. Ia juga Ketua Umum Parpol. Pancasila jangan jatuh nilainya jadi klaim politik elektoral semata.
Rachland Nashidik @RachlanNashidik 16/08/2017 07:41:01 WIB
Megawati, lewat Jokowi, resmikan 1 Juni hari lahir Pancasila. Kini, lewat Jokowi pula, ia jadi kepala pengarah lembaga penafsir Pancasila.
Rachland Nashidik @RachlanNashidik 16/08/2017 07:51:08 WIB
Pada dua momen politik tadi, tak nampak otonomi Jokowi sebagai Presiden. Yang nampak: upaya Mega membesarkan foto Soekarno di album sejarah.
Rachland Nashidik @RachlanNashidik 16/08/2017 08:19:32 WIB
Bila anak Soekarno, Ketum Parpol, jadi Kepala Pengarah Pancasila, apa nasib Pancasila saat keperluan elektoral tiba? Masih mempersatukan?
Rachland Nashidik @RachlanNashidik 16/08/2017 08:50:14 WIB
Pada titik ini sahih bertanya: apa dasar kampanye pemerintah, "Saya Indonesia, Saya Pancasila", itu? Keperluan elektoral semata?
Rachland Nashidik @RachlanNashidik 16/08/2017 10:27:31 WIB
Ini nasib Pancasila saat keperluan ekektoral tiba? "Saya Pancasila, saya Megawati!". Begitu? pic.twitter.com/qrTB78s6YB
 Expand pic

All Categories

Category related to Public Policy

Login and hide ads.